<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Fisheries Resource Utilization</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111</id>
<updated>2026-06-02T16:26:46Z</updated>
<dc:date>2026-06-02T16:26:46Z</dc:date>
<entry>
<title>Dampak Pencemaran Perairan pada Perikanan Kerang Hijau di Kamal Muara Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173208" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ridokusumo, Alfa Christian Waldemar</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173208</id>
<updated>2026-06-01T03:18:48Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Dampak Pencemaran Perairan pada Perikanan Kerang Hijau di Kamal Muara Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Ridokusumo, Alfa Christian Waldemar
Nelayan kerang hijau di Kampung Nelayan Kamal Muara Provinsi Daerah &#13;
Khusus Ibukota Jakarta menghadapi tantangan serius berupa penurunan produksi &#13;
akibat degradasi kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan &#13;
kegiatan perikanan kerang hijau, menganalisis kualitas perairan terdampak &#13;
pencemaran, serta merumuskan rekomendasi pengelolaan perikanan kerang hijau &#13;
yang adaptif di Kamal Muara. Pengumpulan data penelitian dilakukan melalui &#13;
observasi lapang, wawancara, dan pengambilan sampel air. Analisis data &#13;
dilakukan secara deskriptif, uji laboratorium kualitas air, serta analisis aspek &#13;
kekuatan dan kelemahan untuk rekomendasi pengelolaan. Hasil penelitian &#13;
menunjukkan bahwa kegiatan perikanan kerang hijau didominasi oleh metode &#13;
budidaya tradisional menggunakan rakit bambu, dengan waktu pemeliharaan &#13;
hingga panen berkisar antara 3-4 bulan. Namun saat ini nelayan mengalami &#13;
penurunan produktivitas hasil panen. Kerang hijau dilakukan penanganan dengan &#13;
perebusan sebelum dipasarkan. Kualitas perairan telah melampaui ambang batas &#13;
baku mutu sesuai KEPMEN LH No.51 Tahun 2004, parameter TSS menunjukkan &#13;
hasil 97 mg/L, serta kandungan logam berat Pb dan Hg sebesar 0,03 mg/L dan &#13;
0,04 mg/L. Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan kualitas biologis dan &#13;
kualitas hasil panen, yang berdampak terhadap pendapatan nelayan. Tindakan &#13;
pengelolaan yang direkomendasikan meliputi penguatan regulasi dan pengawasan &#13;
pengelolaan limbah, penerapan teknologi budidaya ramah lingkungan untuk &#13;
mitigasi cemaran, dan peningkatan kapasitas kelompok nelayan melalui edukasi.; Green mussel fishermen in the fishing village of Kamal Muara Special &#13;
Capital Region of Jakarta Province face serious challenges in the form of &#13;
declining production due to water quality degradation. This study aims to describe &#13;
green mussel fishing activities, analyze of water quality affected by pollution, and &#13;
formulate recommendations for adaptive green mussel fishery management in &#13;
Kamal Muara. Research data was collected through field observations, interviews, &#13;
and water sampling. Data analysis was conducted using descriptive methods, &#13;
laboratory water quality tests, and an analysis of strengths and weaknesses to &#13;
inform management recommendations. The results of the study indicate that green &#13;
mussel aquaculture is dominated by traditional cultivation methods using bamboo &#13;
rafts, with a cultivation period ranging from 3 to 4 months. However, fishermen &#13;
are currently experiencing a decline in catch productivity. Green mussels are &#13;
processed by boiling before being marketed. Water quality has exceeded the &#13;
quality standards set by Ministry of Environment Decree No. 51 of 2004; the TSS &#13;
parameter shows a result of 97 mg/L, and the levels of heavy metals Pb and Hg &#13;
are 0.03 mg/L and 0.04 mg/L, respectively. These conditions have a direct impact &#13;
on the decline in biological quality and the quality of the catch, which in turn &#13;
affects fishermen’s income. Recommended management measures include &#13;
strengthening regulations and oversight of waste management, implementing &#13;
environmentally friendly aquaculture technologies to mitigate pollution, and &#13;
building the capacity of fishing communities through education.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Keakuratan Data Hasil Tangkapan Kapal Pengangkut untuk Menunjang PNBP Pasca Produksi di PPS Nizam Zachman, Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173190" rel="alternate"/>
