<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UF - Silviculture</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/104</id>
<updated>2026-08-12T18:37:02Z</updated>
<dc:date>2026-08-12T18:37:02Z</dc:date>
<entry>
<title>Pendugaan Cadangan Karbon Atas Permukaan pada Tegakan Jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang Kabupaten Bogor</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178419" rel="alternate"/>
<author>
<name>PUTRA, RAMADIAN HERTA</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178419</id>
<updated>2026-08-12T04:53:09Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pendugaan Cadangan Karbon Atas Permukaan pada Tegakan Jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang Kabupaten Bogor
PUTRA, RAMADIAN HERTA
Tegakan hutan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam biomassa. Penelitian ini bertujuan mengestimasi biomassa dan cadangan karbon di atas permukaan pada tegakan jati (Tectona grandis L.f.) di BKPH Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode purposive sampling pada tegakan tahun tanam 2018, 2021, dan 2024. Biomassa pohon dan cadangan karbon dihitung menggunakan metode non-destuktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tegakan umur 8 tahun memiliki biomassa dan cadangan karbon tertinggi, yaitu 175,31 ton/ha dan 82,40 ton/ha, sedangkan tegakan umur 2 tahun memiliki nilai terendah, yaitu 8,00 ton/ha dan 3,76 ton/ha. Total cadangan karbon pada areal penelitian mencapai 1.351,58 ton C. Hasil ini menunjukkan bahwa tegakan jati berpotensi sebagai penyerap dan penyimpan karbon yang efektif dalam mendukung mitigasi perubahan iklim.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Penharuh Kelimpahan Makrofauna Tanah Terhadap Kualitas Tapak di Kawasan Gunung Walat, Sukabumi</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178216" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pahlevi, Muhammad Adam Rizq</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178216</id>
<updated>2026-08-11T06:39:36Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Penharuh Kelimpahan Makrofauna Tanah Terhadap Kualitas Tapak di Kawasan Gunung Walat, Sukabumi
Pahlevi, Muhammad Adam Rizq
Makrofauna tanah merupakan salah satu organisme yang berperan penting dalam menjaga kualitas tanah dan dapat digunakan sebagai indikator kondisi ekosistem. Penelitian ini bertujuan menganalisis kelimpahan, komposisi, biodiversitas makrofauna tanah, serta hubungannya dengan kualitas tapak pada tegakan Agathis, Pinus, Puspa, dan lahan pascatambang di Kawasan Gunung Walat. Penelitian dilakukan menggunakan metode purposive sampling dan data dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman (H'), kekayaan jenis (DMg), kemerataan (E), uji BNT, dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan makrofauna tanah tertinggi terdapat pada tegakan Puspa (11,33 individu m?²) dan terendah pada lahan pascatambang (4,33 individu m?²). Tegakan Puspa juga memiliki nilai biodiversitas tertinggi (H' = 1,67; DMg = 1,70; E = 0,86). Kelimpahan makrofauna tanah berkorelasi positif dengan C-organik, porositas, respirasi tanah, dan serasah, serta berkorelasi negatif dengan bulk density, suhu tanah, dan suhu udara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi kualitas tapak yang lebih baik cenderung mendukung kelimpahan dan biodiversitas makrofauna tanah.; Soil macrofauna are important organisms that contribute to soil quality and serve as indicators of ecosystem condition. This study aimed to analyze the abundance, composition, biodiversity, and relationship of soil macrofauna with site quality in Agathis, Pine, and Puspa stands, as well as a post-mining area at the Gunung Walat Area, Sukabumi. The study used a purposive sampling method, and the data were analyzed using the Shannon-Wiener diversity index (H'), Margalef richness index (DMg), Pielou's evenness index (E), the Least Significant Difference (LSD) test, and Pearson correlation. The highest macrofauna abundance was recorded in the Puspa stand (11.33 individuals m?²) and the lowest in the post-mining area (4.33 individuals m?²). Macrofauna abundance was positively correlated with soil organic carbon, porosity, soil respiration, and litter, but negatively correlated with bulk density, soil temperature, and air temperature, indicating that better site quality supports higher macrofauna abundance and biodiversity.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>STATUS MIKORIZA ARBNUSKULA DI HUTAN SEKUNDER DATARAN RENDAH AREA HUTAMOSU PT AGINCOURT RESOURCES, TAPANULI SELATAN</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178184" rel="alternate"/>
<author>
<name>Maulana, Nabil Zulfa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178184</id>
<updated>2026-08-11T04:27:23Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">STATUS MIKORIZA ARBNUSKULA DI HUTAN SEKUNDER DATARAN RENDAH AREA HUTAMOSU PT AGINCOURT RESOURCES, TAPANULI SELATAN
Maulana, Nabil Zulfa
