<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Forest Management</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/107</id>
<updated>2026-06-03T15:58:42Z</updated>
<dc:date>2026-06-03T15:58:42Z</dc:date>
<entry>
<title>Efektivitas Kelembagaan dan Perumusan Strategi Penguatan di KTH Giri Purnama Alam, Cikajang, Garut, Jawa Barat</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173115" rel="alternate"/>
<author>
<name>SOFIAN, SYIFA ISNA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173115</id>
<updated>2026-05-20T00:21:01Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Efektivitas Kelembagaan dan Perumusan Strategi Penguatan di KTH Giri Purnama Alam, Cikajang, Garut, Jawa Barat
SOFIAN, SYIFA ISNA
Pengelolaan hutan di Indonesia masih mengalami berbagai permasalahan seperti konflik tenurial, deforestasi, dan lemahnya kelembagaan pengelolaan hutan. Kelembagaan berfungsi sebagai struktur yang mengatur tata kelola, koordinasi, dan pembagian tugas. Namun, efektivitas kelembagaan sering kali belum berjalan dengan optimal. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat efektivitas kelembagaan dan merumuskan strategi penguatan kelembagaan di Kelompok Tani Hutan (KTH) Giri Purnama Alam. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif melalui penilaian sembilan parameter kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas kelembagaan di KTH berada pada tingkat cukup efektif. Strategi penguatan kelembagaan mencakup penataan sistem regulasi kelembagaan, pengembangan sistem kepemimpinan dan pembagian peran, optimalisasi ruang musyawarah dalam meningkatkan partisipasi anggota, serta pemeliharaan modal legitimasi dan ketahanan organisasi.; Indonesia’s forest management continues to face several challenges, including tenure conflicts, deforestation, and weak forest management institutions. Institutional frameworks are structures that govern management, coordination, and task division. However, the effectiveness of these institutions often falls short of optimal levels. This study aims to assess institutional effectiveness and formulate strategies for institutional strengthening in the Giri Purnama Alam Forest Farmer Group (KTH). The study employs both quantitative and qualitative approaches in assessing nine institutional parameters. The results indicate that institutional effectiveness within the KTH is categorized as fairly effective. Strategies for institutional strengthening include restructuring the institutional regulatory system, developing leadership systems and role allocation, optimizing forums for deliberation to enhance member participation, and maintaining institutional legitimacy and resilience.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Perubahan Penggunaan Lahan, Limpasan Permukaan di Sub-DAS Keduang dan Sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur.</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173113" rel="alternate"/>
<author>
<name>Krisanti, Eunike Rimbunita</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173113</id>
<updated>2026-05-20T00:18:08Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Perubahan Penggunaan Lahan, Limpasan Permukaan di Sub-DAS Keduang dan Sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur.
Krisanti, Eunike Rimbunita
Salah satu daerah tangkapan air utama yang berkontribusi terhadap sedimentasi Waduk Gajah Mungkur adalah Sub-DAS Keduang. Sub-DAS ini merupakan pemasok sedimen terbesar ke Waduk Gajah Mungkur, dengan kontribusi mencapai sekitar 40% dari total sedimen yang masuk ke waduk. Secara hidrologis, tingginya produksi sedimen di Sub-DAS Keduang berkaitan erat dengan dinamika perubahan penggunaan lahan dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika perubahan lahan serta dampaknya terhadap limpasan permukaan dan laju sedimentasi di Sub-DAS Keduang. Penelitian ini menggunakan metode pemodelan Soil and Water Assessment Tool (SWAT) untuk mengevaluasi kondisi penggunaan lahan tahun 2019 dan 2023. Hasil penelitian menunjukkan adanya perubahan penggunaan lahan di Sub-DAS Keduang pada periode 2019–2023, yaitu meningkatnya luasan permukiman (5,3%) dan hutan campuran (0,8%), serta menurunnya luasan semak belukar (14,5%) dan pertanian lahan kering (1,7%). Simulasi model membuktikan bahwa dinamika tutupan lahan tersebut berdampak nyata dalam meningkatkan laju muatan sedimen sebesar 12,7%, dari 333.978,5 ton menjadi 376.151,2 ton. Temuan ini mengimplikasikan bahwa degradasi tutupan vegetasi akibat alih fungsi lahan menjadi variabel penentu utama yang meningkatkan kerentanan tanah terhadap erosi.; One of the main catchments that contributes to the sedimentation of the Gajah Mungkur Reservoir is the Keduang Sub-watershed. This sub-watershed serves as the largest sediment supplier to the reservoir, with a contribution reaching approximately 40% of the total sediment inflow. Hydrologically, the high sediment yield in the Keduang Sub-watershed closely relates to the land use changes occurring in recent decades. This study aims to analyze the dynamics of land use change and its impact on surface runoff and sedimentation rates in the Keduang Sub-watershed. The method uses the Soil and Water Assessment Tool (SWAT) modeling to evaluate land use conditions in 2019 and 2023. The results indicate that land use in the Keduang Sub-watershed from 2019 to 2023 undergoes changes, namely an increase in settlement areas (5.3%) and mixed forests (0.8%), as well as a decrease in shrublands (14.5%) and dryland agriculture (1.7%). The model simulation proves that these land cover dynamics significantly increase the sediment yield rate by 12.7%, from 333,978.5 tons to 376,151.2 tons. These findings imply that vegetation cover degradation due to land conversion acts as the primary determining variable that increases soil vulnerability to erosion.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Paparan Panas terhadap Kesehatan Pekerja pada Kegiatan Delimbing di KPH Cepu, Jawa Tengah</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173088" rel="alternate"/>
