<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Aquaculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/114</id>
<updated>2026-06-17T10:43:15Z</updated>
<dc:date>2026-06-17T10:43:15Z</dc:date>
<entry>
<title>Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Yang Diberi Pakan dengan Tipe Vitamin mix Berbeda</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173447" rel="alternate"/>
<author>
<name>MUSTOFA, DIMAS AGENG ARYOPUTRO</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173447</id>
<updated>2026-06-17T04:35:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Yang Diberi Pakan dengan Tipe Vitamin mix Berbeda
MUSTOFA, DIMAS AGENG ARYOPUTRO
Ikan nila merah (Oreochromis sp.) merupakan komoditas penting dalam akuakultur yang banyak dibudidayakan sebagai sumber protein hewani. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi vitamin mix yang terbaik terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila merah. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Adapun perlakuan tersebut adalah pakan dengan protein 32 dan 30 dengan formula  vitamin mix lama (P32VL dan P30VL) dan pakan dengan protein 32 dan 30 dengan formulasi vitamin baru (P32VB dan P30VB). Benih ikan dipelihara 60 hari dalam akuarium dengan ukuran 80x50x45cm dan dengan bobot awal rata-rata 15,05±0,02g dengan kepadatan 10 ekor/akuarium dan diberi pakan secara ad satiation sebanyak tiga kali sehari. Setelah masa pemeliharaan selama 60 hari, ikan yang diberi pakan dengan vitamin mix baru (P32VB dan P30VB) memberikan kinerja pertumbuhan (biomassa akhir, bobot individu akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan efisiensi konversi pakan) lebih baik dari tipe vitamin mix lama. Selanjutnya P30VB dapat menyamai kinerja pertumbuhan P32VL.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Studi Pustaka Potensi Senyawa Nabati Sebagai Agen Maskulinisasi Pada Ikan Guppy (Poecilia reticulata)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173408" rel="alternate"/>
<author>
<name>Nugroho, Benediktus Primantyo</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173408</id>
<updated>2026-06-14T12:16:17Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Pustaka Potensi Senyawa Nabati Sebagai Agen Maskulinisasi Pada Ikan Guppy (Poecilia reticulata)
Nugroho, Benediktus Primantyo
Penggunaan hormon sintetis dalam teknik sex reversal pada ikan guppy&#13;
(Poecilia reticulata) berpotensi menimbulkan residu yang berdampak negatif&#13;
terhadap lingkungan dan kesehatan, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman&#13;
melalui pemanfaatan bahan nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi&#13;
dan mengevaluasi potensi senyawa fitokimia dari berbagai bahan nabati sebagai&#13;
agen maskulinisasi serta membandingkan efektivitasnya berdasarkan nisbah&#13;
kelamin jantan (NKJ) dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Metode yang&#13;
digunakan adalah studi pustaka terhadap 15 artikel ilmiah. Hasil kajian&#13;
menunjukkan bahwa berbagai bahan nabati seperti Tribulus terrestris, Basella alba,&#13;
Cocos nucifera, Solanum torvum, Piper retrofractum, Apium graveolens,&#13;
Pimpinella alpina, Garcinia mangostana, Momordica charantia, Pinus sp., dan&#13;
Eurycoma longifolia memiliki potensi dalam meningkatkan maskulinisasi melalui&#13;
kandungan fitokimia berupa saponin steroidal, fitosterol, flavonoid, alkaloid,&#13;
xanthone, serta mineral seperti kalium. Nilai NKJ berkisar antara 47,60–100% dan&#13;
SR antara 73–100% tergantung jenis bahan, metode aplikasi, dan dosis yang&#13;
digunakan. Senyawa steroid-like menunjukkan efektivitas paling tinggi melalui&#13;
peningkatan androgen, inhibisi aromatase, serta regulasi ekspresi gen terkait&#13;
diferensiasi gonad seperti dmrt1, sox9, dan foxl2. Namun, peningkatan dosis tidak&#13;
selalu berbanding lurus dengan efektivitas, karena dosis berlebih dapat&#13;
menyebabkan stres fisiologis, ketidakseimbangan hormon, abnormalitas, dan&#13;
penurunan kelangsungan hidup. Dengan demikian, bahan nabati berpotensi sebagai&#13;
