| dc.description.abstract | Koleksi perpustakaan sebagai salah satu unsur terpenting dari perpustakaan.
Keberadaan perpustakaan akan terlihat dari koleksi yang memiliki pendayagunaan
yang tinggi yang menjawab kebutuhan pemustaka terhadap sumber informasi.
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka koleksi
perpustakaan akan mengikuti perkembangan era digital. Salah satu koleksi yang
diminati pemustaka saat ini adalah koleksi e-resources. Perpustakaan Nasional
untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka di era digital juga menyediakan
koleksi e-resources. Selama lebih 5 tahun berjalannya jasa koleksi e-resources
belum dilakukan suatu evaluasi tentang penggunaannya.
Penelitian ini membahas tentang evaluasi penggunaan koleksi e-resources
dengan menggunakan standar indikator kinerja ISO 11620:2014 di Perpustakaan
Nasional pada tahun 2014-2015. Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan
kuantitatif. Berdasarkan ISO 11620:2014, indikator kinerja perpustakaan adalah
pernyataan simbol, numerik, atau verbal yang diperoleh melalui statistik dan data
perpustakaan yang digunakan untuk memberikan ciri terhadap kinerja
perpustakaan. Berkaitan dengan penelitian ini ada 6 indikator kinerja yang
menjadi tolak ukur dalam menilai sejauh mana penggunaan koleksi e-resources di
Perpusnas. Adapun enam indikator tersebut adalah sebagai berikut (1) Persentase
persediaan yang tidak digunakan (koleksi e-resources);(2) Jumlah Unduhan Unit
konten per kapita; (3) Jumlah pengunjung yang mengikuti pelatihan e-resources;
(4) Biaya pengadaan yang dikeluarkan untuk koleksi e-resources; (5) Persentase
pengeluaran atas penyediaan informasi untuk koleksi e-resources;(6) Persentase
staf perpustakaan yang menyediakan bimbingan pemakai (pelatihan) untuk
koleksi e-resources.
Hasil penelitian evaluasi penggunaan koleksi e-resources di Perpusnas
dengan memperhatikan juga aspek penggunaan, koleksi, dan sumber daya
manusia. Penelitian ini diketahui bahwa penggunaan koleksi e-resources di
Perpusnas belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari pemaparan berikut ini.
Pertama, segi koleksi e-resources di Perpusnas yang belum berimbang,
masih tingginya koleksi e-resources yang tidak digunakan oleh pemustaka, hanya
3 % saja dari keseluruhan koleksi e-resources yang dilanggan yang digunakan
oleh pemustaka, padahal jumlah pemustaka Perpusnas cukup tinggi. Tingkat
jumlah unduhan unit konten per kapita untuk tiap koleksi e-resources mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya. Jumlah unduhan koleksi e-jurnal jauh lebih
tinggi dari koleksi e-buku dan e-video. Pada tahun 2015, Jumlah unduhan e-buku
dan e-video kurang dari 5 per 1000 pemustaka. Jumlah unduhan e-jurnal dari
Proquest mengalami penurunan dari 2,7 menjadi 1,9 untuk seluruh pemustaka
yang dilayani. Belum adanya kebijakan pengembangan koleksi khususnya koleksi
e-resources yang menjadi suatu kendali dalam proses pengelolaan koleksi di
Perpusnas. Hal ini sangat diperlukan agar lebih meningkatkan pengembangan
koleksi e-resources sesuai dengan salah satu misi Perpusnas mewujudkan koleksi
nasional yang lengkap dan mutakhir.
Kedua, Perpusnas belum memprioritaskan sepenuhnya berkaitan dengan
penyediaan layanan yang berbasis teknologi ini. Kurangnya promosi pelatihan
e-resources dengan memprioritaskan perguruan tinggi yang memiliki keterbatasan
infrastruktur dan akses internet. Jumlah anggota perpusnas yang cukup besar
seharusnya memiliki potensi yang strategis dalam meningkatkan penggunaan
koleksi e-resources. Hasil perhitungan pemustaka pada tahun 2015 yang
mengikuti pelatihan e-resources di Perpusnas mengalami penurunan jumlah
pemustaka, sekitar 3 orang per 1000 anggota Perpusnas dari tahun sebelumnya.
Oleh karena itu perlu adanya prioritas pemustaka e-resources yang dalam hal ini
adalah mahasiswa untuk diberikan pelatihan e-resources yang merupakan salah
satu bagian kegiatan bimbingan pemustaka sebagai sarana promosi perpustakaan
untuk meningkatkan penggunaan koleksi e-resources.
Ketiga, tingkat persentase staf yang memberikan pelatihan meningkat
sebesar 12.34% dari tahun sebelumnya. Meskipun terjadi peningkatan persentase
staf yeng memberikan pelatihan masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah
staf Pusat Jasa. Hal ini mengindikasikan belum adanya prioritas yang
sepenuhnya berkaitan dengan penyediaan layanan yang berbasis teknologi. Jika
diperlukan dapat menambah pustakawan dari unit kerja terkait lainnya. Kesiapan
pustakawan dalam memberikan pelatihan e-resources dan keterampilan
melakukan strategi penelusuran untuk memaksimalkan penggunaan koleksi
e-resources di Perpusnas. Hasil penelitian ini merupakan salah satu sarana
evaluasi dalam pengembangan koleksi Perpusnas, khususnya koleksi e-resources.
Ke-empat, dari segi indikator anggaran yang dikeluarkan untuk penyediaan
informasi dalam bentuk koleksi e-resources menunjukan hasil yang cukup positif.
Biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan koleksi e-resources selalu mengalami
peningkatan setiap tahunnya.
Perlu adanya penelitian selanjutnya berkaitan dengan sistem aplikasi
e-resources yang sesuai standar pengukuran kinerja perpustakaan, mengingat
kendala yang dihadapi pada saat melakukan pengumpulan data, seperti banyaknya
ruas yang tidak terisi sehingga kontribusi data yang tidak tersebar dengan baik.
Hal ini penting berkaitan penggunaan data bagi evaluasi perkembangan eresources
di Perpusnas serta untuk meningkatkan kinerja Perpusnas lebih baik
lagi di masa mendatang | id |