<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Anatomy, Phisiology and Pharmacology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/117" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/117</id>
<updated>2026-08-07T23:07:12Z</updated>
<dc:date>2026-08-07T23:07:12Z</dc:date>
<entry>
<title>Katuk Depolarisasi sebagai Feed Additive dalam Meningkatkan Palatabilitas dan Pertumbuhan Ayam Broiler</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177574" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mahira, Khansa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177574</id>
<updated>2026-08-07T04:06:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Katuk Depolarisasi sebagai Feed Additive dalam Meningkatkan Palatabilitas dan Pertumbuhan Ayam Broiler
Mahira, Khansa
Tepung daun katuk depolarisasi (TKD) telah digunakan pada ruminansia sebagai alternatif feed additive alami, namun belum digunakan pada ayam broiler mengingat palatabilitas yang masih rendah. Penelitian ini bertujuan mengukur palatabilitas TKD pada berbagai formula pemikat dan persentase TKD terhadap pertumbuhan ayam broiler. 16 ekor ayam dipelihara selama 4 minggu dan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan, yaitu: kelompok kontrol positif (pakan komersial), F1 (TKD+5% tepung kedelai+10% tepung ikan), F2 (TKD+10% tepung kedelai+ 5% tepung ikan), dan F3 (TKD). Setiap kelompok dipuasakan selama 2 jam sebelum diberikan pakan perlakuan ad libitum, kemudian dilakukan pengukuran konsumsi pakan. Pada kelompok ayam yang sama, dilakukan pengukuran pertumbuhan ayam broiler dengan kelompok perlakuan TKD 0%, TKD 5%, TKD 6%, dan TKD 7% dalam pakan komersial. Uji palatabilitas menunjukkan bahwa formula pemikat dalam TKD yaitu 10% tepung kedelai dan 5% tepung ikan (F2) memiliki nilai palatabilitas tertinggi secara nyata (p&lt;0,05) dengan rata-rata konsumsi pakan yang lebih tinggi (3,11 g/ekor/jam) dibanding kelompok F1 (1,63 g/ekor/jam) dan F3 (1,13 g/ekor/jam). Pertumbuhan optimal ayam broiler tercapai pada minggu ke-4 dengan TKD 6% dan 7% dalam pakan komersial menghasilkan bobot badan rata-rata masing-masing yaitu 1578 g/ekor dan 1594,25 g/ekor. TKD 6% dan 7% berpotensi sebagai feed additive alami untuk ayam broiler.; Depolarized katuk leaf (TKD) already used in ruminants as a natural alternative feed additive, but it hasn’t been used in broiler due to the low palatability. This study aimed to measure the palatability of TKD with various attractant formulas and the effect of TKD percentage on broiler growth. 16 broiler were reared for 4 weeks and divided into 4 groups: positive control group (commercial feed), F1 (TKD+5% soybean meal+10% fish meal), F2 (TKD+10% soybean meal+5% fish meal), and F3 (TKD). Each group was fasted for 2 hours before being fed the treatment feeds ad libitum, followed by feed intake measurement. Using the same groups, broiler growth was measured across treatment groups of TKD 0%, TKD 5%, TKD 6%, and TKD 7% in commercial feed. The palatability test showed that the attractant formula, 10% soybean meal and 5% fish meal (F2) had higher palatability (p&lt;0,05) with a higher average feed intake (3.11 g/bird/hour) compared to F1 (1.63 g/bird/hour) and F3 (1.13 g/bird/hour). Optimal broiler growth was achieved at week 4 with TKD 6% and 7% in commercial feed producing average body weights of 1578 g/bird and 1594,25 g/bird. TKD 6% and 7% shows potential as a natural feed additive for broiler.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Karakterisasi Citra Radiografi Kontras Implan Hormon Intravaginal Terbiodegradasi secara In Vitro dan In Vivo pada Domba Garut</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177566" rel="alternate"/>
<author>
<name>Damayanti, Zulfa Adinda</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177566</id>
<updated>2026-08-07T03:37:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Karakterisasi Citra Radiografi Kontras Implan Hormon Intravaginal Terbiodegradasi secara In Vitro dan In Vivo pada Domba Garut
Damayanti, Zulfa Adinda
