Show simple item record

dc.contributor.advisorKhumaida, Nurul
dc.contributor.advisorSyukur, Muhamad
dc.contributor.advisorBintang, Maria
dc.contributor.authorNurcholis, Waras
dc.date.accessioned2018-06-26T03:57:59Z
dc.date.available2018-06-26T03:57:59Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/92284
dc.description.abstractCurcuma aeruginosa yang dikenal dengan nama temu ireng di Indonesia merupakan tanaman herbal dan dianggap merupakan sumber potensial dalam berbagai aktivitas farmakologi. Namun di Indonesia varietas masih terbatas sehingga diperlukan aksesi yang dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan varietas baru temu ireng. Bagian pertama fokus pada penapisan fitokimia, aktivitas antioksidan menggunakan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan analisis sitotoksisitas dengan metode brine shrimp lethality test (BSLT) dari ekstrak air-etanol terhadap bagian rimpang induk (RI), rimpang primer dan sekunder (RP+RS) dan akar air (AA). Senyawa tanin dan triterpenoid terkandung pada semua ekstrak pada semua bagian rimpang, sementara saponin hanya pada ekstrak etanol 70% dan air, sedangkan senyawa alkaloid, flavonoid dan steroid tidak terdeteksi. Aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% pada RI memiliki kapasitas terkuat dalam meredam radikal DPPH (IC50, 437.07 μg mL-1) dibandingkan dengan ekstrak lain pada bagian rimpang yang berbeda. Pada BSLT, kami menemukan bahwa ekstrak etanol 96 dan 70% dari RI menunjukkan sitotoksisitas yang tinggi dengan LC50 secara berurutan 90.40 and 265.17 μg mL-1. Bagian kedua fokus terhadap warna rimpang, hasil ekstrak, kandungan metabolit dan aktivitas farmakologi dalam ekstrak etanol dari 20 aksesi potensial tanaman temu ireng hasil eksplorasi. Warna rimpang dan analisis fitokimia dianalisis dengan metode kualitatif, sementara kandungan metabolit dan bioaktivitas dianalisis dengan metode kuantitatif. Warna biru merupakan karakterisasi yang khas pada rimpang temu ireng. Produktivitas ekstrak etanol 70% dari 20 aksesi temu ireng berkisar 7.92-19.71%, dengan produktivitas ekstrak terendah dari aksesi Kendal sedangkan tertinggi oleh aksesi Beringharjo. Semua aksesi temu ireng diketahui mengandung saponin dan triterpenoid. Kandungan total fenolik, total flavonoid, dan kurkuminoid secara berurutan berkisar 26.70-70.83 mg EAG g-1, 7.65-21.71 mg EK g-1, dan 0.001-1.945%. Nilai IC50 dan LC50 secara berurutan untuk aktivitas antioksidan dan sitotoksisitas berkisar 89.81 (Sukoharjo) sampai 505.65 μg mL-1 (Ngawi) dan 57.32 (Purworejo) sampai 693.43 μg mL-1 (Ponorogo). Bagian ketiga fokus pada karakter kualitatif dan kuantitatif dari sepuluh aksesi temu ireng yang dibandingkan dengan analisis multivariat meliputi analisis klaster hirarki dan komponen utama untuk mendapatkan pola keragaman pada karakter agromorfologi, kandungan metabolit dan bioaktivitas. Metode kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk mempelajari agromorfologi, kandungan metabolit dan bioaktivitas. Fenotipe tanaman meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, berat basah rimpang dan berat kering rimpang merupakan karakter yang memiliki keragaman yang signifikan antara aksesi yang dipelajari. Variabilitas hasil ekstrak, fenolik total, flavonoid total dan kurkuminoid secara berurutan berkisar 3.68-7.36%, 29.08-46.92 mg EAG g-1, 21.31-33.81 mg EK g-1, dan 0.001-0.005%. Pada semua aksesi yang dipelajari, terdapat 72 komponen metabolit yang teridentifikasi dalam ekstrak etanol dengan senyawa utama adalah seskuiterpenoid (19.86-43.72%) dan monoterpenoid (6.30-15.38%). Nilai IC50 untuk aktivitas antioksidan dan penghambatan α-glukosidase secara berurutan adalah 217.98- 654.38 μg mL-1 dan 349.07-932.85 μg mL-1. Aktivitas sitotoksik pada larva udang, sel Vero, dan sel MCF-7 secara berurutan berkisar dari 148.94-805.09 μg mL-1, 13.28-45.17%, dan 1.16-49.70%. Pada kajian ini, analisis multivariat terhadap karakter agromorfologi, kandungan metabolit dan bioaktivitas masing-masing menghasilkan pola yang beragam. Dengan demikian, aksesi-aksesi temu ireng yang dipelajari potensial untuk dikembangkan melalui program pemuliaan tanaman. Aksesi Madura, Purworejo dan Kulonprogo dapat dipilih sebagai klon berkualitas untuk menghasilkan senyawa atsiri (eucalyptol, β-elemene, camphor, dan isocurcumenol) dan produktivitas rimpang tinggi yang berkhasiat sebagai antikanker. Sementara aksesi Gunung Kidul merupakan klon yang berkhasiat sebagai antikanker dengan produktivitas senyawa fenolik, flavonoid dan kurkuminoid tinggi namun produktivitas rimpang rendah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcPlant Biotechnologyid
dc.subject.ddcMedicinal Plantid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcBogor, Jawa Baratid
dc.titleProfil Metabolit dan Bioaktivitas Beberapa Aksesi Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.).id
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordagromorfologiid
dc.subject.keywordantioksidanid
dc.subject.keywordfitokimiaid
dc.subject.keywordkurkuminoidid
dc.subject.keywordsitotoksisitasid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record