<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Marine Science And Technology</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/110" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/110</id>
<updated>2026-05-26T13:30:58Z</updated>
<dc:date>2026-05-26T13:30:58Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Kandungan Logam Berat (Cd, Hg, Pb, dan Cu) pada Kolom Air dan Sedimen di Perairan Cilincing, Jakarta Utara</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173167" rel="alternate"/>
<author>
<name>Akhmadi, Ivan</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173167</id>
<updated>2026-05-25T23:45:46Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Kandungan Logam Berat (Cd, Hg, Pb, dan Cu) pada Kolom Air dan Sedimen di Perairan Cilincing, Jakarta Utara
Akhmadi, Ivan
Perairan Cilincing, Jakarta Utara, merupakan salah satu Kawasan pesisir yang mengalami tekanan dari berbagai aktivitas industri pelayaran, dan permukiman padat yang berpotensi menimbulkan pencemaran logam berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsentrasi kadmium (Cd), merkuri (Hg), timbal (Pb), dan tembaga (Cu) pada kolom air dan sedimen, serta mengevaluasi tingkat pencemaran berdasarkan baku mutu perairan dan sedimen. Pengambilan sampel dilakukan di tiga stasiun pada bulan Februari–Juli 2023. Konsentrasi logam berat dianalisis menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Pengukuran suhu, salinitas, pH, arus, dan pasut dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap fluktuasi konsentrasi Cd, Hg, Pb, dan Cu. Hasil penelitian menunjukkan nilai konsentrasi Cd, Hg, Pb, dan Cu di kolom air selama musim barat &#13;
melebihi baku mutu berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021, dengan &#13;
konsentrasi tertinggi masing-masing sebesar 0.001, 0.006, 0.061, 0.02 mg/L. &#13;
Sebaliknya konsentrasi logam berat pada sedimen tidak menunjukkan variasi &#13;
musiman yang signifikan (p &gt; 0.05). Hasil analisis mengindikasikan bahwa logam &#13;
Cd, Hg, dan Pb berasal dari sumber pencemaran yang sama. Pengaruh parameter &#13;
suhu menunjukkan hubungan yang cukup kuat terhadap Cd di sedimen. Sedangkan &#13;
parameter salinitas dan pH tidak menunjukkan hubungan yang kuat.; The waters of Cilincing North Jakarta, are one of the coastal areas experiencing pressure from various industrial, shipping, and densely populated residential activities that potentially contribute to heavy metal pollution. This study aims to analyze the concentrations of cadmium (Cd), mercury (Hg), lead (Pb), and copper (Cu) in the water column and sediments, as well as to evaluate pollution levels based on water and sediment quality standards. Sampling was conducted at three stations from February to July 2023. Heavy metal concentrations were analyzed using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) method. Measurements of temperature, salinity, pH, currents, and tides were carried out to determine their influence on fluctuations in Cd, Hg, Pb, and Cu concentrations. The results showed that Cd, Hg, Pb, and Cu concentrations in the water column during the west monsoon exceeded the quality standards established by Government Regulation No. 22 of 2021, with the highest concentrations reaching 0.001, 0.006, 0.061, and 0.02 mg/L, respectively. In contrast, heavy metal concentrations in sediments did not show significant seasonal variations (p &gt; 0.05). The analysis indicated that Cd, Hg, and Pb originated from similar pollution sources. Temperature showed a moderately strong relationship with Cd concentrations in sediments, whereas salinity and pH did not exhibit strong relationships.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muthiiah, Nahdah</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172985</id>
<updated>2026-04-24T07:11:10Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Asosiasi Makrozoobentos pada Ekosistem Lamun di Pulau Panjang, Banten
Muthiiah, Nahdah
Ekosistem lamun di Pulau Panjang berperan sebagai habitat bagi makrozoobentos. Informasi mengenai makrozoobentos dan keterkaitannya dengan lamun masih terbatas. Di sisi lain, wilayah ini memiliki potensi keanekaragaman hayati laut yang tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat kondisi aktual lamun, komposisi makrozoobentos, dan asosiasi keduanya. Pengambilan data lamun dilakukan dengan metode Seagrass Watch dan makrozoobentos diambil dengan dengan metode hand picking. Asosiasi makrozoobentos dan lamun menggunakan analisis korespondensi (CA). Penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi lamun di Pulau Panjang meliputi, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis. Kerapatan dan penutupan lamun yang tinggi di Stasiun 3 tidak diikuti dengan tingginya kelimpahan makrozoobentos. Kelimpahan makrozoobentos tertinggi didapatkan pada Stasiun 2. Makrozoobentos yang ditemukan sebanyak 64 spesies, yaitu dari Kelas Gastropoda, Kelas Malacostraca, Kelas Bivalvia, Kelas Holothuroidea, dan Kelas Ophiuroidea. Komunitas makrozoobentos menunjukkan keanekaragaman sedang hingga tinggi dengan distribusi individu antarspesies yang merata tanpa dominansi spesies tertentu. Hasil analisis korespondensi menunjukkan di Stasiun 1 terdapat asosiasi antara lamun T. hemprichii dan makrozoobentos Pictocolumbella ocellata. Asosiasi Stasiun 3 melibatkan makrozoobentos Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, dan Conus aristophanes serta lamun H. ovalis, S. isoetifolium, dan H. uninervis.; The seagrass ecosystem on Panjang Island serves as an important habitat for macrozoobenthos. However, information regarding macrozoobenthos communities and their relationship with seagrass in this area remains limited. Meanwhile, Panjang Island possesses high potential for marine biodiversity. This study aimed to assess the current condition of seagrass, analyze the composition of macrozoobenthos, and examine