<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Fisheries Resource Utilization</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/111</id>
<updated>2026-05-12T23:34:58Z</updated>
<dc:date>2026-05-12T23:34:58Z</dc:date>
<entry>
<title>Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004" rel="alternate"/>
<author>
<name>ALI, MUHAMMAD HAFIDZ FATHUR</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173004</id>
<updated>2026-04-28T08:29:37Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Uji Coba Penangkapan Krustasea dengan Alat Tangkap Krendet Bertingkat Satu Pintu dan Krendet Tradisional
ALI, MUHAMMAD HAFIDZ FATHUR
Penelitian ini dilaksanakan di perairan Teluk Palabuhanratu yang memiliki potensi sumber daya krustasea tinggi, khususnya rajungan dan lobster, dengan tujuan membandingkan efektivitas krendet bertingkat satu pintu dan krendet tradisional dalam meningkatkan hasil tangkapan. Metode yang digunakan adalah experimental fishing sebanyak 29 trip dengan sistem rawai, masing-masing menggunakan tiga unit krendet tradisional berdiameter 80 cm dan tiga unit krendet bertingkat satu pintu dengan diameter perangkap bawah 80 cm dan atas 60 cm, seluruhnya dilengkapi booster umpan berbahan ikan tembang, cumi-cumi, cacing tanah, dan telur ayam yang dibekukan. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah, berat, dan panjang karapas hasil tangkapan. Analisis dilakukan secara deskriptif kemudian diuji menggunakan uji normalitas dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krendet bertingkat satu pintu menghasilkan jumlah dan berat tangkapan krustasea lebih tinggi dibandingkan krendet tradisional. Produktivitasnya lebih besar dalam satuan ekor/trip, kg/trip, maupun kg/unit serta margin produksi yang meningkat signifikan sebesar 278,9% dalam ekor dan 354,6% dalam kg. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh perluasan catchable area dan desain satu pintu yang mengurangi peluang lolosnya tangkapan, sehingga krendet bertingkat satu pintu berpotensi menjadi alternatif teknologi penangkapan yang lebih efektif dan mendukung pemanfaatan sumber daya krustasea secara berkelanjutan.; This study was conducted in the waters of Palabuhanratu bay, which have high potential for crustacean resources, particularly swimming crabs and lobsters, with the objective of comparing the effectiveness of a single-door of the 2-deck cone hoop net and a traditional hoop net in improving catch performance. The research employed an experimental fishing method over 29 trips using a longline system, involving three units of traditional hoop net (80 cm diameter) and three units of single-door of the 2-deck cone hoop net (80 cm lower trap diameter and 60 cm upper trap diameter), all equipped with frozen bait boosters made from indian mackerel, squid, earthworms, and chicken eggs. Data collected included the number, weight, and carapace length of the catch, which were analyzed descriptively and tested using normality and Mann–Whitney tests at a 5% significance level. The results showed that the single-door of the 2-deck cone hoop net produced higher numbers and weights of crustacean catches compared to the traditional hoop net, with greater productivity in terms of individuals per trip, kilograms per trip, and kilograms per unit, as well as a significantly higher production margin increased significantly by 278,9% in individual and 354,6% in kg. This improvement is likely attributed to the expanded catchable area and the single-door design, which reduces the escape probability of the catch, indicating that the single-door of the 2-deck cone hoop net tiered krendet trap has strong potential as a more effective fishing technology to support sustainable crustacean resource utilization.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Finansial Pembuatan Kapal Fiberglass Ukuran 9 Meter di Galangan Kapal CV. Roni Marine</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172960" rel="alternate"/>
<author>
<name>Zahra, Kinanti Dzakkiyah Az</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172960</id>
<updated>2026-04-20T23:55:44Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Finansial Pembuatan Kapal Fiberglass Ukuran 9 Meter di Galangan Kapal CV. Roni Marine
Zahra, Kinanti Dzakkiyah Az
