Strategi Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Secara Terpadu Dan Berkelanjutan Di Kabupaten Mempawah Propinsi Kalimantan Barat
View/ Open
Date
2016Author
Khairuddin, Benny
Yulianda, Fredinan
Kusmana, Cecep
Yonvitner
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekosistem mangrove di Kabupaten Mempawah dirasakan dari tahun ke
tahun terus mengalami degradasi, minimnya data luasan dan species, tidak adanya
aturan, rendahnya koordinasi antar instansi dan kurangnya perlibatan pelaksanaan
kegiatan dengan masyarakat dalam mengelola ekosistem mangrove menjadi tidak
efektif.
Upaya yang dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat untuk
mengelola sering terjadi benturan vertikal mulai dari tingkat desa, kecamatan,
kabupaten, propinsi hingga pemerintah pusat dalam merumuskan program
kegiatan maupun benturan horizontal antar sektor atau instansi pemerintah pada
tingkatan tertentu baik pusat atau daerah dengan masyarakat untuk itu diperlukan
suatu upaya dan pemahaman bersama dalam pengelolaannya sehingga benturan
klasik antara upaya yang berorientasi komersial dan upaya perlindungan dapat
ditekan seminimal mungkin.
Permasalahan yang terjadi terhadap pengelolaan ekosistem mangrove
apabila dibentuk dalam rumusan masalah pertanyaan adalah sebagai berikut: (1)
bagaimana kondisi mangrove saat ini, (2) bagaimana status keberlanjutan
pengelolaan ekosistem mangrove saat ini dan (3) upaya apa saja yang dapat
dilakukan dalam mengelola strategi pengelolaan ekosistem mangrove secara
terpadu dan berkelanjutan.
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjawab permasalahan dengan
tujuan melakukan: (1) mengidentifikasi kuantitas dan kualitas ekosistem
mangrove di Kabupaten Mempawah. (2) mengevaluasi dan menganalisa status
keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove dari aspek ekologi, ekonomi,
sosial, dan hukum/kelembagaan di Kabupaten Mempawah dan (3) merumuskan
strategi kebijakan yang tepat di dalam pengelolaan ekosistem mangrove secara
terpadu dan berkelanjutan di Kabupaten Mempawah.
Tahapan penelitian dilakukan sebagai berikut: (1) merumuskan indikator -
indikator ekosistem mangrove berkelanjutan berdasarkan studi literatur, data
statistik dan pengamatan di lapangan (2) menginventarisasi dan menganalisis (a)
kondisi ekologi dan menganalisis keadaan flora , fauna dan perubahan penutupan
lahan mangrove. Analisis yang digunakan adalah analisis vegetasi, analisis
statistik deskriptif dan analisis perubahan penutupan lahan (land cover) dengan
Normalized Difference Vegetation Indeks (NDVI). Analisis ini akan
menghasilkan keadaan vegetasi (kerapatan, frekwensi, dominansi dan INP),
keadaan satwa (jumlah, species dan penyebaran) serta keadaan perubahan
penutupan lahan mangrove, (b) kondisi ekonomi menginventarisasi dan
menganalisis data ekonomi masyarakat, yang meliputi tingkat pendapatan
nelayan, PDRB perikanan, produksi perikanan, sarana dan prasarana perikanan
yang dilakukan melalui analisis deskriptif untuk mengetahui peran ekosistem
mangrove bagi pembangunan ekonomi wilayah (c) kondisi sosial
menginventarisasi data karakteristik sosial yang meliputi jumlah, struktur
penduduk, tingkat pendidikan, persepsi masyarakat pesisir terhadap ekosistem
mangrove berupa peranserta, kepemilikan lahan, aksesibilitas dan pola hubungan
stakeholder dalam pengelolaan ekosistem mangrove. Selanjutnya dilakukan
analisis deskriptif. Analisis ini akan mendeskripsikan kondisi sosial masyarakat di
sekitar ekosistem mangrove (d) hukum/kelembagaan meliputi : sinkronisasi
kebijakan pusat dan daerah, keberadaan aturan mengenai ekosistem mangrove,
kepatuhan masyarkat terhadap aturan ekosistem mangrove, ketersediaan
kelompok nelayan (3) menganalisis nilai indeks keberlanjutan sistem pengelolaan
ekosistem mangrove dengan menggunakan Rap-MEcosystem yang dilanjutkan
dengan Analitical Hierarky Process (AHP) dalam menentukan strategi kebijakan
bedasarkan prioritas utama.