the association between the two. Seagrass data were collected using the Seagrass Watch method and macrozoobenthos samples were obtained through the hand-picking method. The seagrass composition on Panjang Island consisted of Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, and Halodule uninervis. The highest density and coverage of seagrass at Station 3 was not accompanied by high macrozoobenthos abundance. The highest abundance of macrozoobenthos was found at Station 2. A total of 64 macrozoobenthos species were identified, belonging to the classes Gastropoda, Malacostraca, Bivalvia, Holothuroidea, and Ophiuroidea. The macrozoobenthos community exhibited moderate to high diversity with an even distribution of individuals among species, and no single species showed dominance. At Station 1, an association was found between the seagrass T. hemprichii and the macrozoobenthos P. ocellata. The association at Station 3 involved macrozoobenthos such as Canarium urceus, Pyrene punctata, Holothuria sp., Vasticardium angulatum, Gutturnium muricinum, Umbonium sp., Phasianella solida, Canarium labiatum, Chicoreus brunneus, and Conus Aristophanes, and the seagrass species seagrass H. ovalis, S. isoetifolium, and H. uninervis.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ravelino, Muhammad</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172817</id>
<updated>2026-03-06T00:55:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Hydroacoustic Application For Estimating Zooplankton Abundance In The Southeastern Waters of Pari Island
Ravelino, Muhammad
This study evaluated the application of hydroacoustic technology for estimating zooplankton abundance in the southeastern waters of Pari Island using a 200 kHz Single Beam Echosounder and a 20 µm mesh size plankton net. Acoustic backscatter was recorded stationary at 14 stations using Echoview 4.0, resulting in volume strength (SV) ranging from -75 to -71 dB covering integrated zooplankton distributed over 0-55 meters depth were derived and compared with laboratory counts of zooplankton abundance (208.33 - 828.61 ind/L). The hydroacoustic measurements revealed clear vertical scattering layers and spatial gradients of zooplankton that coincided with variations in temperature, salinity, and sound speed, indicating heterogeneous but productive coastal conditions. However, SV showed only a weak positive correlation toward net-based zooplankton abundance (R² = 0.15), indicating suitable nature of hydroacoustic approach for spatial estimation of zooplankton distribution. Integration of hydroacoustic with plankton-net sampling remains essential for quantitative assessment, while the combined approach provides a useful basis for future near-real time zooplankton assessment in supports of coastal ecosystem ecosystem management in the Jakarta Bay; Penelitian ini mengevaluasi penerapan teknologi hidroakustik untuk menduga kelimpahan zooplankton di perairan tenggara Pulau Pari menggunakan Single Beam Echosounder 200 kHz dan jaring plankton diameter mesh 20 µm. Hamburan balik direkam secara stasioner menggunakan Echoview 4.0 di 14 stasiun, dan volumenya (SV) berkisar dari -75 hingga -71 dB terintegrasi untuk kedalaman 0-55 meter. Sampling zooplankton menghasilkan kelimpahan sebesar 208,33 - 828,61 ind/L. Pengukuran hidroakustik mengungkapkan adanya lapisan hambur balik yang jelas dan gradien spasial zooplankton yang dipengaruhu suhu, salinitas, dan kecepatan rambat suara di air. Namun, korelasi SV dengan kelimpahan zooplankton menunjukkan nilai positif yang rendah (R² = 0,15), menunjukkan bahwa pendekatan hidroakustik cocok untuk menduga distribusi spasial zooplankton. Oleh karena itu, integrasi teknologi hidroakustik dengan pengambilan sampel plankton tetap penting untuk pendugaan kuantitatif, sementara pendekatan terintegrasi memberikan dasar pengembangan masa depan pemantauan near-real time yang mendukung pengelolaan ekosistem pesisir di Teluk Jakarta.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Bioakustik pada Ikan Sidat Anguilla spp Fase Yellow eel Menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dalam Identifikasi Perilakunya</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172655" rel="alternate"/>
<author>
<name>Azka, Mikala</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172655</id>
<updated>2026-02-06T11:11:08Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Bioakustik pada Ikan Sidat Anguilla spp Fase Yellow eel Menggunakan Fast Fourier Transform (FFT) dalam Identifikasi Perilakunya
Azka, Mikala
Ikan sidat (Anguilla spp.) merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomis tinggi, baik di tingkat nasional maupun global. Bioakustik ikan sidat fase yellow eel dapat memberikan perspektif baru dalam mempelajari pola perilaku dan aktivitas dari suara yang dihasilkan saat bergerak atau mencari makan. Pengolahan suara yang dihasilkan akan diolah menggunakan metode Fast Fourier Transform (FFT). Penelitian ini bertujuan mengamati dan menganalisa bioakustik ikan sidat (Anguilla spp) fase yellow eel dan hubungannya dengan perilaku yellow eel di akuarium. Analisis bioakustik menunjukkan bahwa aktivitas akustik utama dominan terjadi pada frekuensi rendah hingga menengah (sekitar 200-500 Hz), yang merepresentasikan suara dari pergerakan tubuh dan interaksi dengan lingkungan. Ditemukan bahwa perlakuan pemberian pakan secara signifikan mempengaruhi profil akustik, baik dalam hal intensitas suara (dB) maupun energi total yang dihasilkan. Suara tidak hanya meningkat saat makan, tetapi sering kali menunjukkan puncak energi tertinggi justru pada fase antisipasi sebelum makan. Hal ini mengindikasikan bahwa metode bioakustik tidak hanya mampu mendeteksi tindakan fisik, tetapi juga dapat menjadi jendela untuk memahami keadaan perilaku hewan, seperti antisipasi atau kegelisahan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