Kapal Fiberglass Reinforced Plastics (FRP) merupakan alternatif material kapal perikanan dalam memenuhi kebutuhan kapal yang kuat, tahan lama, serta mudah diproduksi. Penelitian ini bertujuan menjelaskan tahapan pembuatan, kebutuhan material, estimasi biaya, dan kelayakan usaha produksi kapal FRP berukuran 9 meter di galangan kapal CV. Roni Marine. Penelitian dilakukan melalui observasi langsung proses pembangunan kapal, wawancara dengan pihak galangan, pengukuran dimensi kapal, serta analisis biaya dan finansial. Hasil penelitian menunjukkan proses produksi dimulai dengan persiapan, pelapisan serat fiberglass, pemasangan kayu pada bagian sheer, pelepasan dari cetakan, pemasangan gading-gading dan penguat struktur kapal serta finish. Estimasi biaya produksi satu unit kapal sebesar Rp14.364.657 per unit kapal. Analisis finansial menunjukkan keuntungan Rp218.120.568 per tahun, R/C 1,25, B/C 1,253, NPV Rp1.529.717.193, IRR 124%, PP 0,80 tahun, dan BEP 48 unit, sehingga usaha terbukti layak dan menguntungkan.; Fiberglass Reinforced Plastics (FRP) boats are an alternative for fishing boats, providing durability, strength, and ease of production. This study aims to explain the production stages, material requirements, costs estimation, and business feasibility of constructing a 9-meter FRP boat at CV. Roni Marine Boatyard. The research was conducted through direct observation of the the boat construction process, interviews with boatyard staff, measurement of boat dimensions, and cost and financial analysis. The results show that production starts with preparation, fiberglass lamination, installation of wooden parts on the sheer, demolding, installation of internal frames and structural reinforcements, and final finishing. The estimated production cost of one boat unit is IDR 14.364.657. Financial analysis indicates an annual profit of IDR 218.120.568, with an R/C ratio of 1.25, B/C ratio of 1.253, NPV of IDR 1.529.717.193, IRR of 124%, a payback period of 0,80 years, and a break-even point of 48 units, demonstrating that the business is feasible and profitable.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Strategi Pengembangan Perikanan Bouke Ami di PPN Kejawanan Studi terhadap Pendapatan Nelayan dan Dampak Sosial Ekonomi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172942" rel="alternate"/>
<author>
<name>Hartono, Agus</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172942</id>
<updated>2026-04-15T06:21:12Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Strategi Pengembangan Perikanan Bouke Ami di PPN Kejawanan Studi terhadap Pendapatan Nelayan dan Dampak Sosial Ekonomi
Hartono, Agus
Strategi pengembangan perikanan Bouke Ami yang meliputi peningkatan teknologi penangkapan ikan, peningkatan infrastruktur pelabuhan, dan penguatan sistem distribusi dan pemasaran tangkapan secara terorganisir, mampu meningkatkan pendapatan nelayan dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir di sekitar PPN Kejawanan. Hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi nelayan, pengelola pelabuhan, pemerintah daerah, dan lembaga pengawas untuk mengembangkan kebijakan dan strategi yang efektif untuk meningkatkan pendapatan nelayan. Proses analisis meliputi identifikasi pendapatan dan perumusan strategi pengembangan perikanan Bouke ami untuk meningkatkan pendapatan perikanan dan memperbaiki kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar. Analisis SWOT digunakan untuk mengidentifikasi kekuatan dan peluang bisnis perikanan yaitu mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan nelayan serta ketersediaan armada dan alat tangkap untuk meningkatkan volume dan kualitas, serta memanfaatkan tangkapan cumi-cumi dan pendapatan yang tinggi dari usaha perikanan (skor 0,33). Hasil penelitian dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang kondisi sosial ekonomi dan mendukung pembangunan perikanan yang berkelanjutan; The Bouke Ami fisheries development strategy, which includes improving fishing technology, improving port infrastructure, and strengthening the distribution and marketing system of catches in an organized manner, is able to increase fishermen's income and improve the socio-economic conditions of coastal communities around the Kejawanan VAT. The results of the research can be a reference for fishermen, port managers, local governments, and supervisory institutions to develop effective policies and strategies to increase fishers' income. The analysis process includes income identification and formulation of a strategy for the development of the Bouke ami fishery to increase Fisheries' Income and Improve the Socio-Economic Conditions of the surrounding Community. The SWOT analysis is used to identify the strengths and opportunities of the fishing business, namely optimizing the fishermen''s experience and the availability of fleets and fishing gear to increase volume and quality, as well as taking advantage of the squid catch and high revenues from fishing businesses (score 0.33). The research results can provide a deeper understanding of the socioeconomic conditions and support sustainable fishery development.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kehilangan Alat Tangkap dan Dampaknya terhadap Pendapatan Nelayan Bubu dan Jaring Insang di Teluk Jakarta</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172940" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ibrahim, Muhammad Bayu</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172940</id>
