<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Aquaculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114</id>
<updated>2026-10-30T14:59:05Z</updated>
<dc:date>2026-10-30T14:59:05Z</dc:date>
<entry>
<title>Pemberian Dasar Dangkal dan Semprotan untuk Meningkatkan Kinerja Usaha Budidaya Kepiting Soka dalam Boks Apartemen</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180193" rel="alternate"/>
<author>
<name>Dhani, Anisa Khairi</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180193</id>
<updated>2026-10-27T22:36:05Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemberian Dasar Dangkal dan Semprotan untuk Meningkatkan Kinerja Usaha Budidaya Kepiting Soka dalam Boks Apartemen
Dhani, Anisa Khairi
Kepiting bakau (Scylla serrata) di habitat alaminya secara periodik&#13;
mengalami fluktuasi perairan akibat fenomena pasang surut sehingga kepiting tidak&#13;
selalu berada dalam kondisi terendam air. Penelitian ini bertujuan menganalisis&#13;
pemberian dasar dangkal dan semprotan terhadap kinerja usaha budidaya kepiting&#13;
soka pada boks apartemen. Penambahan dasar dangkal menggunakan media berupa&#13;
batu bata dan semprotan berupa sprinkler pada pipa inlet. Penelitian menggunakan&#13;
rancangan acak lengkap faktorial 2 × 2 dengan empat kombinasi perlakuan yaitu&#13;
DS (dangkal dengan semprotan), LS (dalam dengan semprotan), DK (dangkal&#13;
dengan kucuran), dan LK (dalam dengan kucuran) yang masing-masing terdiri dari&#13;
30 ulangan individu. Sebanyak 120 ekor kepiting hasil tangkapan dengan bobot&#13;
awal 109,95±21,76 g dipelihara secara individual selama 35 hari dalam boks&#13;
apartemen sistem resirkulasi dan diberi pakan ikan selar kuning sebanyak 6% bobot&#13;
biomassa atau rata-rata sebanyak 7,02±1,80 g hari?¹. Interaksi taraf air dan tipe inlet&#13;
berpengaruh nyata terhadap LPSB dan RKP (P&lt;0,05), dengan LPSB tertinggi dan&#13;
RKP terendah pada DK. Secara deskriptif perlakuan DS menghasilkan nilai&#13;
tertinggi pada parameter persentase molting (16,67%) dan tingkat kelangsungan&#13;
hidup (80,00%), yang berdampak langsung pada kinerja usaha sehingga&#13;
memberikan keuntungan tertinggi Rp48.853.612, R/C ratio 1,13, payback period&#13;
5,52 tahun dan net benefit Rp79.167.300/tahun. Hasil penelitian menunjukkan&#13;
bahwa kombinasi pemberian dasar dangkal dan semprotan berpotensi diterapkan&#13;
untuk meningkatkan profitabilitas budidaya kepiting soka pada boks apartemen.; The mud crab (Scylla serrata) periodically experiences fluctuations in water&#13;
levels in its natural habitat due to tidal phenomena, resulting in periods when it is&#13;
not fully submerged. This study aimed to analyze the effects of shallow-bottom&#13;
provision and sprinkler systems on the production performance and economic&#13;
feasibility of soft-shell mud crab culture in apartment boxes. Shallow bottoms were&#13;
established using bricks, while the sprinkler system consisted of a plastic sprinkler&#13;
installed on the inlet pipe. The study employed a 2 × 2 factorial completely&#13;
randomized design with four treatment combinations: DS (shallow bottom with&#13;
sprinkler), LS (deep bottom with sprinkler), DK (shallow bottom with direct water&#13;
flow), and LK (deep bottom with direct water flow), each comprising 30 individual&#13;
replicates. A total of 120 wild-caught mud crabs, with an initial body weight of&#13;
109.95 ± 21.76 g, were individually reared for 35 days in apartment boxes within a&#13;
recirculating aquaculture system. The crabs were fed yellowstripe scad at 6% of&#13;
biomass, averaging 7.02 ± 1.80 g day?¹. The interaction between water level and&#13;
inlet type significantly affected LPSB and RKP (P &lt; 0.05), with the highest LPSB&#13;
and lowest RKP observed in DK. Descriptively, DS yielded the highest molting&#13;
percentage (16.67%) and survival rate (80.00%), contributing to the highest&#13;
economic returns, with a profit of IDR 48,853,612, an R/C ratio of 1.13, a payback&#13;
period of 5.52 years, and a net benefit of IDR 79,167,300 year?¹. These findings&#13;
indicate that combining a shallow bottom with a sprinkler system has the potential&#13;
to improve the profitability of soft-shell mud crab culture in apartment boxes.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Teknis dan Ekonomi Teknik Pengikatan Benih Kepiting Bakau (Scylla serrata)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180158" rel="alternate"/>
