Show simple item record

dc.contributor.advisorAdrianto, Luky
dc.contributor.advisorBengen, Dietriech Geoffrey
dc.contributor.advisorPrasetyo, Lilik Budi
dc.contributor.authorKurniawan, Fery
dc.date.accessioned2018-02-22T01:58:06Z
dc.date.available2018-02-22T01:58:06Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/90900
dc.description.abstractPulau-pulau kecil memiliki keterbatasan sumberdaya alam, terisolasi dan jauh dari wilayah teritorial, dan terpapar bencana alam, sehingga pulau kecil memiliki karakteristik dan kerentanan khusus terhadap pengaruh global, regional, dan lokal. Untuk itu, penting kiranya memahami resiliensi, kerentanan dan daya dukung kawasan sebagai dasar menyusun bentuk pengelolaan yang sesuai dan berkelanjutan. Penelitian bertujuan untuk menilai resiliensi spasial di pulau-pulau kecil, dengan kerangka sistem ekologi-sosial (SES) yang terintegrasi menggunakan metode dan analisis kerentanan, daya dukung, kapasitas adaptif dan siklus adaptif berdasarkan pendekatan sejarah dan model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan ruang yang terjadi mempengaruhi dinamika dari variabel-variabel resiliensi spasial di Pulau Gili Matra, baik untuk biokapasitas (BC), spasial ecological footprint (SEF), indeks konektivitas (CI) dan heterogenitas spasial (SH). Pulau Gili Matra memiliki tingkat resiliensi dari moderat hingga tidak resilien, dan memiliki kapasitas adaptif dari tinggi hingga sedang (satu sampai enam tahun). Variabel-variabel yang memilik kapasitas adaptif yang baik adalah variabel CI dan SH, meskipun di Pulau Gili Meno variabel BC juga mengindikasikan kapasitas adaptif yang baik. Berdasarkan penilaian dan simulasi, nilai total resiliensi di Pulau Gili Ayer berkisar antara 0.566551 sampai 0.51322 (moderat), Gili Meno berkisar antara 0.604796 sampai 0.608992 (resilien) dan Gili Trawangan berkisar antara 0.326409 sampai 0.142658 (resiliensi rendah hingga tidak resilien). Berdasarkan nilai-nilai yang ada, Pulau Gili Matra berada pada fase reorganisasi untuk Pulau Gili Ayer dan Gili Meno dan eksploitasi untuk Pulau Gili Trawangan dalam siklus adaptif resiliensi. Kondisi ini menegaskan bahwa Pulau Gili Ayer dan Meno sedang terjadi penyusunan kembali struktur-struktur spasial dan arah pembangunan yang ada, yaitu wisata pulau kecil, yang menunjukkan geliat pembangunan, sedangkan untuk Pulau Gili Trawangan menggambarkan pembangunan dan pertumbuhan wisata yang intensif. Untuk itu, upaya pengelolaan harus dilakukan agar fase-fase yang ada dapat dilewati, sehingga sistem tidak berkutat pada fase eksploitasi saja, tanpa melewati fase konservasi, pelepasan dan reorganisasi, sehingga sistem spasial dapat resilien dan pembangunan berkelanjutan dapat tercapai. Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari hasil studi, yaitu Kawasan Pulau Gili Matra memiliki tingkat kerentanan dari kelas rendah sampai moderat, namun, dengan melihat nilai Coastal Water Quality Indeks (CWQI) yang buruk, EF yang tinggi dan BC yang rendah, serta hasil simulasi perubahan lahan, maka tingkat kerentanan kawasan akan terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini diperkuat dari hasil penilaian kapasitas adaptif yang rendah dan waktu yang lama dari titik tekan yang ada, dan terkonfirmasi dari hasil penilaian resiliensi yang rendah.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcOceanographyid
dc.subject.ddcSmall Islandid
dc.subject.ddc2017id
dc.subject.ddcJakartaid
dc.titleStudi Resiliensi Spasial Pulau-pulau Kecil: Kasus Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Taman Wisata Perairan Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan (Gili Matra), Nusa Tenggara Barat.id
dc.typeDissertationid
dc.subject.keywordPulau-pulau kecilid
dc.subject.keywordSESid
dc.subject.keywordResiliensiid
dc.subject.keywordPulau Gili Matraid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record