<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>UT - Civil and Environmental Engineering</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100" rel="alternate"/>
<subtitle/>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/100</id>
<updated>2026-06-18T13:03:26Z</updated>
<dc:date>2026-06-18T13:03:26Z</dc:date>
<entry>
<title>Oxygen Transfer and Ammonia Nitrification Modeling for Aeration Optimization in Integrated Biofilm–Membrane Recirculating Aquaculture Systems</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173393" rel="alternate"/>
<author>
<name>BATUBARA, RYU PRANANDA SULTAN</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173393</id>
<updated>2026-06-12T08:37:05Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Oxygen Transfer and Ammonia Nitrification Modeling for Aeration Optimization in Integrated Biofilm–Membrane Recirculating Aquaculture Systems
BATUBARA, RYU PRANANDA SULTAN
Recirculating Aquaculture System (RAS) is an aquaculture technology capable of maintaining water quality through recirculation and biological treatment processes. One of the main challenges in this system is ammonia control, which can affect fish health and water quality stability. This study evaluated three experimental airflow conditions (100, 150, and 190 L/min) and simulated additional airflow scenarios from 80 to 220 L/min using a Monod-based nitrification model. The research methodology involved the development of a Monod kinetics-based mathematical model considering the effects of NH3, dissolved oxygen (DO), alkalinity, temperature, and pH on the activity of ammonia oxidizing bacteria (AOB). The results showed that increasing airflow enhanced DO concentration, resulting in more effective nitrification and lower NH3 effluent concentration. Model validation showed the strongest agreement at an airflow of 190 L/min, with R2 of 0.923 and RMSE of 0.049 mg/L, indicating that the calibrated model captured the observed NH3 effluent trend under this operating condition. Although higher airflow improved oxygen availability, the highest percentage NH3 removal was observed at 150 L/min, while 190 L/min produced the lowest effluent NH3 and the best model fit under a lower influent load.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Analisis Mekanisme Pendinginan Pasif Sistem Green Roof melalui Proses Evapotranspirasi Tanaman Krokot Mawar (Portulaca grandiflora)</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173376" rel="alternate"/>
<author>
<name>SUHERMAN, BAYU HAKI</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173376</id>
<updated>2026-06-12T00:11:42Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Mekanisme Pendinginan Pasif Sistem Green Roof melalui Proses Evapotranspirasi Tanaman Krokot Mawar (Portulaca grandiflora)
SUHERMAN, BAYU HAKI
Peningkatan konsumsi energi bangunan merupakan dampak nyata dari fenomena Urban Heat Island (UHI) di area perkotaan. Penerapan green roof ekstensif menjadi salah satu solusi berbasis alam yang potensial, namun kajian mengenai dinamika termal secara diurnal pada kawasan tropis masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis mekanisme pendinginan pasif sistem bervegetasi krokot mawar (Portulaca grandiflora) dibandingkan dengan sistem tanpa vegetasi pada kondisi kering dan basah. Metode ini dilakukan secara eksperimental menggunakan kotak uji skala lapangan berukuran 1 m × 1 m × 0,3 m dengan pemantauan kontinu 24 jam terhadap parameter iklim mikro, keseimbangan energi, serta karakteristik distribusi dan perambatan profil suhu multilapis vertikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem bervegetasi lebih efektif dalam mereduksi fluktuasi panas ekstrem melalui pengalihan energi matahari menjadi fluks panas laten. Pada kondisi kering, suhu puncak permukaan mampu ditekan hingga 11,23 °C lebih dingin dibandingkan sistem tanpa vegetasi; The escalating energy consumption in buildings represents a critical consequence of the Urban Heat Island (UHI) phenomenon in metropolitan areas. The implementation of extensive green roofs has emerged as a promising nature-based solution; nevertheless, research elucidating their diurnal thermal dynamics within tropical regions remains profoundly