<author>
<name>DIVA, SABRINA NASWA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180158</id>
<updated>2026-10-22T02:12:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Teknis dan Ekonomi Teknik Pengikatan Benih Kepiting Bakau (Scylla serrata)
DIVA, SABRINA NASWA
Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang penyediaan benihnya masih bergantung pada hasil tangkapan alam. Namun demikian, penanganan benih belum banyak mendapatkan perhatian, antara lain dalam teknik pengikatan kepiting dalam transportasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh teknik pengikatan benih kepiting bakau selama transportasi dan pascatransportasi terhadap respons stres fisiologis, tingkat kelangsungan hidup (TKH), dan manfaat ekonominya. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua perlakuan, yaitu pengikatan hanya pada capit (CS) serta pengikatan pada capit, kaki jalan, dan kaki renang (IS), masing-masing sebanyak 60 ekor. Benih ditransportasikan secara kering sejauh 220 km selama 5 jam, kemudian dipelihara selama 14 hari dalam boks apartemen berbasis RAS. Kadar glukosa hemolimfa selama transportasi meningkat sebesar 20,67% pada CS dari 38,7 ± 2,66 mg dL?¹ menjadi 46,7 ± 1,47 mg dL?¹ yang lebih rendah daripada IS yang meningkat 44,31% dari 42,2 ± 3,35 mg dL?¹ menjadi 60,9 ± 5,80 mg dL?¹. TKH pada CS sebesar 86,67%, secara deskriptif lebih tinggi daripada IS 81,67%. Perubahan teknik pengikatan dari IS menjadi CS menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp271 per ekor. Secara keseluruhan, perubahan dari teknik IS menjadi CS dapat menurunkan stres fisiologis, serta cenderung meningkatkan TKH dan manfaat ekonominya.; Mud crab (Scylla serrata) is a high-value commodity whose seed supply still depends on wild catches. However, seed handling, including the tying technique used during transportation, has received little attention. This study aimed to analyze the effects of tying techniques on the physiological stress response, survival rate (SR), and economic benefit of mud crab seed during and after transportation. A completely randomized design was used with two treatments, namely tying of the chelipeds only (CS) and tying of the chelipeds, walking legs, and swimming legs (IS), with 60 crabs per treatment. The seeds were transported dry over 220 km for 5 hours and then reared for 14 days in RAS-based apartment boxes. During transportation, hemolymph glucose in CS increased by 20.67%, from 38.7 ± 2.66 mg dL?¹ to 46.7 ± 1.47 mg dL?¹, lower than in IS, which increased by 44.31%, from 42.2 ± 3.35 mg dL?¹ to 60.9 ± 5.80 mg dL?¹.  The SR was descriptively higher in CS 86.67% than IS 81.67%. Changing the tying technique from IS to CS generated a net benefit of IDR 271 per crab. Overall, changing from IS to CS reduced physiological stress, tended to increase SR, and increased economic benefit.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Efektivitas Penambahan Madu dengan Dosis Berbeda sebagai Krioprotektan Ekstraseluler pada Kriopreservasi Sperma Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180129" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zuhri, Muhamad Razak Fanani</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180129</id>
<updated>2026-10-18T22:35:53Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Penambahan Madu dengan Dosis Berbeda sebagai Krioprotektan Ekstraseluler pada Kriopreservasi Sperma Ikan Koi (Cyprinus rubrofuscus)
Zuhri, Muhamad Razak Fanani
Ikan koi (Cyprinus rubrofuscus) merupakan ikan hias bernilai ekonomi tinggi yang &#13;
produksinya bergantung pada ketersediaan sperma berkualitas, sementara &#13;
kematangan gonad induk jantan dan betina yang tidak selalu bersamaan menjadi &#13;
kendala pembenihan. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut &#13;
adalah melalui kriopreservasi sperma. Keberhasilan proses kriopreservasi &#13;
dipengaruhi oleh jenis dan dosis krioprotektan yang digunakan. Penelitian ini &#13;
bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan madu dengan dosis berbeda &#13;
sebagai krioprotektan ekstraseluler pada larutan dimetil sulfoksida (DMSO) 10% &#13;
terhadap kualitas sperma ikan koi setelah proses kriopreservasi. Penelitian ini &#13;
menggunakan lima perlakuan, yaitu kontrol, DMSO 10%, dan kombinasi DMSO &#13;