Fungi mikoriza arbuskula (FMA) merupakan mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam meningkatkan penyerapan unsur hara dan pertumbuhan tanaman. Namun, status mikoriza arbuskula pada vegetasi hutan sekunder dataran rendah area Hutamosu belum diketahui. Penelitian ini bertujuan menganalisis status mikoriza arbuskula melalui analisis vegetasi, kolonisasi akar, dan identifikasi spora FMA. Pengambilan sampel dilakukan pada lima plot berukuran 20 × 20 m menggunakan teknik purposive sampling. Sampel akar diambil dari satu spesies tumbuhan yang mewakili vegetasi pada setiap plot, sedangkan sampel tanah digunakan untuk isolasi spora dengan metode wet sieving and decanting. Kolonisasi akar diamati menggunakan pewarnaan Trypan Blue. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vegetasi didominasi oleh famili Euphorbiaceae dan Fabaceae dengan 30 spesies tumbuhan inang. Kolonisasi akar ditandai oleh terbentuknya hifa internal, entry point, vesikula, arbuskula dan koil dengan tingkat kolonisasi 41,67–75,64%. Identifikasi spora menunjukkan keberadaan dua genus FMA, yaitu Glomus dan Acaulospora. Berdasarkan hasil tersebut, hutan sekunder dataran rendah area Hutamosu memiliki status mikoriza yang tergolong mikotropik.; Arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) are soil microorganisms that play an important role in enhancing nutrient uptake and plant growth. However, the mycorrhizal status of vegetation in the Hutamosu Lowland Secondary Forest has not yet been identified. This study aimed to analyze the arbuscular mycorrhizal status through vegetation analysis, root colonization, and AMF spore identification. Sampling was conducted in five 20 × 20 m plots using a purposive sampling method. Root samples were collected from one representative plant species in each plot, while soil samples were used for AMF spore isolation using the wet sieving and decanting method. Root colonization was examined using the Trypan Blue staining technique. The results showed that the vegetation was dominated by the families Euphorbiaceae and Fabaceae, comprising 30 host plant species. Root colonization was characterized by the presence of internal hyphae, entry points, vesicles, arbuscules and coil with colonization rates ranging from 41.67% to 75.64%. Spore identification revealed the presence of two AMF genera, namely Glomus and Acaulospora. These findings indicate that the Hutamosu Lowland Secondary Forest exhibits a mycotrophic status.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Perbandingan Stok Karbon Tanah antara Hutan Campuran dan Hutan Tanaman Dipterocarpaceae di Hutan Penelitian Dramaga</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178183" rel="alternate"/>
<author>
<name>Agiki, Tiara Ulfa</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178183</id>
<updated>2026-08-11T04:22:38Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Perbandingan Stok Karbon Tanah antara Hutan Campuran dan Hutan Tanaman Dipterocarpaceae di Hutan Penelitian Dramaga
Agiki, Tiara Ulfa
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi awal mengenai perbedaan stok karbon tanah antara hutan campuran dan hutan tanaman Dipterocarpaceae serta hubungannya dengan keanekaragaman jenis pohon dan kerapatan vegetasi pohon di Hutan Penelitian Dramaga. Pengambilan sampel dilakukan pada November–Desember 2025 pada masing-masing 10 plot di kedua tipe hutan. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0–15 cm untuk analisis C-organik dan bobot isi tanah. Karakteristik vegetasi dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman jenis pohon Shannon–Wiener (H’) dan kerapatan vegetasi pohon. Data dianalisis menggunakan independent samples t-test dan korelasi Spearman.&#13;
Rata-rata stok karbon tanah hutan tanaman Dipterocarpaceae sebesar 104,54 ton ha-1, sedangkan hutan campuran sebesar 102,01 ton ha-1, dan tidak berbeda nyata (p = 0,882). Indeks keanekaragaman jenis pohon dan kerapatan pohon tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan stok karbon tanah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa stok karbon tanah pada kedua tipe hutan relatif serupa dan tidak berkaitan secara nyata dengan kedua karakteristik vegetasi tersebut.; This study aimed to provide preliminary information on the differences in soil carbon stocks between mixed forests and Dipterocarpaceae plantation forests and their relationships with tree species diversity and tree density in the Dramaga Research Forest. Soil sampling was conducted from November to December 2025 in 10 plots established in each forest type. Soil samples were collected at a depth of 0–15 cm for organic carbon and bulk density analyses. Vegetation characteristics were assessed using the Shannon–Wiener diversity index (H') and tree density. Data were analyzed using an independent samples t-test and Spearman's correlation. The mean soil carbon stock was 104,54 ton ha-1 in the Dipterocarpaceae plantation forest and 102,01 ton ha-1in the mixed forest, with no significant difference between the two forest types (p = 0,882). Tree species diversity and tree density were not significantly correlated with soil carbon stock. Therefore, soil carbon stocks in the&#13;
two forest types were relatively similar and were not significantly associated with either vegetation characteristic.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
