<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/115</id>
<updated>2026-04-09T21:08:38Z</updated>
<dc:date>2026-04-09T21:08:38Z</dc:date>
<entry>
<title>Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851" rel="alternate"/>
<author>
<name>Suryadi, Widyastuti Pratiwi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172851</id>
<updated>2026-03-27T02:53:13Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Produksi Embrio In Vivo Pada Kuda: Kajian Terhadap Waktu Koleksi Embrio dan Pemberian Hormon Oksitosin
Suryadi, Widyastuti Pratiwi
Praktik pengembangbiakan kuda di Indonesia masih sebatas perkawinan alam&#13;
dan inseminasi buatan (IB). Teknologi reproduksi berbantu Transfer Embrio (TE)&#13;
menjadi strategi peningkatan efisiensi reproduksi dibandingkan dengan perkawinan&#13;
alam dan IB. Prosedur TE memungkinkan untuk dihasilkannya lebih dari satu&#13;
anakan kuda dalam satu tahun dari seekor betina unggul dan untuk mempertahankan&#13;
genetik unggul tersebut tanpa mengganggu performa betina atlet. Tujuan dari&#13;
penelitian ini untuk menganalisis potensi pengembangan produksi embrio in vivo&#13;
pada kuda di Indonesia berdasarkan perbedaan waktu koleksi embrio, pemberian&#13;
oksitosin pada koleksi embrio dan durasi perkembangan folikel dominan terhadap&#13;
recovery rate embrio.&#13;
Penelitian ini dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi, Sekolah Kedokteran&#13;
Hewan dan Biomedis IPB dari Januari 2024 hingga Maret 2025. Metode penelitian&#13;
yang dilakukan meliputi seleksi betina donor embrio berdasarkan pemeriksaan fisik&#13;
dan aktivitas ovarium, sinkronisasi estrus, IB dan koleksi embrio menggunakan&#13;
prosedur flushing uterus. Koleksi embrio dilakukan pada hari ke 5, 6 dan 7 pasca&#13;
ovulasi. Tidak ada embrio yang berhasil dikoleksi pada kelompok hari ke-5. Koleksi&#13;
embrio pada hari ke 6 dan 7 masing-masing memiliki recovery rate embryo 66.7%&#13;
yaitu early blastocyst pada hari ke-6 dan blastosis pada hari ke-7. Donor embrio&#13;
yang memiliki durasi perkembangan folikel dominan =4 hari memberikan hasil yang&#13;
lebih baik terhadap recovery rate embrio. Pemberian oksitosin maupun tanpa&#13;
oksitosin tidak berpengaruh nyata terhadap recovery rate embrio pada penelitian ini.&#13;
Kelompok betina yang mengalami gangguan reproduksi pada proses penelitian tidak&#13;
berhasil untuk menghasilkan embrio meskipun koleksi embrio dilakukan pada hari&#13;
ke-6 dan ke-7. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai recovery&#13;
rate embrio dipengaruhi oleh penentuan waktu koleksi yang tepat, dinamika folikel&#13;
dan kondisi uterus yang optimal.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115" rel="alternate"/>
<author>
<name>Setiandri, Qiara Jasmine</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172115</id>
<updated>2026-01-15T22:56:27Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Peranti Mikrofluida Kain Katun Berbasis Uji Mastitis California untuk Mendeteksi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah
Setiandri, Qiara Jasmine
Mastitis merupakan peradangan kelenjar ambing yang bersifat kompleks. Mastitis subklinis tidak menunjukkan perubahan pada ambing serta susu yang dihasilkan sehingga sulit untuk dideteksi. Namun, mastitis subklinis menyebabkan kerugian karena menyebabkan terjadinya penurunan produksi dan kualitas susu. Mastitis subklinis dapat dideteksi dengan melakukan monitoring jumlah sel somatik (JSS) yang hanya dapat dilakukan di laboratorium dan membutuhkan keahlian sehingga tidak praktis dilakukan di lapang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan perangkat mikrofluida berbahan kain katun sebagai alat deteksi mastitis subklinis yang lebih sederhana, cepat, dan ekonomis.  Matriks kain katun diberi perlakuan berbeda, dilapisi reagen California mastitis test (CMT), dan dipasangi conjugate pad untuk memfasilitasi pewarnaan sampel. Sampel susu sehat, mastitis subklinis, dan mastitis klinis diuji untuk mengamati pola rembesan plasma dan koagulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kain katun yang dicuci dua kali memiliki laju perembesan yang paling baik, perbedaan JSS memengaruhi reaksi koagulasi serta jarak tempuh rembesan, di mana susu sehat memiliki jarak rembesan paling jauh dan mastitis subklinis paling pendek. Nilai Limit of Detection (LoD) dan Limit of Quantification (LoQ) menunjukkan kemampuan perangkat dalam mendeteksi variasi koagulasi pada sampel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perangkat mikrofluida berbahan kain katun dengan reagen CMT mampu mendeteksi mastitis subklinis dalam waktu 60 detik dan berpotensi digunakan sebagai alat diagnostik di lapangan yang praktis dan murah.; Mastitis is a complex inflammation of the mammary gland. Subclinical mastitis does not cause visible changes in the udder or in the milk produced, making it difficult to detect. However, subclinical mastitis resulting in economic losses due to reduced milk production and quality. Subclinical mastitis can be detected by monitoring somatic cell count (SCC) that can only be performed in the laboratory and requires technical expertise, making it impractical for field use. This study aimed to develop a cotton-based microfluidic device as a simpler, faster, and more economical tool for detecting subclinical mastitis. The cotton matrices were subjected to different treatments, coated with California Mastitis Test (CMT) reagent, and equipped with a conjugate pad to facilitate sample staining. Milk samples from healthy, subclinical and clinical mastitis cows were tested to observe plasma and coagulum wicking patterns. The results showed that the fabric that washed twice has the best permeation rate, the differences in SCC affected coagulation reactions and wicking distances, with healthy milk exhibiting the longest wicking distance and subclinical mastitis the shortest. The Limit of Detection (LoD) and Limit of Quantification (LoQ) demonstrated the device’s ability to detect variations in sample coagulation. This study concludes that the cotton-based microfluidic device with CMT reagent can detect subclinical mastitis within 60 seconds and has strong potential for use as a practical and low-cost field diagnostic tool.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Faktor-Faktor yang Memengaruhi Nilai Calf Crop Sapi Potong Di Peternakan Lembu Prima Perkasa</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171157" rel="alternate"/>