10% dengan madu dosis 0,1%, 0,5%, dan 1%. Parameter yang diamati meliputi &#13;
motilitas, viabilitas, dan abnormalitas spermatozoa pada lama penyimpanan 7, 14, &#13;
dan 30 hari. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji &#13;
Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan madu dosis 0,5% &#13;
menghasilkan motilitas dan viabilitas spermatozoa tertinggi pada seluruh lama &#13;
penyimpanan dibandingkan perlakuan lainnya dengan nilai abnormalitas tetap di &#13;
bawah 20%. Sementara itu, penggunaan madu dengan dosis yang terlalu rendah &#13;
maupun terlalu tinggi menghasilkan kualitas spermatozoa yang lebih rendah. &#13;
Berdasarkan hasil tersebut, madu berpotensi sebagai krioprotektan ekstraseluler &#13;
alami dengan dosis 0,5% sebagai perlakuan paling efektif dalam mempertahankan &#13;
kualitas sperma ikan koi selama kriopreservasi; Koi fish (Cyprinus rubrofuscus) is an ornamental fish with high economic value &#13;
and its production depends on the availability of high-quality sperm. However, the &#13;
asynchronous maturation of male and female broodstock gonads can become a &#13;
constraint in the breeding process. Sperm cryopreservation offers a potential &#13;
solution to this issue. The success of the cryopreservation process is influenced by &#13;
the type and dosage of cryoprotectants used. This study aimed to analyze the effect &#13;
of adding different doses of honey as an extracellular cryoprotectant to a 10% &#13;
dimethyl sulfoxide (DMSO) solution on the quality of koi fish sperm after &#13;
cryopreservation. Five treatments were tested: a control, 10% DMSO, and &#13;
combinations of 10% DMSO with honey at dosages of 0.1%, 0.5%, and 1%. &#13;
Parameters observed included sperm motility, viability, and abnormality after &#13;
storage periods of 7, 14, and 30 days. The data were analyzed using ANOVA &#13;
followed by Duncan's test. The results showed that the addition of 0.5% honey &#13;
produced the highest spermatozoa motility and viability at all storage periods &#13;
compared with the other treatments, while the abnormality remained below 20%. &#13;
Meanwhile, the use of honey at doses that were too low or too high resulted in lower &#13;
spermatozoa quality. Based on these results, honey has the potential to be used as &#13;
a natural extracellular cryoprotectant, with a dose of 0.5% being the most effective &#13;
treatment for maintaining the quality of koi fish sperm during cryopreservation
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Kepadatan Amazon Frogbit (Limnobium laevigatum) Sebagai Fitoremediator Terhadap Pendederan Ikan Patin (Pangasianodon hypophthalmus)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180107" rel="alternate"/>
<author>
<name>NUHA, MUHAMMAD ULYN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180107</id>
<updated>2026-10-14T06:44:00Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Kepadatan Amazon Frogbit (Limnobium laevigatum) Sebagai Fitoremediator Terhadap Pendederan Ikan Patin (Pangasianodon hypophthalmus)
NUHA, MUHAMMAD ULYN
Pendederan ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) menghasilkan limbah metabolisme yang dapat menurunkan kualitas air sehingga diperlukan pengelolaan yang efektif. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah fitoremediasi menggunakan tanaman air Limnobium laevigatum. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kepadatan L. laevigatum sebagai fitoremediator terhadap pendederan ikan patin. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu kontrol tanpa tanaman (K), 80 g (P1), 160 g (P2), dan 240 g (P3) L. laevigatum selama 28 hari pemeliharaan. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, kinerja produksi ikan, dan pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan L. laevigatum mampu memperbaiki kualitas air, terutama ditunjukkan oleh konsentrasi TOM, TAN, nitrit, nitrat, dan fosfat yang lebih rendah dibandingkan kontrol pada akhir pemeliharaan. Perlakuan tanaman juga menghasilkan kinerja produksi yang lebih baik dibandingkan kontrol, dengan TKH 98,33–99,17%, LPS 5,41–6,14%/hari, LPPM 0,10–0,12 cm, dan RKP 1,07–1,10. Berdasarkan keseimbangan kualitas air dan kinerja produksi ikan, perlakuan P2 dengan bobot L. laevigatum 160 g merupakan perlakuan terbaik.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