<author>
<name>Sri, Njimou Pauline Merlin</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173088</id>
<updated>2026-05-18T06:11:18Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Paparan Panas terhadap Kesehatan Pekerja pada Kegiatan Delimbing di KPH Cepu, Jawa Tengah
Sri, Njimou Pauline Merlin
Kegiatan delimbing merupakan tahapan pemanenan kayu yang dilakukan di ruang terbuka dengan beban kerja fisik berat sehingga berpotensi menimbulkan tekanan panas pada operator chainsaw. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat paparan panas berdasarkan indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), mengidentifikasi gejala heat strain dan persepsi kenyamanan termal pekerja, serta menganalisis hubungan antara WBGT dengan heat strain dan kenyamanan termal pada kegiatan delimbing di KPH Cepu, Jawa Tengah. Pengukuran iklim kerja dan suhu tubuh dilakukan pada sesi pagi dan sesi siang, bersamaan dengan data heat strain dan kenyamanan termal yang dikumpulkan melalui wawancara. Hasil penelitian berdasarkan uji korelasi Spearman menunjukkan bahwa WBGT berkorelasi positif signifikan dengan heat strain (? = 0,369; p &lt; 0,05) dan berkorelasi negatif signifikan dengan kenyamanan termal (? = -0,414; p &lt; 0,05). Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan tekanan panas lingkungan diikuti oleh peningkatan respons fisiologis pekerja dan penurunan kenyamanan termal. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pengendalian paparan panas pada kegiatan delimbing untuk mendukung perlindungan kesehatan pekerja.; Delimbing is a timber harvesting activity conducted in open areas with considerable physical workload, which exposes chainsaw operators to environmental heat pressure. This study aimed to identify heat exposure levels based on the Wet Bulb Globe Temperature (WBGT), examine heat strain symptoms and thermal comfort perception, and analyze the relationship between WBGT, heat strain, and thermal comfort during delimbing activities at KPH Cepu, Central Java. Measurements of work climate parameters and body temperature were carried out in the morning session and afternoon session, along with heat strain and thermal comfort data collected through individual interviews. The results based on Spearman correlation test shows that WBGT has a significant positive correlation with heat strain (? = 0.369; p &lt; 0.05) and a significant negative correlation with thermal comfort (? = -0.414; p &lt; 0.05). These findings confirm that increasing environmental heat pressure elevates workers’ physiological responses and reduces thermal comfort. The study highlights the need for effective heat exposure control in delimbing operations to support occupational health protection.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kelayakan Usaha Madu Klanceng (Trigona sp) di Kecamatan  Cipari, Kabupaten Cilacap</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172793" rel="alternate"/>
<author>
<name>WIGUNA, AKMAL BAYU</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172793</id>
<updated>2026-03-02T23:15:49Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kelayakan Usaha Madu Klanceng (Trigona sp) di Kecamatan  Cipari, Kabupaten Cilacap
WIGUNA, AKMAL BAYU
Permintaan madu klanceng (Trigona sp.) yang terus meningkat mendorong &#13;
pengembangan usaha budidaya di Kecamatan Cipari, Kabupaten Cilacap. &#13;
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kelayakan usaha, efisiensi pemasaran, &#13;
dan kontribusi usaha madu klanceng terhadap pendapatan rumah tangga petani. &#13;
Penelitian dengan menggunakan metode survei dengan responden dipilih secara &#13;
sengaja. Kelayakan usaha diukur menggunakan Net Present Value (NPV), Internal &#13;
Rate of Return (IRR),  Benefit Cost Ratio (BCR), efisiensi pemasaran, dan analisis &#13;
pendapatan. Hasil kelayakan usaha menunjukkan usaha ini layak dijalankan dengan &#13;
nilai NPV sebesar Rp28.843.547, IRR 9%, dan BCR sebesar 4,13. Terdapat tiga &#13;
saluran pemasaran yang terbentuk, yaitu penjualan langsung, daring, dan melalui &#13;
agen. Saluran pemasaran langsung dan daring terbukti lebih efisien dibandingkan &#13;
melalui agen, dengan farmer’s share pada saluran langsung mencapai 100% dan &#13;
efisiensi pemasaran sebesar 0,56%. Usaha budidaya madu klanceng memberikan &#13;
kontribusi sebesar 26,45% terhadap total pendapatan rumah tangga petani, &#13;
sementara 73.55% sisanya berasal dari sumber pendapatan non-madu.; The increasing demand for Klanceng honey (Trigona sp.) encourages the &#13;
development of beekeeping businesses in Cipari District, Cilacap Regency. This &#13;
study aims to explain the feasibility of the business, marketing efficiency, and &#13;
contribution of the klanceng honey business to the income of farmer households. &#13;
The study used a survey method with respondents selected purposively. Business &#13;
feasibility is measured using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return &#13;
(IRR), Benefit Cost Ratio (BCR), marketing efficiency, and income analysis. The &#13;
financial analysis results indicated that the business is feasible, with an NPV of IDR &#13;
28,843,547, an IRR of 9%, and a BCR of 4.13. There are three marketing channels &#13;
identified: direct sales, online sales, and agents. Direct marketing and online &#13;
marketing were proven to be more efficient than using agents, with the farmer's &#13;
share in the direct channel reaching 100% and a marketing efficiency of 0.56%. The &#13;
Klanceng honey cultivation business contributed 26,45% to the total household &#13;
income of farmers, while the remaining 73,55% came from non-honey income &#13;
sources.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