Pengumpulan data dilakukan dengan: (1) pengambilan citra Landsat tahun
1989 sebanya 2 scenes dan tahun 2014 sebanyak dua scenes (2) data ekologi:
survey flora dan fauna kualitas perairan pesisir pada wilayah ekosistem mangrove,
(3) data ekonomi: survey tingkat pendapatan dan pengeluaran nelayan,
aksesibilitas, inventarisasi pemanfaatan mangrove studi literatur PDRB, produksi
perikanan, sarana dan prasarana perikanan anggaran pemerintah yang
dialokasikan untuk pengelolaan mangrove (4) data sosial: survey persepsi
masyarakat pesisir terhadap ekosistem mangrove meliputi peranserta, kepemilikan
lahan, aksesibilitas dan pola hubungan stakeholder, studi literatur : jumlah ,
struktur penduduk dan tingkat pendidikan (5) data hukum/ kelembagaan survey:
keberadaan lembaga dan penyuluh perikanan koordinasi kebijakan pusat dan
daerah (vertikal) dan antar lembaga pemerintah didaerah (horizontal), ketersedian
peraturan pengelolaan ekosistem mangrove, legalitas kawasan mangrove,
Penegakan hukum di ekosistem mangrove.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa memang telah terjadi degradasi
ekosistem mangrove dibuktikan bedasarkan hasil interpretasi citra satelit landsat 5
perekaman tanggal 29 Juni 1989 dan citra satelit landsat 8 perekaman 6 Februari
2014, telah terjadi penurunan jumlah luasan yang semula di tahun 1989 seluas
816,05 Ha menjadi 739,31 Ha ditahun 2014
Secara keseluruhan indeks nilai penting mangrove didominasi Avicenia
spp., yaitu untuk untuk semai A.marina 112,22%, pancang A.lanata 123,18% dan
untuk pohon A.marina 144,72% dimana 13 species mangrove ditemukan dua
diantaranya species A.lanata dan species S.ovata yang memiliki status rentan dan
hampir punah di dunia bedasarkan kriteria IUCN justru tumbuh dan berkembang
secara alami dan ditemukan pula 32 species hewan dua diantaranya Haliaeetus
leucogaster dan Haliastur indus merupakan species hewan yang dilindungi
bedasarkan Appendix II CITES dimana hasil penelitian juga menunjukkan
terdapat pengaruh antara keragaman species flora terhadap jumlah keragaman
fauna yang mendiami ekosistem mangrove.
Status keberlanjutan pengelolaan ekosistem mangrove dimensi ekonomi,
sosial dan hukum/kelembagaan memiliki status cukup berkelanjutan sedangkan
dimensi ekologi kurang berkelanjutan sehingga dimensi perlu dilakukan
perbaikan.
Strategi kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove secara terpadu dan
berkelanjutan dilakukan dengan meningkatkan kerapatan tajuk mangrove melalui
dengan meningkatkan kerapatan tajuk mangrove melalui kebijakan reboisasi dan
rehabilitasi mangrove, kebijakan menyusun peraturan pengelolaan ekosistem
mangrove dan meningkatkan jumlah personil dan kualitas penyuluh perikanan dan
kehutanan serta menglengkapinya dengan sarana dan prasarana yang memadai.
Collections
- DT - Fisheries [767]
