<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Aquaculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114</id>
<updated>2026-07-08T04:30:54Z</updated>
<dc:date>2026-07-08T04:30:54Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Kelayakan Lokasi Budidaya Pembenihan Ikan Air Tawar di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174173" rel="alternate"/>
<author>
<name>Mutiara, Bunga Wahyu</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174173</id>
<updated>2026-07-07T11:51:52Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Kelayakan Lokasi Budidaya Pembenihan Ikan Air Tawar di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor
Mutiara, Bunga Wahyu
Lokasi penelitian di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor memiliki luas 5,6 hektare, luas lahan tersebut akan dijadikan untuk pembangunan kolam budidaya segmentasi pembenihan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kelayakan lokasi budidaya segmentasi pembenihan berdasarkan kualitas air dan tanah di Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Pengambilan serta pengukuran sampel air dilakukan secara langsung (in situ) dan juga tidak langsung (ex situ) pada titik pengambilan sampel air sejumlah tujuh titik. Selain itu dilakukan juga pengambilan serta pengukuran sampel tanah, pemetaan menggunakan GPS. Analisis data kelas kesesuaian lahan dengan metode skoring dilakukan pada hasil kualitas air dan kualitas tanah. Analisis kualitas air dan kesesuaiannya dilakukan pada ikan nila, mujair, mas, lele, dan patin. Analisis kesesuaian menunjukkan bahwa perairan Desa Tegal paling mendukung pembenihan ikan lele dengan dua lokasi mencapai kelas S1 (IK 87,8–90,0%). Ikan patin umumnya kelas S2 (IK 75,6–84,4%), diikuti dengan ikan nila S3 pada empat lokasi (IK 71,1–74,4%), dan S2 pada 2 lokasi (IK 76,7–83,3%). Ikan mas memiliki kesesuaian terendah, hampir seluruh lokasi kelas S3 (IK 68,8–73,3%). Perbedaan ini terutama dipengaruhi oleh kebutuhan oksigen terlarut, pH, dan TAN. Lokasi kelas S3 memerlukan perbaikan kualitas air melalui aerasi serta treatment khusus agar kesesuaiannya meningkat. Hasil kelas kesesuaian tanah termasuk ke dalam kategori S2 (Cukup Sesuai) untuk T1 dan T2, serta kategori S3 (Sedikit Sesuai) untuk T3 dan T4. Berdasarkan kualitas tanah ini disarankan dilakukan pembuatan kolam beton, kolam HDPE, ataupun kolam terpal untuk pembangunan lokasi pembenihan/hatchery.; The research site located in Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, covers an area of 5.6 hectares designated for the development of hatchery-segment aquaculture ponds. This study aimed to analyze the site suitability for hatchery-segment aquaculture based on water and soil quality in Desa Tegal, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Water sampling and measurement were conducted both in situ and ex situ at seven sampling points. Soil sampling and measurement, as well as GPS-based mapping, were also carried out. Land suitability class analysis using a scoring method was applied to the water and soil quality data. Water quality analysis and suitability assessment were performed for Nile tilapia (Oreochromis niloticus), Mozambique tilapia (O. mossambicus), common carp (Cyprinus carpio), catfish (Clarias sp.), and pangasius (Pangasius sp.). Suitability analysis revealed that the waters of Desa Tegal are most suitable for catfish hatchery operations, with two locations achieving S1 class (Suitability Index, SI: 87.8–90.0%). Pangasius generally fell into S2 class (SI: 75.6–84.4%), followed by Nile tilapia with S3 class at four locations (SI: 71.1–74.4%) and S2 class at two locations (SI: 76.7–83.3%). Common carp exhibited the lowest suitability, with nearly all locations classified as S3 (SI: 68.8–73.3%). These differences were primarily attributed to variations in dissolved oxygen requirements, pH, and total ammonia nitrogen (TAN). Locations classified as S3 require water quality improvement through aeration and specific treatments to enhance suitability. Soil suitability results indicated S2 class (Moderately Suitable) for T1 and T2, and S3 class (Marginally Suitable) for T3 and T4. Based on these soil quality findings, the construction of concrete ponds, high-density polyethylene (HDPE) ponds, or tarpaulin ponds is recommended for hatchery facility development at this site.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Penambahan Enzim Papain pada Pakan terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174108" rel="alternate"/>
<author>
<name>R, Indah Feronika.</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174108</id>
<updated>2026-07-06T23:40:14Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Penambahan Enzim Papain pada Pakan terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Bawal Air Tawar (Colossoma macropomum)
