<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Aquatic Resources Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/113</id>
<updated>2026-06-20T06:57:12Z</updated>
<dc:date>2026-06-20T06:57:12Z</dc:date>
<entry>
<title>POTENSI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI PENDUKUNG EKOWISATA BAHARI DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173492" rel="alternate"/>
<author>
<name>ANGGRAENI, SUSI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173492</id>
<updated>2026-06-18T04:33:28Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">POTENSI KESESUAIAN EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI PENDUKUNG EKOWISATA BAHARI DI PULAU PARI, KEPULAUAN SERIBU
ANGGRAENI, SUSI
Pulau Pari memiliki ekosistem mangrove yang berperan penting secara&#13;
ekologis dan ekonomis, namun pemanfaatannya sebagai ekowisata belum didukung&#13;
kajian kesesuaian dan daya dukung yang memadai. Penelitian ini bertujuan&#13;
menganalisis kesesuaian wilayah, daya dukung kawasan, nilai ekonomi, serta&#13;
merumuskan strategi pengelolaan ekowisata mangrove. Metode yang digunakan&#13;
meliputi Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), daya dukung kawasan (DDK),&#13;
Contingent Valuation Method (CVM), dan analisis SWOT dengan pengumpulan&#13;
data melalui observasi lapangan di 14 titik pada 5 wilayah serta survei terhadap&#13;
wisatawan dan pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa&#13;
ekosistem mangrove di Pulau Pari berada pada kategori tidak sesuai untuk&#13;
pengembangan ekowisata akibat rendahnya kerapatan, ketebalan, dan&#13;
keanekaragaman mangrove. Daya dukung kawasan belum dapat dihitung secara&#13;
aktual, namun estimasi potensi setelah rehabilitasi mencapai 273 orang per hari atau&#13;
71.100 orang per tahun. Nilai ekonomi berdasarkan kesediaan membayar&#13;
wisatawan sebesar Rp980.390.000 dan berpotensi meningkat hingga&#13;
Rp3.661.192.853 dengan penetapan tarif optimal. Implikasi penelitian menegaskan&#13;
perlunya rehabilitasi ekosistem, pengembangan ekowisata berbasis konservasi, dan&#13;
peningkatan kapasitas sumber daya manusia secara terpadu.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>ANALISIS EFEKTIVITAS PENGOLAHAN DAN KUALITAS AIR LIMBAH DI EFFLUENT WATER TREATMENT PLANT PT KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL UNIT VI BALONGAN</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173326" rel="alternate"/>
<author>
<name>Suryadi, Nan Ghofur Ramadiansyah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173326</id>
<updated>2026-06-10T03:56:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">ANALISIS EFEKTIVITAS PENGOLAHAN DAN KUALITAS AIR LIMBAH DI EFFLUENT WATER TREATMENT PLANT PT KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL UNIT VI BALONGAN
Suryadi, Nan Ghofur Ramadiansyah
Air limbah industri minyak dan gas berpotensi mencemari lingkungan apabila&#13;
tidak diolah dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas&#13;
pengolahan dan kualitas air limbah pada Effluent Water Treatment Plant (EWTP)&#13;
PT Kilang Pertamina Internasional Unit VI Balongan. Data yang digunakan berupa&#13;
data sekunder periode Januari–Juli 2025 pada titik inlet dan outlet dengan parameter&#13;
suhu, pH, NH3, BOD5, COD, Oil Content, H2S, dan fenol. Analisis dilakukan&#13;
menggunakan metode deskriptif, efisiensi pengolahan, indeks pencemaran (IP), uji&#13;
t berpasangan, rasio biodegradabilitas (BOD5/COD), serta koefisien variasi (CV).&#13;
Hasil menunjukkan bahwa air limbah pada inlet tergolong tercemar sedang dengan&#13;
nilai IP 4,90–8,42, sedangkan pada outlet menurun hingga di bawah 1 dan&#13;
memenuhi baku mutu. Efisiensi pengolahan tergolong sangat efektif pada&#13;
parameter COD, BOD5, NH3, dan fenol, serta efektif pada Oil Content dan H2S.&#13;
Hasil uji t menunjukkan seluruh parameter mengalami penurunan signifikan (pvalue&#13;
&lt; 0,05). Secara keseluruhan, sistem EWTP mampu menurunkan beban&#13;
pencemaran secara signifikan dan menghasilkan efluen yang memenuhi baku mutu.; Wastewater from oil and gas industries can pollute the environment if not&#13;
properly treated. This study aims to evaluate treatment effectiveness and&#13;
wastewater quality at the Effluent Water Treatment Plant (EWTP) of PT Kilang&#13;
Pertamina Internasional Unit VI Balongan. Secondary data from January to July&#13;
2025 were analyzed for inlet and outlet parameters, including temperature, pH, NH3,&#13;
BOD5, COD, Oil Content, H2S, and phenol. The methods included descriptive&#13;
analysis, treatment efficiency, pollution index (PI), paired t-test, biodegradability&#13;
ratio (BOD5/COD), and coefficient of variation (CV). Results showed that inlet&#13;
wastewater was moderately polluted (PI 4.90–8.42), while outlet values decreased&#13;
to below 1, indicating compliance with standards. Treatment efficiency was very&#13;
effective for COD, BOD5, NH3, and phenol, and effective for Oil Content and H2S.&#13;
The t-test indicated significant reductions in all parameters (p-value &lt; 0.05). Overall,&#13;
