<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Conservation of Forest and Ecotourism</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/105</id>
<updated>2026-07-01T12:00:32Z</updated>
<dc:date>2026-07-01T12:00:32Z</dc:date>
<entry>
<title>Tata Niaga, Sebaran Geografis Lokasi Transaksi dan Pendugaan Volume Perdagangan Ilegal Macan Dahan Sunda (Neofelis diardi, Cuvier 1823)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173785" rel="alternate"/>
<author>
<name>AGUSTIAN, ALFIAN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173785</id>
<updated>2026-06-30T03:40:57Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Tata Niaga, Sebaran Geografis Lokasi Transaksi dan Pendugaan Volume Perdagangan Ilegal Macan Dahan Sunda (Neofelis diardi, Cuvier 1823)
AGUSTIAN, ALFIAN
Perdagangan ilegal macan dahan sunda (Neofelis diardi) merupakan salah satu ancaman terhadap kelestariannya di Indonesia. Fenomena ini diakibatkan oleh tingginya permintaan pasar serta belum efektifnya pengawasan terhadap perdagangan ilegal satwa liar. Penelitian ini bertujuan menganalisis alur tata niaga, karakteristik dan peran pelaku, serta menduga volume dan nilai perdagangan ilegal macan dahan sunda di Indonesia periode 2015-2025. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif berdasarkan data dari Sistem Informasi Penelusuran Perkara, Direktori Putusan Mahkamah Agung, laporan instansi terkait, media sosial dan berita internet. Hasil penelitian menunjukkan terdapat empat jenis alur perdagangan dengan dominasi alur market space restricted, transaksi ditemukan di 46 kota dan kabupaten dari 15 provinsi. Sebanyak 87 pelaku ditemukan dengan peran dominan meliputi pemburu oportunis, perantara penjaja dan konsumen kolektor. Selama periode penelitian ditemukan 52 kasus dengan total 60 individu dan estimasi nilai ekonomi mencapai Rp430.460.000 atau rata-rata Rp7.175.000 per individu.; Illegal trade of the Sunda clouded leopard (Neofelis diardi) constitutes one of the major threats to the conservation of this species in Indonesia. This phenomenon is driven by high market demand and ineffective monitoring and enforcement of illegal wildlife trade. This study aimed to analyze trade chains, the characteristics and roles of actors involved, and to estimate the volume and economic value of illegal trade in Sunda clouded leopards in Indonesia during the 2015-2025 period. A descriptive method with quantitative and qualitative approaches was employed using data obtained from the Case Tracking Information System, the Supreme Court Decision Directory, reports from relevant institutions, social media, and online news sources. The results revealed four types of trade chains, with the market space restricted chain being the most dominant. Transactions were identified in 46 cities and regencies across 15 provinces. A total of 87 actors were identified and 52 illegal trade cases involving 60 individuals were recorded, with an estimated economic value of IDR 430,460,000, equivalent to an average of IDR 7,175,000 per individual.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Potensi Aren (Arenga pinnata Merr.) pada Masyarakat Kasepuhan di Desa Citorek Barat, Kabupaten Lebak, Banten</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173690" rel="alternate"/>
<author>
<name>MAULIDIA, RADEN RAHMANDA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173690</id>
<updated>2026-06-25T08:36:20Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Potensi Aren (Arenga pinnata Merr.) pada Masyarakat Kasepuhan di Desa Citorek Barat, Kabupaten Lebak, Banten
MAULIDIA, RADEN RAHMANDA
Aren (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) merupakan tanaman palem bernilai&#13;
ekonomi tinggi karena bagiannya dapat dimanfaatkan, terutama bunga tandannya dalam produksi nira dan kolang-kaling, sebagai bahan pangan. Masyarakat Kasepuhan Desa Citorek Barat, Kabupaten Lebak, telah lama memanfaatkan aren sebagai sumber penghidupan melalui produksi nira dan kolang-kaling. Namun, pemanfaatan yang masih bersifat tradisional dan ketergantungan tegakan liar tanpa budidaya terencana menimbulkan kekhawatiran keberlanjutan sumber daya tersebut. Penelitian bertujuan mengkaji potensi tegakan aren serta menduga produksi nira dan kolang-kaling di Desa Citorek Barat. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, wawancara, dan sensus. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2524 individu tegakan aren pada luasan 20,44 ha dengan dominasi tingkat semai yang menunjukkan regenerasi alami masih berlangsung. Potensi produksi nira diperkirakan mencapai 1465,29 liter/hari, sedangkan potensi produksi kolang-kaling berkisar 30.150 kg/panen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa aren memiliki potensi ekonomi yang besar dan perlu didukung melalui pengelolaan serta pengembangan budidaya yang berkelanjutan; Sugar palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.) is a palm with high economic&#13;
value, especially the bunches in the production of palm sap and sugar palm, as food. The Kasepuhan community of Citorek Barat Village, Lebak Regency, has long relied on sugar palm as a livelihood through the production of palm sap and kolangkaling (processed palm fruit). However, its utilization remains traditional and depends on wild stands without planned cultivation, raising concerns about longterm sustainability. This study aimed assess the potential of sugar palm stands and estimate palm sap and kolang-kaling production in Citorek Barat Village. The research methods included literature review, field observation, interviews, and a census. The results showed that 2529 sugar palm individuals were found within 20,44 ha and dominated by seedlings indicating ongoing natural regeneration. Potential production reached 1465,29 liters of palm sap per day, while kolang-kaling ranged from 30.150 kg per harvest. These findings highlight the significant economic potential of sugar palm and the need for sustainable management and cultivation development