R, Indah Feronika.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan dosis terbaik dengan penambahan &#13;
enzim papain pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan ikan bawal air tawar &#13;
(Colossoma macropomum). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap &#13;
dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pakan yang ditambahkan enzim &#13;
papain sebanyak 0, 1,5, 3, 4,5, dan 6 g kg-1 pakan. Pakan uji yang digunakan yaitu &#13;
pakan komersial dibuat menggunakan metode repelleting dengan kandungan &#13;
protein min 30%, lemak min 5%, serat kasar maks 8%, kadar abu maks 13% dan &#13;
kadar air maks 12%. Ikan yang digunakan yaitu ikan bawal air tawar dengan bobot &#13;
rata-rata 4,21±0,01 g sebanyak 10 ekor akuarium-1. Ikan dilakukan aklimatisasi &#13;
selama 7 hari di wadah berukuran 100 × 50 × 45 cm, lalu ditebar di wadah &#13;
pemeliharaan yang berukuran 60 × 40 × 35 cm selama 60 hari. Metode pemberian &#13;
pakan secara at satiation dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari pada &#13;
pukul 07.00 dan 19.00 WIB. Hasil penelitian menunjukkan penambahan enzim &#13;
papain menunjukkan hasil yang berbeda nyata (P&lt;0,05) dengan dosis terbaik pada &#13;
perlakuan 1,5 g kg-1 pakan.; This study aims to obtain the best dose by adding papain enzyme to the feed on the growth performance of freshwater pomfret (Colossoma macropomum). The study used a completely randomized design with five treatments and three replications. The feed treatments added papain enzyme were 0, 1,5, 3, 4,5, and 6 g kg-1 feed. The test feed used was commercial feed made using the repelleting method with a minimum protein content of 30%, minimum fat of 5%, maximum crude fiber of 8%, maximum ash content of 13% and maximum water content of 12%. The fish used were freshwater pomfret with an average weight of 4.21±0.01 g as many as 10 fish aquarium-1. The fish were acclimatized for 7 days in a container measuring 100 × 50 × 45 cm, then spread in a maintenance container measuring 60 × 40 × 35 cm for 60 days. The feeding method was at satiation with a feeding frequency of twice a day at 07.00 and 19.00 WIB. The results showed that the addition of papain enzyme showed significantly different results (P&lt;0.05) with the best dose in the treatment of 1,5 g kg-1 feed.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Lama Waktu Transportasi yang Berbeda pada Ikan Lele (Clarias sp.) Ukuran Siap Tebar dengan Sistem Waterless</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174103" rel="alternate"/>
<author>
<name>Agustin, Agnes Yanuarika</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174103</id>
<updated>2026-07-06T08:53:11Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Lama Waktu Transportasi yang Berbeda pada Ikan Lele (Clarias sp.) Ukuran Siap Tebar dengan Sistem Waterless
Agustin, Agnes Yanuarika
Transportasi merupakan tahapan penting dalam budidaya ikan lele, karena melibatkan pemindahan ikan ke lingkungan yang berbeda dari habitat aslinya. Sistem transportasi waterless mulai dikembangkan sebagai alternatif efisiensi biaya transportasi, namun durasi waktu yang lama berisiko memicu kematian pascatransportasi waterless. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh perbedaan lama waktu transportasi dengan media waterless terhadap tingkat kelangsungan hidup Ikan Lele (Clarias sp.) ukuran siap tebar. Metode yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan lama waktu yaitu 3 jam, 6 jam, dan 9 jam menggunakan wadah styrofoam bermedia kain katun basah, dilanjutkan pemeliharaan selama 14 hari. Hasil menunjukkan bahwa lama waktu transportasi berpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup ikan pascatransportasi. Kelangsungan hidup tertinggi pascatransportasi dicapai pada durasi 3 jam (95%), diikuti 6 jam (92%), dan terendah pada 9 jam (80%). Namun, terjadi penurunan kelangsungan hidup selama masa pemeliharaan akibat efek stres laten. Pada hari ke-14, nilai akhir kelangsungan hidup menyusut menjadi 63% pada durasi 3 jam, 50% pada durasi 6 jam, dan pada durasi 9 jam tersisa 45%. Disimpulkan bahwa semakin lama waktu transportasi sistem waterless, maka tingkat mortalitas ikan lele semakin tinggi.; Transportation is a crucial stage in catfish cultivation, as it involves moving fish to an environment different from their natural habitat. Waterless transportation systems have been developed as an alternative to efficient transportation costs, but the long duration carries the risk of post-waterless transportation mortality. This study aims to analyze the effect of different transportation durations using waterless media on the survival rate of ready-to-stock catfish (Clarias sp.). The method used was a completely randomized design (CRD) with three treatment durations: 3 hours, 6 hours, and 9 hours using styrofoam containers with wet cotton cloth media, followed by maintenance for 14 days. The results showed that the duration of transportation significantly affected post-transportation fish survival. The highest post-transportation survival was achieved at a duration of 3 hours (95%), followed by 6 hours (92%), and the lowest at 9 hours (80%). However, there was a decrease in survival during the maintenance period due to the effects of latent stress. On the 14th day, the final survival rate decreased to 63% at 3 hours, 50% at 6 hours, and 45% at 9 hours. It was concluded that the longer the waterless transport time, the higher the mortality rate of the catfish.