the EWTP effectively reduced pollutant loads and produced effluent that meets&#13;
environmental standards.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Akumulasi Merkuri (Hg) pada Ikan Kerapu Coklat (Epinephelus merra) dan Risiko Mengonsumsinya di Perairan Ternate, Maluku Utara</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173304" rel="alternate"/>
<author>
<name>Cholida, Aisyah Syifa'ul</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173304</id>
<updated>2026-06-09T06:19:59Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Akumulasi Merkuri (Hg) pada Ikan Kerapu Coklat (Epinephelus merra) dan Risiko Mengonsumsinya di Perairan Ternate, Maluku Utara
Cholida, Aisyah Syifa'ul
Merkuri (Hg) merupakan logam berat berbahaya yang dapat terakumulasi dalam jaringan biota melalui proses bioakumulasi dan biomagnifikasi, sehingga pemantauan konsentrasi pada ikan konsumsi menjadi prioritas keamanan pangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi merkuri pada daging ikan kerapu coklat (Epinephelus merra) di Perairan Ternate, Maluku Utara, serta mengevaluasi kesesuaian dengan baku mutu nasional dan internasional. Pengambilan contoh dilakukan pada Juli 2025 di tiga stasiun pengamatan, dengan analisis konsentrasi merkuri menggunakan metode Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICP-MS). Konsentrasi merkuri pada daging E. merra berkisar antara 0,20-0,26 mg/kg berat basah. Semua nilai berada di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan. Nilai BCF rata-rata sebesar 598,89 tergolong kategori sedang dan memiliki potensi risiko kesehatan non-karsinogenik jangka panjang. Studi ini menegaskan perlunya pemantauan berkala kadar merkuri pada biota laut di Perairan Ternate sebagai dasar kebijakan keamanan pangan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi kesesuaian habitat peneluran penyu hijau berdasarkan karakteristik lingkungan dan mikrohabitat sarang di Pantai Pangumbahan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173263" rel="alternate"/>
<author>
<name>LARASATI, ANINDYA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173263</id>
<updated>2026-06-07T10:26:59Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi kesesuaian habitat peneluran penyu hijau berdasarkan karakteristik lingkungan dan mikrohabitat sarang di Pantai Pangumbahan
LARASATI, ANINDYA
Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan spesies yang dilindungi dan membutuhkan habitat peneluran yang sesuai untuk menunjang keberhasilan reproduksi. Pantai Pangumbahan, Kabupaten Sukabumi, merupakan salah satu kawasan konservasi penting bagi peneluran penyu hijau. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian habitat peneluran berdasarkan karakteristik lingkungan pantai menggunakan Indeks Kesesuaian Habitat (IKH), mendeskripsikan mikrohabitat sarang, serta mengamati tingkah laku peneluran penyu hijau. Penelitian dilakukan pada September–November 2025 dan Februari 2026 melalui pengamatan parameter lingkungan, analisis tekstur substrat, pengukuran vegetasi pantai, pengamatan mikrohabitat sarang, dan observasi perilaku peneluran. Hasil penelitian menunjukkan nilai IKH berkisar antara 86,96% hingga 95,65%, yang mengindikasikan kategori sangat sesuai pada seluruh stasiun pengamatan. Analisis mikrohabitat sarang menunjukkan suhu rata-rata sebesar 27,8°C, kelembapan rata-rata sebesar 55,7%, dan kedalaman sarang berkisar antara 40–52 cm, seluruhnya berada dalam kisaran yang mendukung perkembangan embrio. Tujuh tahapan perilaku peneluran yang berurutan berhasil direkam dengan rata-rata total durasi sekitar 3 jam 25 menit. Temuan ini mengonfirmasi bahwa Pantai Pangumbahan sangat mendukung aktivitas peneluran penyu hijau dan memberikan data dasar empiris bagi pengelolaan konservasi.; The green turtle (Chelonia mydas) is a protected species that requires suitable nesting habitat to support reproductive success. Pangumbahan Beach in Sukabumi Regency is one of the most important conservation areas for green turtle nesting in Indonesia. This study aimed to assess nesting habitat suitability based on coastal environmental characteristics using the Habitat Suitability Index (HSI), describe nest microhabitat conditions, and observe green turtle nesting behaviour. The study was conducted from September to November 2025 and February 2026 through observations of environmental parameters, substrate texture analysis, coastal vegetation measurements, nest microhabitat observations, and direct behavioural monitoring. Results showed HSI values ranging from 86,96% to 95,65%, indicating a highly suitable category across all stations. Nest microhabitat analysis revealed a mean temperature of 27,8°C, mean humidity of 55,7%, and nest depth of 40–52 cm, all within ranges supportive of embryo development. Seven sequential nesting behavioural stages were recorded with a mean total duration of approximately 3 hours and 25 minutes. These findings confirm that Pangumbahan Beach strongly supports green turtle nesting activity and provide empirical baseline data for conservation management.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