Peningkatan permintaan domba mendorong pengembangan teknologi reproduksi yang lebih efisien, salah satunya melalui penggunaan implan hormon intravaginal terbiodegradasi sebagai sistem sinkronisasi estrus tanpa proses pencabutan setelah penggunaan. Penelitian ini bertujuan menilai proses biodegradasi implan hormon intravaginal melalui karakterisasi citra radiografi dengan penambahan kontras iopamidol secara in vitro dan in vivo pada domba Garut. Pengujian in vitro dilakukan melalui perendaman implan pada media NaCl 0,9% selama 9 hari, sedangkan pengujian in vivo dilakukan dengan pengambilan citra radiografi bagian pelvis domba. Hasil in vitro menunjukkan terjadinya perubahan dimensi dan bobot, serta penurunan densitas radiografi implan seiring larutnya bahan kontras ke cairan supernatan, dengan formulasi implan multihormone (P4-P4-PGF2a) berlapis ganda kombinasi polimer polikaprolakton (PCL), polietilen glikol (PEG), dan kitosan memiliki stabilitas paling baik dibandingkan formulasi lainnya. Hasil in vivo menunjukkan bahwa implan mengalami penurunan visibilitas radiografi seiring waktu, dengan formulasi implan multihormone memiliki visibilitas radiografi yang paling jelas hingga hari ke-9. Penambahan bahan kontras iopamidol memungkinkan pemantauan biodegradasi implan hormon intravaginal secara radiografis, dengan formulasi implan multihormone (P4-P4-PGF2a) berlapis ganda PCL-PEG-kitosan menunjukkan stabilitas dan visibilitas radiografi paling baik selama pengujian in vitro dan in vivo.; The increasing demand for sheep has encouraged the development of more efficient reproductive technologies, one of which is the use of biodegradable intravaginal hormone implants as an estrus synchronization system that eliminates the need for implant removal after use. This study aimed to evaluate the biodegradation process of intravaginal hormone implants through radiographic image characterization using the addition of the contrast agent iopamidol under both in vitro and in vivo conditions in Garut sheep. The in vitro evaluation was conducted by immersing the implants in 0.9% NaCl solution for nine days, while the in vivo evaluation was performed by acquiring radiographic images of the pelvic region of the sheep. The in vitro results demonstrated changes in implant dimensions and weight, as well as a decrease in radiographic density over time due to the dissolution &#13;
of the iopamidol contrast agent into the supernatant. The doublelayer-coated multihormone implant formulation (P4-P4-PGF2a) with polycaprolactone (PCL), polyethylene glycol (PEG), and chitosan exhibited the highest stability compared with the other formulations. The in vivo results showed a gradual reduction in implant radiographic visibility over time, with the multihormone implant &#13;
formulation maintaining the clearest radiographic visibility up to day 9. The addition of the iopamidol contrast agent enabled radiographic monitoring of intravaginal hormone implant biodegradation, while the doublelayer-coated multihormone implant formulation (P4-P4-PGF2a) containing PCL, PEG, and chitosan demonstrated the greatest stability and radiographic visibility throughout both the in vitro and in vivo evaluations.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Evaluation of the Antipyretic Potential of Leek (Allium ampeloprasum) Infusion</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176976" rel="alternate"/>
<author>
<name>FAIZI, NABIL NAJWAN BIN KHAIROL</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176976</id>
<updated>2026-08-04T01:45:04Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Evaluation of the Antipyretic Potential of Leek (Allium ampeloprasum) Infusion
FAIZI, NABIL NAJWAN BIN KHAIROL
Fever is a physiological condition or response to infection or inflammation characterized by an increase in body temperature. Paracetamol is the most common antipyretic but has adverse effects, prompting interest in herbal alternatives. Leeks possess various health benefits, yet antipyretic studies remain limited. This study investigates the presence of secondary metabolites of leek infusion and evaluates the antipyretic effect of leek infusion in rats (Rattus norvegicus). Methods included phytochemical screening and antipyretic in vivo testing, with fever induced by 5% peptone. Treatment groups received aquadest, paracetamol, and leek infusions at 10%, 20%, and 40% concentrations (2 mL each). Rectal temperatures were measured at 0, 15, 30, 60, 90, 120, 150, and 180 minutes, and analyzed using Kruskal-Wallis and Dunn’s post-hoc tests. Phytochemical analysis revealed the presence of saponins. Paracetamol and all leek concentrations reduced fever, with 20% infusion as the most effective. In conclusion, leek infusion demonstrates antipyretic activity in rats, with 20% concentration proving most effective.; Demam merupakan respons fisiologis terhadap infeksi atau inflamasi yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh. Parasetamol