<author>
<name>SARAGIH, JOHN HIZKIA DANIEL CHRISTIAN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173190</id>
<updated>2026-05-28T22:47:59Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Keakuratan Data Hasil Tangkapan Kapal Pengangkut untuk Menunjang PNBP Pasca Produksi di PPS Nizam Zachman, Jakarta
SARAGIH, JOHN HIZKIA DANIEL CHRISTIAN
Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman Jakarta (PPSNZJ) &#13;
merupakan pelabuhan perikanan terbesar yang memiliki peranan penting dalam &#13;
mendukung aktivitas perikanan nasional, khususnya kegiatan bongkar muat hasil &#13;
tangkapan. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan tersebut adalah &#13;
ketidakakuratan data hasil tangkapan antara enumerator dan pihak perusahaan &#13;
yang berdampak langsung pada perhitungan Penerimaan Negara Bukan Pajak &#13;
(PNBP) pasca produksi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis tingkat &#13;
keakuratan data hasil tangkapan serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebab &#13;
terjadinya perbedaan data. Metode penelitian yang digunakan meliputi observasi &#13;
lapangan dan wawancara terhadap tiga stakeholder. Analisis data dilakukan &#13;
menggunakan rumus keakuratan data, perhitungan PNBP, dan diagram fishbone. &#13;
Hasil penelitian menunjukkan pada bulan November dan Desember terdapat &#13;
perbedaan data hasil tangkapan dengan tingkat selisih yang bervariasi. Selisih &#13;
terbesar terjadi pada 7 November 2025 pada Kapal Angkut 5 sebesar 261.523 kg &#13;
atau -9,16%, sedangkan pada bulan Desember selisih relatif lebih stabil berkisar &#13;
5,13% hingga -0,02%. Analisis fishbone menunjukkan bahwa faktor utama &#13;
penyebab ketidakakuratan data meliputi keterbatasan jumlah enumerator, &#13;
tingginya beban kerja, timbangan yang belum terkalibrasi, perbedaan format &#13;
pencatatan, ketidaksesuaian berat blong, serta perbedaan proses sortasi ikan. &#13;
Rekomendasi yang diberikan meliputi penambahan enumerator, standarisasi &#13;
sortasi ikan, kalibrasi timbangan, penyesuaian berat blong, penggunaan format &#13;
tally yang seragam, serta peningkatan validasi data antara enumerator dan &#13;
perusahaan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif Nelayan sebagai Solusi Peningkatan Pendapatan Nelayan Gunungkidul</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173178" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rahman, Yusuf Maulana</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173178</id>
<updated>2026-05-26T07:16:25Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif Nelayan sebagai Solusi Peningkatan Pendapatan Nelayan Gunungkidul
Rahman, Yusuf Maulana
Pendapatan nelayan skala kecil di Kabupaten Gunungkidul sangat bergantung pada kondisi alam seperti cuaca dan musim penangkapan, sehingga rentan mengalami penurunan secara fluktuatif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi umum dan profil sumber daya manusia nelayan, menentukan peluang mata pencaharian alternatif berbasis potensi alam lokal, dan merumuskan stretegi pengembangannya. Metode yang digunakan meliputi pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif, rating scale, dan AHP. Hasil penelitian mengidentifikasi empat peluang mata pencaharian alternatif potensial, yaitu pertanian, peternakan, wisata bahari, dan usaha kuliner. Aspek kriteria strategi pengembangan dengan AHP menunjukkan bahwa kriteria sosial (0,263), lingkungan (0,122), dan teknis (0,057) turut mendukung keberhasilan diversifikasi usaha nelayan. Aspek ekonomi dalam strategi pengembangan mata pencaharian alternatif menjadi prioritas utama dengan nilai 0,557. Implikasi dari penelitian ini memberikan pedoman faktual bagi pemerintah daerah dalam merancang program pemberdayaan dan diversifikasi usaha bagi nelayan. Hal ini diharapkan mampu menjadi jaring pengaman ekonomi yang mengurangi ketergantungan pada sektor perikanan tangkap, sekaligus secara signifikan meningkatkan resiliensi ekonomi rumah tangga nelayan saat menghadapi musim paceklik.; The income of small-scale fishermen in Gunungkidul Regency is highly dependent on natural conditions such as weather and fishing