<updated>2026-04-15T06:15:49Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kehilangan Alat Tangkap dan Dampaknya terhadap Pendapatan Nelayan Bubu dan Jaring Insang di Teluk Jakarta
Ibrahim, Muhammad Bayu
Bubu dan jaring insang merupakan jenis alat tangkap pasif yang berpotensi tinggi mengalami kehilangan. Hilangnya alat tangkap berdampak pada ekonomi nelayan karena nelayan harus mengganti alat tangkap. Kehilangan alat tangkap juga berpotensi mengurangi hasil tangkapan sehingga terjadi penurunan pendapatan. Penelitian ini bertujuan mengestimasi jumlah kehilangan bubu dan jaring insang, menganalisis kelayakan usaha unit perikanan bubu dan jaring insang, mengetahui penyebab dan dampak kehilangan alat tangkap tersebut terhadap pendapatan nelayan. Penelitian menggunakan metode survei lapangan terhadap populasi nelayan bubu dan jaring insang di Kali Adem, Muara Angke. Penelitian menghasilkan estimasi jumlah kehilangan alat tangkap sebanyak 1.588 unit bubu dan 285 piece jaring insang per bulan, atau 19.056 bubu dan 3.420 piece jaring insang per tahun. Penyebab kehilangan meliputi pencurian, terseret propeller kapal lain, konflik dengan alat tangkap lain, terbawa arus, kesalahan operasional, tersangkut terumbu karang, dan hilangnya pelampung tanda. Rata-rata biaya kehilangan bubu diestimasi mencapai Rp1.639.250 per bulan pernelayan pemilik bubu atau Rp19.774.750 per tahun. Sementara itu, rata-rata biaya kehilangan jaring insang diestimasikan senilai Rp2.454.540 per bulan per armada penangkapan jaring insang dan Rp29.945.388 per tahun. Usaha perikanan bubu dapat dikatakan layak dengan keuntungan per tahun sebesar Rp92.372.00 dan pengembalian investasi dalam waktu 1,9 tahun (23 bulan). Usaha perikanan jaring insang juga dapat dikatakan layak dengan keuntungan per tahun Rp90.278.000 dan pengembalian investasi dalam waktu 1,5 tahun (18 bulan). Penurunan pendapatan bulanan nelayan bubu diestimasi sebesar 12,7% pada musim puncak, 9,5% pada musim paceklik, dan 9,4% pada musim peralihan. Penurunan pendapatan bulanan nelayan jaring insang diestimasikan sebesar 8,9% pada musim puncak dan peralihan serta 8,8% pada musim paceklik.; Traps and gillnets as passive fishing gears have a high potential for loss during fishing operations, particularly in areas with intense fishing activity such as Jakarta Bay. The economic impact includes the need to replace lost gear and a decline in fishers' income. This study aims to estimate the number of traps and gillnets loss, analyze the feasibility of trap and gillnet fishing businesses, identify the causes and impact of fishing gear loss to the fishers’ income. The study found that estimated loss of traps and gillnets were 1.588 traps and 285 gillnets per month, respectively which equivalent to 19.056 traps and 3.420 gillnets per year. Identified causes of the gear loss include theft, being dragged by fishing boat propellers, conflict with other fishing gear, ocean currents, operational errors, entanglement with coral reefs, and the loss of marker buoys. The average financial loss from lost traps was estimated at Rp1.639.250 per month or Rp 19.774.750 per year, while the loss from gillnets was estimated at Rp2.454.540 per month or Rp29.945.388 per year. Trap fishing businesses can be considered feasible, with an annual profit of Rp92.372.000 and a payback period of 1.9 years (23 months). Similarly, gillnet fishing businesses were also considered feasible, with an annual profit of Rp90,278,000 and a payback period of 1.5 years (18 months). The estimated monthly income reduction for the trap fishers was 12.7% during peak season, 9.5% during the off-season, and 9.4% during the transitional season. For the gillnet fishers, the estimated income reduction was 8.9% during peak and transitional seasons, and 8.8% during the off-season.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