limited. This study aims to investigate the passive cooling mechanisms of a vegetated green roof system utilizing krokot mawar (Portulaca grandiflora) in comparison to a non-vegetated system under both dry and wet conditions. An experimental methodology was deployed utilizing field-scale test boxes measuring 1 m × 1 m × 0.3 m, integrated with continuous 24-hour monitoring of microclimate parameters, energy balance, as well as vertical multilayer temperature profiles and propagation characteristics. The empirical findings indicate that the vegetated system is more effective in mitigating extreme thermal fluctuations by partitioning solar radiation into latent heat flux. Under dry conditions, the peak surface temperature was successfully suppressed to 11.23 °C cooler than the non-vegetated system
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pemanfaatan Limbah Instalasi Pengolahan Air Minum Sebagai Substitusi Aggregat Halus Pada Beton Ringan</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172157" rel="alternate"/>
<author>
<name>Khadafi, Muhammad Farhan Husain</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172157</id>
<updated>2026-01-20T03:27:38Z</updated>
<published>2026-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pemanfaatan Limbah Instalasi Pengolahan Air Minum Sebagai Substitusi Aggregat Halus Pada Beton Ringan
Khadafi, Muhammad Farhan Husain
Pemanfaatan Water Treatment Sludge (WTS) sebagai substitusi agregat halus pada beton ringan berpotensi mengurangi limbah serta memberikan nilai tambah pada proses pengolahan air. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi kadar WTS dan Faktor Air Semen (FAS) terhadap sifat mekanik beton ringan melalui pengujian laboratorium dengan rancangan campuran berbasis ACI 523.3R-14 dan karakterisasi bahan sesuai standar SNI. Variasi WTS sebesar 0%, 5%, 10%, dan 15% serta FAS 0,3 hingga 0,6 digunakan untuk mengevaluasi perubahan berat isi dan kuat tekan. Hasil penelitian menunjukkan penambahan WTS meningkatkan berat isi, sementara kuat tekan menurun seiring meningkatnya FAS dan kadar WTS; namun kombinasi FAS 0,3–0,5 dengan WTS hingga 5% masih memenuhi persyaratan kuat tekan minimum 2,0 MPa untuk beton ringan non-struktural. Kondisi optimum diperoleh pada FAS 0,4 dengan 5% WTS yang menghasilkan kuat tekan tertinggi 5,62 MPa, menunjukkan bahwa WTS dapat dimanfaatkan sebagai substitusi parsial agregat halus tanpa menurunkan performa beton ringan&#13;
secara signifikan.
</summary>
<dc:date>2026-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Biokonversi Limbah Organik&#13;
Menggunakan Larva Black Soldier Fly (BSF) Menjadi Protein Pakan Kelinci Mini&#13;
Rex</title>
<link href="http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171556" rel="alternate"/>
<author>
<name>Pramono, Alma Amanda Nai'la</name>
</author>
<id>http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/171556</id>
<updated>2026-02-18T04:33:47Z</updated>
<published>2025-01-01T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Biokonversi Limbah Organik&#13;
Menggunakan Larva Black Soldier Fly (BSF) Menjadi Protein Pakan Kelinci Mini&#13;
Rex
Pramono, Alma Amanda Nai'la
Pengelolaan sampah organik perkotaan memerlukan solusi inovatif. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas biokonversi limbah organik sisa makanan rumah makan Padang menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) untuk dijadikan pakan kelinci Mini Rex. Metode meliputi biokonversi limbah dengan dua formulasi pakan (A dan B), analisis mutu pakan berdasarkan SNI 8509:2018, dan uji performa pada kelinci selama 31 hari. Hasil menunjukkan Pelet A memiliki efisiensi biokonversi lebih tinggi (D=87,07%; WRI=6,7%/hari; FMCR=16,37 mg/larva/hari) dibanding Pelet B. Kedua pakan memenuhi standar protein (18- 19%) namun gagal memenuhi standar serat kasar dan kadar air SNI. Pada uji aplikasi, Pelet A menghasilkan performa pertumbuhan yang signifikan lebih unggul (FCR=2,52; SGR=1,45%) dibanding Pelet B (FCR=3,94; SGR=1,01%). Disimpulkan bahwa larva BSF efektif mengonversi limbah, namun formulasi pakan menjadi faktor krusial untuk menghasilkan pakan berkualitas.
</summary>
<dc:date>2025-01-01T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