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Interaksi dan Strategi Penguatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Padabeunghar sebagai Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173645" rel="alternate"/>
<author>
<name>HERVIAN, AGISNA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173645</id>
<updated>2026-06-24T06:14:50Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Interaksi dan Strategi Penguatan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Padabeunghar sebagai Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai
HERVIAN, AGISNA
Desa Padabeunghar merupakan desa penyangga Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang sebagian besar wilayahnya berada dalam kawasan konservasi sehingga aktivitas masyarakat berimplikasi langsung terhadap kelestarian kawasan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi interaksi, persepsi, dan strategi penguatan pemberdayaan masyarakat pada KTH Rimba Mekar dan KTH Karang Tengah. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi lapangan, lalu dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTH Rimba Mekar memiliki interaksi tinggi (4,37) akibat ketergantungan pada penyadapan getah pinus, tetapi persepsinya rendah (2,12) karena belum adanya kepastian legal kemitraan. KTH Karang Tengah memiliki interaksi dan persepsi yang lebih positif, namun menghadapi stagnasi kelembagaan akibat konflik internal. Kedua kelompok berada pada kuadran III (turnaround), sehingga strategi difokuskan pada penguatan kelembagaan, legalisasi kemitraan, dan peningkatan komunikasi antarpihak
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengaruh Konsentrasi Hormon Indole-3-butyric Acid (IBA) Terhadap Pertumbuhan Akar Pule Pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. Ex Kurz.) Secara In Vitro</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173635" rel="alternate"/>
<author>
<name>Ilma, Mutiara Permata</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173635</id>
<updated>2026-06-24T03:43:47Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengaruh Konsentrasi Hormon Indole-3-butyric Acid (IBA) Terhadap Pertumbuhan Akar Pule Pandak (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. Ex Kurz.) Secara In Vitro
Ilma, Mutiara Permata
Penelitian dilatarbelakangi oleh pentingnya optimasi zat pengatur tumbuh dalam kultur jaringan untuk meningkatkan keberhasilan pertumbuhan eksplan pule pandak. Penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi Indole-3-butyric acid (IBA) dan rasio auksin–sitokinin terhadap pertumbuhan dan perkembangan eksplan secara in vitro. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap empat perlakuan M0 (IBA 0 mg/L), M1 (IBA 2 mg/L), M2 (IBA 4 mg/L), M3 (IBA 6 mg/L) dengan lima ulangan, masingmasing terdiri atas enam botol kultur. Parameter yang diamati meliputi tinggi eksplan, jumlah tunas, jumlah daun, berat basah dan kering, serta kondisi tunas, daun, akar dan kalus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan M2 dan M3 cenderung memberikan respons pertumbuhan terbaik, ditandai dengan peningkatan jumlah dan kualitas tunas serta daun, serta biomassa yang lebih tinggi, sedangkan M0 dan M1 menunjukkan kecenderungan penurunan kualitas jaringan. Namun demikian, pada seluruh perlakuan belum terjadi pembentukan akar, yang diduga berkaitan dengan keseimbangan hormon yang belum optimal untuk induksi perakaran. Dengan demikian, kombinasi IBA dan rasio auksin–sitokinin pada perlakuan M2 dan M3 merupakan kondisi yang lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan eksplan pule pandak secara in vitro, meskipun belum mampu menginduksi pembentukan akar in vitro.; This study was motivated by the importance of optimizing plant growth regulators in tissue culture to improve the growth performance of pule pandak explants. The objective of this research was to analyze the effects of different concentrations of Indole-3-butyric acid (IBA) and auxin–cytokinin ratios on the growth and development of explants cultured in vitro. The experiment employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments: M0 (0 mg/L IBA), M1 (2 mg/L IBA), M2 (4 mg/L IBA), and M3 (6 mg/L IBA), with five replications, each consisting of six culture bottles. The observed parameters included explant height, number of shoots, number of leaves, fresh and dry weight, as well as the condition of shoots, leaves, roots, and callus. The results showed that treatments M2 and M3 tended to produce the best growth responses, as indicated by a higher number and better quality of shoots and leaves, along with greater biomass accumulation. In contrast, treatments M0 and M1 showed a tendency toward declining tissue quality. However, root formation was not observed in any treatment, suggesting that the hormonal balance was not yet optimal for root induction. Therefore, the combination of IBA concentration and auxincytokinin ratio in treatments M2 and M3 was considered more favorable for supporting the in vitro growth of pule pandak explants, although it was still insufficient to induce root formation.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