merupakan antipiretik yang paling umum digunakan, namun memiliki efek samping sehingga perlu dilakukan pencarian alternatif antipiretik berbahan herbal. Daun bawang memiliki berbagai manfaat kesehatan, tetapi penelitian mengenai aktivitas antipiretiknya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metabolit sekunder infusa daun bawang serta mengevaluasi efek antipiretik infusa daun bawang pada tikus (Rattus norvegicus). Metode penelitian meliputi uji fitokimia dan uji in vivo antipiretik, dengan induksi demam menggunakan peptone 5%. Kelompok perlakuan diberikan akuades, parasetamol, dan infusa daun bawang dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 40% (masing-masing 2 mL). Suhu rektal diukur pada menit ke-0, 15, 30, 60, 90, 120, 150, dan 180, kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan uji lanjut Dunn. Hasil analisis fitokimia menunjukkan adanya senyawa saponin. Seluruh konsentrasi  infusa daun bawang maupun parasetamol mampu menurunkan suhu tubuh, dengan infusa konsentrasi 20% yang menunjukkan penurunan suhu yang paling besar. Kesimpulannya, infusa daun bawang memiliki aktivitas antipiretik pada tikus, dengan konsentrasi 20% sebagai konsentrasi yang paling efektif.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Uji Toksisitas Akut Kombinasi Infusa Bunga Telang dan Lidah Buaya pada Mencit Betina</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176717" rel="alternate"/>
<author>
<name>SALSABILLAH, NAYLA AISY</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176717</id>
<updated>2026-07-31T11:40:15Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Uji Toksisitas Akut Kombinasi Infusa Bunga Telang dan Lidah Buaya pada Mencit Betina
SALSABILLAH, NAYLA AISY
Bunga telang (Clitoria ternatea) serta lidah buaya (Aloe vera) dikenal karena&#13;
aktivitas farmakologisnya sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Tetapi, aspek&#13;
keamanan penggunaan kombinasi keduanya perlu dipastikan melalui uji toksisitas&#13;
akut. Penelitian ini bertujuan menilai keamanan kombinasi infusa bunga telang dan&#13;
lidah buaya dengan rasio 1:1 serta menentukan nilai Lethal Dose 50 (LD50) pada&#13;
mencit betina. Sebanyak 20 ekor mencit betina galur ddY dibagi menjadi lima&#13;
kelompok. Kelompok 1 sebagai kontrol negatif (akuades), sedangkan kelompok 2,&#13;
3, 4, dan 5 diberikan kombinasi infusa dengan dosis masing-masing 1, 5, 10, dan 15&#13;
g/kg BB secara peroral. Pengamatan dilakukan selama 14 hari meliputi mortalitas,&#13;
gejala klinis, respons fisiologis, bobot badan, serta makroanatomi organ. Hasil&#13;
menunjukkan tidak ada mortalitas maupun gejala toksisitas signifikan pada seluruh&#13;
kelompok perlakuan hingga dosis tertinggi. Analisis statistik menunjukkan tidak&#13;
ada perbedaan nyata (p&gt;0,05) pada bobot badan, respons fisiologis, serta bobot&#13;
absolut dan relatif organ vital dibandingkan kelompok kontrol. Pengamatan&#13;
makroanatomi juga menunjukkan organ dengan ketampakan normal. Kesimpulan&#13;
penelitian ini adalah kombinasi infusa bunga telang dan lidah buaya dikategorikan&#13;
sebagai bahan yang praktis tidak toksik dengan nilai LD50&gt;15 g/kg BB.; Butterfly pea flower (Clitoria ternatea) and aloe vera (Aloe vera) are known for their&#13;
pharmacological activities as antioxidants and anti-inflammatory agents. However, the&#13;
safety of their combined use needs to be confirmed through acute toxicity testing. This&#13;
study aimed to assess the safety and determine the LD50 value of a 1:1 combination&#13;
infusion of butterfly pea flower and aloe vera in female mice. Twenty female ddY mice&#13;
were divided into five groups. Group 1 served as the negative control (distilled water),&#13;
while groups 2, 3, 4, and 5 received oral doses of 1, 5, 10, and 15 g/kg BW, respectively.&#13;
Observations were conducted for 14 days, including mortality, clinical signs,&#13;
physiological responses, body weight, and organ macroanatomy. The results showed&#13;
no mortality or significant toxic symptoms in all treatment groups up to the highest dose.&#13;
Statistical analysis indicated no significant differences (p&gt;0,05) in body weight,&#13;
physiological responses, or absolute and relative organ weights compared to the control&#13;
group. Gross anatomy observations also showed normal organ appearance. Therefore,&#13;
the combination infusion is categorized as practically non-toxic with an LD50 value &gt;15&#13;
g/kg BW.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