alternatif agen maskulinisasi yang lebih aman dan ramah lingkungan, dengan&#13;
keberhasilan yang sangat dipengaruhi oleh jenis fitokimia dan dosis optimal; The use of synthetic hormones in sex reversal techniques for guppy (Poecilia&#13;
reticulata) raises environmental and health concerns due to residual effects,&#13;
highlighting the need for safer and sustainable alternatives such as plant-derived&#13;
compounds. This study aimed to identify and evaluate the potential of&#13;
phytochemical compounds from various plant sources as masculinization agents&#13;
and to compare their effectiveness based on male sex ratio (MSR) and survival rate&#13;
(SR). A literature review approach was conducted using 15 relevant scientific&#13;
articles. The results indicate that diverse plant materials, including Tribulus&#13;
terrestris, Basella alba, Cocos nucifera, Solanum torvum, Piper retrofractum,&#13;
Apium graveolens, Pimpinella alpina, Garcinia mangostana, Momordica charantia,&#13;
Pinus sp., and Eurycoma longifolia, exhibit significant potential to enhance&#13;
masculinization through phytochemicals such as steroidal saponins, phytosterols,&#13;
flavonoids, alkaloids, xanthones, and minerals (potassium). The reported MSR&#13;
ranged from 47.60% to 100%, while SR ranged from 73% to 100%, depending on&#13;
plant type, dosage, and application method. Steroid-like compounds demonstrated&#13;
the highest efficacy by promoting androgen synthesis, inhibiting aromatase activity,&#13;
and modulating the expression of key genes involved in gonadal differentiation,&#13;
including dmrt1, sox9, and foxl2. However, increasing dosage does not necessarily&#13;
enhance effectiveness, as excessive exposure may induce physiological stress,&#13;
hormonal imbalance, abnormalities, and reduced survival. Therefore, plant-derived&#13;
compounds represent a promising, environmentally friendly alternative for&#13;
masculinization in guppy, with success highly dependent on phytochemical type&#13;
and optimal dosage.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Parameter Kualitas Air dan Glukosa Darah Terhadap  Kinerja Produksi Ikan Nila Di BRBIH Depok</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173387" rel="alternate"/>
<author>
<name>SARAH, SITI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173387</id>
<updated>2026-06-12T05:38:26Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Parameter Kualitas Air dan Glukosa Darah Terhadap  Kinerja Produksi Ikan Nila Di BRBIH Depok
SARAH, SITI
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan budidaya air tawar yang memiliki pertumbuhan cepat dan kontribusi penting terhadap produksi perikanan nasional. Kualitas air dan respons fisiologis melalui kadar glukosa darah memengaruhi proses budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara parameter kualitas air dan glukosa darah terhadap kinerja produksi ikan nila di Balai Riset Budidaya Ikan Hias, Depok. Data penelitian termasuk data sekunder dari 6 kolam pengamatan (K1, K2, K3, K4, K5, K6). Hasil kinerja produksi menunjukkan kolam 1 memiliki produktivitas lebih tinggi yaitu 2,032 kg/m² dibandingkan kolam 6 yaitu 1,357 kg/m². Parameter kualitas air dan kadar glukosa darah berpengaruh terhadap kinerja produksi ikan nila di kolam Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok yaitu terdapat ketidaksesuaian kondisi kualitas air yang memicu stres fisiologis pada ikan, berdampak pada peningkatan glukosa darah dan berpotensi menurunkan kinerja produksi. Semakin tinggi kadar glukosa darah (-0,98) dan fosfat (-0,96) semakin rendah nilai produktivitas di kolam pengamatan, sedangkan semakin tinggi nilai suhu pagi (0,83), suhu siang (0,88), DO pagi (0,99), DO siang (0,91) dan TPC (0,88) semakin tinggi nilai produktivitas.; Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is a freshwater aquaculture species known for its rapid growth and significant contribution to national fisheries production. Quality and its physiological response, as reflected in blood glucose levels are influencing factors. This study aims to analyze the relationship between water