<author>
<name>Suhirman, Syauqi Ananda</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171157</id>
<updated>2025-09-23T00:11:20Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Faktor-Faktor yang Memengaruhi Nilai Calf Crop Sapi Potong Di Peternakan Lembu Prima Perkasa
Suhirman, Syauqi Ananda
Permintaan masyarakat terhadap daging sapi terus meningkat seiring dengan pertambahan populasi dan konsumsi protein hewani. Hal ini mendorong berkembangnya pemeliharaan sapi potong secara intensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi nilai calf crop sapi potong pada peternakan PT. Lembu Prima Perkasa. Data yang digunakan berupa data sekunder inseminasi buatan (IB), kelahiran, dan kematian pedet selama periode sepuluh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase calf crop tertinggi terjadi pada tahun 2020 sebesar 100%, sedangkan nilai terendah ditemukan pada tahun 2018 sebesar 55%, dengan rata-rata selama sepuluh tahun sebesar 82%. Faktor utama yang memengaruhi nilai calf crop meliputi kegagalan bunting (74%), abortus (16%), dan kematian pedet baru lahir (6%). Penyakit yang paling sering menyebabkan kematian pedet adalah pneumonia dan diare, diikuti oleh hairball, cedera akibat terinjak induk, kelemahan, frothy bloat, asidosis, serta koksidiosis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai calf crop di peternakan PT. Lembu Prima Perkasa relatif mendekati nilai minimum yang dianjurkan, sehingga diperlukan upaya perbaikan manajemen reproduksi dan kesehatan pedet untuk meningkatkan produktivitas.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hubungan Curah Hujan dengan Indeks Stres dan Kualitas Semen Domba pada Musim Hujan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171141" rel="alternate"/>
<author>
<name>Syakira, Adiba Fairuz</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171141</id>
<updated>2025-09-19T08:29:19Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hubungan Curah Hujan dengan Indeks Stres dan Kualitas Semen Domba pada Musim Hujan
Syakira, Adiba Fairuz
Domba merupakan ruminansia kecil yang berpotensi tinggi dalam pemenuhan protein hewani di Indonesia. Namun, faktor lingkungan seperti curah hujan dapat menimbulkan stres fisiologis yang akhirnya memengaruhi kesehatan ternak dan reproduksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan curah hujan dengan rasio neutrofil/limfosit (N/L) sebagai parameter indeks stres dan kualitas semen pada domba. Penelitian dilakukan pada empat ekor domba jantan dewasa selama Desember 2024 hingga April 2025. Parameter yang diamati meliputi curah hujan (CH), rasio N/L, dan parameter kualitas semen meliputi volume semen, motilitas progresif (%M), konsentrasi, viabilitas (%V) dan abnormalitas (%Abn). Data rasio N/L dan kualitas semen diambil sebanyak 9 ulangan. Semua parameter dianalisis deskriptif dan dilakukan uji korelasi dan regresi. Hasil menunjukkan bahwa CH selama periode penelitian adalah termasuk musim hujan, profil diferensial leukosit termasuk normal dan kualitas semen adalah baik. Hasil analisis menyatakan bahwa CH berkorelasi negatif kuat dan berpengaruh tidak signifikan (p&gt;0,05) terhadap rasio N/L dan %V; berkorelasi sangat kuat dan berpengaruh signifikan terhadap volume semen dan konsentrasi spermatozoa; berkorelasi negatif sangat kuat dan berpengaruh signifikan terhadap %M; serta berkorelasi lemah dan berpengaruh tidak signifikan terhadap %Abn. Disimpulkan bahwa pada musim hujan, curah hujan tidak memengaruhi level stres, namun memengaruhi kualitas semen domba.; Ram are small ruminants that have high potential in fulfilling animal protein needs in Indonesia. However, environmental factors such as rainfall can cause physiological stress that ultimately affects the animal health and reproduction. The study aims to analyze the correlation between rainfall and the neutrophil/lymphocyte ratio (N/L) as a parameter of stress index and semen quality in rams. The study was conducted on four rams from December 2024 to April 2025. The parameters observed included rainfall (CH), N/L ratio, and semen quality parameters such as semen volume, progressive motility (%M), sperm concentration, sperm viability (%V), and sperm abnormality (%Abn). Data on the N/L ratio and semen quality were collected in nine replicates. All parameters were analyzed descriptively, and then subjected to correlation and regression tests. The results showed that CH during the study period was within the rainy season, leukocyte differentiation profiles were normal, and semen quality was good. The analysis results indicated that CH had a strong negative correlation but no significant effect (p&gt;0.05) on the N/L ratio and %V; a very strong correlation and significant effect on semen volume and concentration; a very strong negative correlation and significant effect on %M; and a weak correlation and no significant effect on %Abn. It is concluded that during the rainy season, rainfall does not significantly affect stress levels, but affects the quality of ram semen.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
