| dc.description.abstract | Ikan sidat merupakan komoditas yang memiliki nilai gizi yang cukup
tinggi dan digemari oleh masyarakat di dunia seperti Jepang, Cina, Taiwan,
Jerman, Belanda, Perancis dan Denmark. Adanya kebutuhan pasar ekspor,
menjadikan komoditas ikan sidat memiliki nilai ekonomis tinggi. Sampai saat ini
kebutuhan pasar ekspor ikan sidat dipenuhi melalui kegiatan pembesaran di
media budidaya sampai ukuran konsumsi. Tingginya kebutuhan pasar ekspor
mendorong semakin meningkatnya kegiatan penangkapan ikan sdidat.
Perairan Sungai Poso, Danau Poso dan Teluk Tomini di Sulawesi Tengah
merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi sumberdaya ikan sidat
yang potensial. Ikan sidat di daerah ini ditangkap dari benih sampai ukuran
dewasa, sesuai dengan siklus hidupnya. Penangkapan benih dilakukan di Muara
Sungai Poso, sementara itu sidat ukuran dewasa ditangkap di Danau Poso.
Ikan sidat (Anguilla spp) merupakan jenis katadromus yaitu jenis ikan
yang hidupnya di air tawar, namun pada saat akan memijah menuju ke Laut.
Nelayan di Kelurahan Tentena secara intensif menangkap benih ikan sidat (glass
eel) di Muara Sungai Poso. Penangkapan benih ikan sidat ini dilakukan untuk
memenuhi permintaan konsumen yaitu para pembudidaya ikan sidat yang ada di
Sulawesi maupun luar Sulawesi. Penangkapan benih yang intensif dapat
membahayakan kelestarian ikan sidat.
Penangkapan benih ikan sidat di Muara Sungai Poso umumnya dilakukan
menggunakan alat tangkap gorong-gorong (fyke net). Alat tangkap goronggorong
dioperasikan pada malam hari, sesuai dengan perilaku ikan sidat
(nocturnal). Alat tangkap gorong-gorong yang digunakan terdiri atas berbagai
ukuran, yaitu besar, kecil dan sedang. Belum diketahui ukuran mana yang
memiliki tingkat efektivitas dan efisiensi yang lebih baik.
Glass eel yang ditangkap nelayan, merupakan benih ikan sidat yang siap
untuk dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan sidat. Poso merupakan salah
satu pemasok benih utama untuk para pembudidaya ikan sidat yang ada di
Makasar, Mamuju, Gorontalo dan juga keluar Sulawesi seperti para pembudidaya
ikan sidat yang ada di Pulau Jawa.
Glass eel akan didistribusikan ke tujuan pasar dalam kondisi hidup,
sementara itu glass eel ini memiliki kerentanan yang tinggi terhadap kondisi
lingkungan. Untuk itu, penanganan glass eel selama pendistribusian dari daerah
tempat nelayan menangkap sampai ke tempat tujuan pasar menjadi sangat penting.
Pemasaran glass eel dari daerah Poso ke tujuan pasar yang ada di sekitar
Sulawesi maupun ke luar Pulau Sulawesi memiliki rantai distribusi yang cukup
panjang. Selama ini nelayan penangkap glass eel mendapatkan market share
yang kecil dari pemasaran benih ikan sidat ini.
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengkaji pengembangan usaha
ikan sidat di Muara Sungai Poso, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.
Tujuan khusus penelitian ini, yaitu : (1) Menilai efektivitas alat tangkap goronggorong
(fyke net) untuk menangkap benih ikan sidat di Muara Sungai Poso,
Sulawesi Tengah (2) Menghitung kelayakan usaha sidat dengan alat tangkap
gorong-gorong (fyke net) yang ada di Muara Sungai Poso Sulawesi Tengah. (3)
Menilai aktivitas distribusi, penanganan dan efisiensi pemasaran benih ikan sidat.
Penelitian ini merupakan studi kasus pada nelayan penangkap glass eel di Muara
Sungai Poso, Sulawesi Tengah. Data dan informasi untuk menghitung efektivitas alat
tangkap gorong-gorong, dan efisiensinya yaitu dilihat dari perhitungan kelayakan
usaha diperoleh melalui pengambilan sampel terhadap 9 orang nelayan yang
menggunakan alat tangkap gorong-gorong. Data dan informasi untuk distribusi,
penanganan dan efesiensi pemasaran benih ikan sidat diperoleh dari para pelaku
yang terlibat, yaitu nelayan, pedagang pengumpul lokal, dan pedagang provinsi.
Analisis data untuk efektifitas alat dilakukan melalui perhitungan hasil tangkapan per trip.
Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan menghitung R/C rasio. Analisis data untuk
penanganan ikan sidat selama pendistribusian dilakukan secara deskriptif, serta dilakukan
analisis efisiensi pemasaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai efektivitas alat tangkap goronggorong
besar mencapai 39.28 kg/ m3 , alat tangkap gorong-gorong sedang sebesar
37.85 kg/ m3, alat tangkap kecil sebesar 36.42 kg/ m3. Berdasarkan lama
perendaman ATG Besar berjumlah 4.23 kg/ m3/ jam, Sedang 4.10 kg/ m3/ jam dan
Kecil 3.90 kg/ m3/ jam. Hasil analisa usaha menunjukkan bahwa alat tangkap
gorong gorong besar mengeluarkan biaya total sebesar Rp 18,583,033 dan total
penerimaan adalah Rp 46,800,000, alat tangkap gorong gorong sedang
mengeluarkan biaya total sebesar Rp 18,685,533 dan total penerimaan adalah Rp
67,200,000, alat tangkap gorong gorong kecil mengeluarkan biaya total sebesar
Rp 21,080,278 dan total penerimaan adalah Rp 69,600,000 dengan nilai R/C
sebesar 3.28. Hasil analisis R/C menunjukkan bahwa usaha penangkapan benih
ikan sidat dengan alat tangkap gorong-gorong besar memperoleh nilai R/C 2.3,
sedang memperoleh nilai 3.7, dan kecil 3.2.
Metode penanganan glass eel selama distribusi dari nelayan di Sunga Poso
menuju daerah tujuan pasar secara umum dilakukan untuk menjaga benih tetap
hidup dengan menjaga suhu sekitar 18oC. Metode penanganan mampu menjaga
tingkat kelangsungan hidup sebesar 99,5% pada distribusi lokal dengan tujuan
pasar sekitar Sulawesi dan 85-90% untuk pendistribusian ke luar Sulawesi.
Pada tujuan pemasaran lokal di sekitar Sulawesi diperoleh Fs sebesar
37,50% dan persentase Mp sebesar 62,50%. Untuk tujuan pasar ke luar Sulawesi
diperoleh Fs bervariasi antara 80-88% dan persentase MP bervariasi antara 12-
20%. Kedua pola rantai pemasaran tersebut tidak efisien, karena nilai Fs<Mp%.
Implikasi kebijakan yang direkomendasikan adalah menjaga keberlanjutan
usaha penangkapan benih ikan sidat di Poso, melalui 1) penggunaan alat tangkap
gorong-gorong yang memiliki nilai efektivitas kecil namun nilai kelayakan usaha
lebih baik, dalam hal ini adalah alat tangkap gorong-gorong yang berukuran kecil,
2) menghindari tingkat kematian yang tinggi dalam distribusi benih, sebaiknya
benih hanya dipasarkan di lokal Provinsi Sulawesi, dan 3) memperbaiki rantai
distribusi pemasaran lokal provinsi dengan meningkatkan Fs mendekati nilai
persentase Mp. | id |