seasons, making it vulnerable to fluctuating declines. This study aims to describe the general conditions and human resource profile of the fishermen, determine alternative livelihood opportunities based on local natural potential, and formulate development strategies. The methods used include a qualitative approach with descriptive analysis, rating scale, and AHP. The results of the study identified four potential alternative livelihood opportunities, namely agriculture, livestock farming, marine tourism, and culinary business. The development strategy criteria aspect using AHP shows that social (0.263), environmental (0.122), and technical (0.057) criteria also support the success of fishermen’s business diversification. The economic aspect in the strategy of developing alternative livelihoods becomes the main priority with a value of 0.557.  The implications of this study provide factual guidelines for the regional government in designing empowerment and business diversification programs for fishermen. This is expected to become an economic safety net that reduces dependence on the capture fisheries sector, while significantly increasing the economic resilience of fishermen's households when facing the lean season.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pola Bagi Hasil Nelayan dan Surplus Value Jala Jatuh Berkapal (Cast net) di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173159" rel="alternate"/>
<author>
<name>ANDIVA, NISRINA KHANSAPUTRI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173159</id>
<updated>2026-05-24T23:40:07Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pola Bagi Hasil Nelayan dan Surplus Value Jala Jatuh Berkapal (Cast net) di Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman
ANDIVA, NISRINA KHANSAPUTRI
Sektor perikanan Indonesia memiliki potensi sumber daya yang besar, namun kesejahteraan nelayan masih rendah akibat distribusi pendapatan yang belum seimbang. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan mekanisme sistem bagi hasil dan upah, mengidentifikasi distribusi pendapatan antara pemilik kapal dan nelayan, serta merumuskan rekomendasi sistem distribusi pendapatan yang lebih proporsional pada perikanan cast net di PPS Nizam Zachman Jakarta. Data diperoleh melalui wawancara dan kuesioner pada kapal ukuran 21–30 GT, 31–50 GT, dan 51–100 GT. Sistem distribusi pendapatan terdiri atas sistem bagi hasil dan sistem upah. Kapal 21–30 GT menerapkan pembagian 60:40, sedangkan kapal 31–50 GT menerapkan pembagian 50:50 dan sebagian menggunakan sistem upah. Kapal 51–100 GT menggunakan sistem upah. Hasil analisis menunjukkan tingkat surplus value (SV) pada sistem bagi hasil berkisar 103,60–139,14%, sedangkan pada sistem upah berkisar 79,95–232,81%. Sistem bagi hasil pada kapal 31–50 GT merupakan sistem yang paling proporsional karena menghasilkan tingkat SV mendekati 100% pada semua musim. Oleh karena itu, sistem bagi hasil lebih direkomendasikan dengan tambahan jaminan pendapatan minimum bagi awak kapal.; The Indonesian fisheries sector has significant resource potential. However, fishermen’s welfare remains low due to unequal income distribution. This study aims to describe the mechanisms of profit-sharing and wage systems, identify income distribution between vessel owners and fishermen, and formulate recommendations for a more proportional income distribution system in the cast net fishery at PPS Nizam Zachman Jakarta. Data were collected through interviews and questionnaires on vessels measuring 21–30 GT, 31–50 GT, and 51–100 GT. The income distribution system consisted of profit-sharing and wage systems. Vessels of 21–30 GT applied a 60:40 sharing system, while vessels of 31–50 GT applied a 50:50 sharing system, with some also implementing a wage system. Vessels of 51–100 GT used a wage system. The results showed that the surplus value (SV) in the profit-sharing system ranged from 103.60–139.14%, while in the wage system it ranged from 79.95–232.81%. The profit-sharing system on 31–50 GT vessels was the most proportional because it produced an SV close to 100% in all seasons. Therefore, the profit-sharing system is more recommended, with the addition of a minimum income guarantee for fishermen.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