quality parameters and blood glucose levels on the production performance of Nile tilapia at the Ornamental Fish Aquaculture Research Center in Depok. The research data included secondary data from six observation ponds (K1, K2, K3, K4, K5, K6). Production performance results showed that pond 1 had higher productivity, namely 2.032 kg/m². The higher the blood glucose levels (-0.98) and phosphate levels (-0.96), the lower the productivity in the observation ponds; conversely, the higher the morning temperature (0.83), afternoon temperature (0.88), morning dissolved oxygen (0.99), afternoon dissolved oxygen (0.91), and total phosphorus content (0.88), the higher the productivity.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH, dan Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173373" rel="alternate"/>
<author>
<name>ANSORI, ELVARETTA CAHYA CAMILLA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173373</id>
<updated>2026-06-11T08:53:31Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH, dan Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas
ANSORI, ELVARETTA CAHYA CAMILLA
ELVARETTA CAHYA CAMILLA ANSORI. Pertumbuhan, Ekspresi Gen GH dan &#13;
Ghrelin Ikan Nila Nirwana (Oreochromis niloticus) Pascacekam Salinitas. &#13;
Dibimbing oleh ALIMUDDIN dan DINAR TRI SOELISTYOWATI. &#13;
Cekaman salinitas merupakan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi &#13;
respons fisiologis ikan melalui tekanan osmotik. Ikan nila (Oreochromis niloticus) &#13;
bersifat euryhaline sehingga memiliki kemampuan adaptasi terhadap perubahan &#13;
salinitas. Penelitian ini menganalisis ekspresi gen growth hormone (GH) dan &#13;
ghrelin serta hubungannya dengan performa pertumbuhan ikan nila nirwana yang &#13;
diberi cekaman salinitas sejak usia benih. Penelitian menggunakan rancangan acak &#13;
lengkap dengan dua perlakuan, yaitu kontrol dan cekaman salinitas 20 ppt selama &#13;
8 jam, masing-masing tiga ulangan. Benih pascacekaman dipelihara di media air &#13;
tawar selama 75 hari. Parameter yang diamati meliputi kualitas air, tingkat &#13;
kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik, bobot dan panjang akhir, biomassa, &#13;
serta ekspresi gen GH dan ghrelin yang dianalisis menggunakan qPCR dengan ß&#13;
actin sebagai gen referensi. Hasil menunjukkan bahwa cekaman salinitas &#13;
meningkatkan ekspresi gen GH dan ghrelin pada ikan yang mampu bertahan hidup &#13;
hingga akhir pemeliharaan, dan biomassa akhir lebih tinggi pada kelompok ikan &#13;
jantan perlakuan. &#13;
Kata kunci: Cekaman salinitas, ekspresi gen, ghrelin, growth hormone, ikan nila &#13;
nirwana.; ELVARETTA CAHYA CAMILLA ANSORI. Growth, GH and Ghrelin Gene Expression of Nirwana Tilapia (Oreochromis niloticus) After Salinity Stress. Supervised by ALIMUDDIN and DINAR TRI SOELISTYOWATI.&#13;
Salinity stress is an environmental factor that can influence the physiological responses of fish through osmotic pressure. Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is a euryhaline species with the ability to adapt to changes in salinity. This study analyzed the expression of growth hormone (GH) and ghrelin genes and their relationship with the growth performance of Nirwana tilapia strain subjected to salinity stress since the juvenile stage. The experiment used a completely randomized design with two treatments, namely a control and salinity stress of 20 ppt for 8 hours, each with three replicates. The juveniles were reared in freshwater for 75 days after the stress treatment. The observed parameters included water quality, survival rate, specific growth rate, final weight and length, biomass, and the expression of GH and ghrelin genes analyzed using qPCR with ß-actin as the reference gene. The results showed that salinity stress increased the expression of GH and ghrelin genes in fish that survived until the end of the rearing period, and higher final biomass in the male fish treatment group.&#13;
Keywords: Gene expression, ghrelin, growth hormone, nirwana tilapia, salinity stress.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