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kinerja Pertumbuhan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) yang Diberi Pakan dengan Kadar Protein Berbeda pada Sistem RAS di Ciherang Lobster Farm</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174051" rel="alternate"/>
<author>
<name>Alexandra, Angelya Cintania</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/174051</id>
<updated>2026-07-06T00:41:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kinerja Pertumbuhan Lobster Air Tawar (Cherax quadricarinatus) yang Diberi Pakan dengan Kadar Protein Berbeda pada Sistem RAS di Ciherang Lobster Farm
Alexandra, Angelya Cintania
Lobster air tawar Cherax quadricarinatus merupakan komoditas yang&#13;
diminati konsumen dan pembudidaya, namun memiliki tingkat kanibalisme tinggi&#13;
dan laju pertumbuhan lambat karena diberi pakan alternatif dengan kandungan&#13;
nutrien yang belum optimal. Peran protein dapat mendukung proses pertumbuhan&#13;
dan pembentukan karapas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kadar&#13;
protein berbeda dalam pakan terhadap kinerja pertumbuhan lobster air tawar&#13;
Cherax quadricarinatus sistem RAS DI Ciherang Lobster Farm. Rancangan acak&#13;
lengkap digunakan dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan: K (campuran pelet&#13;
komersil 32% protein + singkong 2% protein), P1 (pakan formulasi 20% protein),&#13;
dan P2 (pakan formulasi 30% protein). Lobster uji sebanyak 20 ekor dipelihara&#13;
dalam kolam beton berukuran 1,3x0,6 m selama 60 hari dan diberi pakan dengan&#13;
metode restricted sebanyak 2 kali sehari. Hasil menunjukkan tidak signifikan&#13;
(p&gt;0,05) terhadap kinerja pertumbuhan, namun menunjukkan signifikan terhadap&#13;
rasio efisiensi protein (REP). Rasio efisiensi protein pada kontrol menghasilkan&#13;
perbedaan nyata terhadap P1 dan P2 (p&lt;0,05). Tingkat kelangsungan hidup tidak&#13;
berbeda nyata antar perlakuan (p&gt;0,05). Perbedaan kadar protein pada pakan belum&#13;
dapat memberi pengaruh signifikan terhadap kinerja pertumbuhan lobster air tawar&#13;
(Cherax quadricarinatus). Hasil penelitian ini dapat menjadi informasi dalam&#13;
pengembangan formulasi pakan dan penerapan sistem resirkulasi yang lebih efisien&#13;
untuk budidaya lobster air tawar.; Freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus) is a commodity favored by&#13;
consumers and aquaculture producers; however, its culture is constrained by high&#13;
cannibalism and slow growth rates due to the use of alternative feeds with&#13;
suboptimal nutrient content. Protein plays an important role in supporting growth&#13;
and carapace formation. This study aimed to analyze the effect of different dietary&#13;
protein levels on the growth performance of freshwater crayfish (Cherax&#13;
quadricarinatus) cultured in a recirculating aquaculture system (RAS) at Ciherang&#13;
Lobster Farm. A completely randomized design consisting of three treatments and&#13;
three replicates was employed: K (a mixture of commercial feed containing 32%&#13;
protein and cassava containing 2% protein), P1 (formulated feed containing 20%&#13;
protein), and P2 (formulated feed containing 30% protein). Twenty crayfish were&#13;
reared in concrete tanks measuring 1.3 × 0.6 m for 60 days and were fed twice&#13;
daily using a restricted feeding method. The results showed no significant effect (p&#13;
&gt; 0.05) on growth performance; however, a significant effect was observed on&#13;
protein efficiency ratio (PER). The PER of the control treatment differed&#13;
significantly from those of P1 and P2 (p &lt; 0.05). Survival rate did not differ&#13;
significantly among treatments (p &gt; 0.05). Different dietary protein levels did not&#13;
significantly affect the growth performance of freshwater crayfish (Cherax&#13;
quadricarinatus). These findings provide useful information for the development of&#13;
feed formulations and the application of more efficient recirculating aquaculture&#13;
systems for freshwater crayfish culture.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
