Show simple item record

dc.contributor.authorNoviana, Deni
dc.contributor.authorGunanti
dc.contributor.authorJelantik, Ni Rai Fertilini Hanira
dc.date.accessioned2012-06-08T02:19:16Z
dc.date.available2012-06-08T02:19:16Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.issn0126-0421
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/54772
dc.description.abstractThe purpose of this research is to know the efect of injection anesthetics and inhalation anesthetics toward oxygen saturation (SpO₂) and the correlation between oxygen saturation with body temperature, heart rate, respiratory rate of domestic cat (Felis domestica) during ovariohysterectomy. Twelve domestic female cats which are 1-2 years old, 1.8-2.5 kg of body weight were divided in two groups. First group had injected by ketamine and xylazine (P1 ). In second group, acepromazine and ketamine had used as induction and isoflurane was applicated for maintenance (P2). The data were analyzed by t-test for P1 and P2, and comparation physiological value were analyzed by Pearson correlation methode. The results showed that on 90 minutes after anesthetics. saturation oxygen and body temperature of P1 was decreased gradually. The saturation oxygen of P2 was stable, it might caused by the oxygen supplay continuosly during operation. Eventhough the body temperature of P2 was reached more dangerous critical point compared to P1, furthermore the decreation of another physilogical values were noted too.
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh anestesi perinjeksi dan anestesi peinhalasi terhadap saturasi oksigen (SpO2) serta korelasi antara saturasi oksigen tersebut dengan suhu tubuh, frekuensi jantung dan frekuensi respirasi pada kucing lokal (Felis domestica) selama ovariohisterektomi. Penelitian ini menggunakan dua belas ekor kucing betina local dengan umur antara 1-2 tahun, bobot badan 1,8-2,5 kg yang dibagi ke dalam dua kelompok perlakuan terdiri masing2 6 ekor. Kelompok pertama mendapat perlakuan anestesi perinjeksi dengan xylazin dan ketamin (P1), sedangkan kelompok kdua mendapat perlakuan anestesi perinhalasi menggunakan isofluran dengan acepromazin dan ketamin sebagai penginduksinya (P2). Parameter yang diukur adalah kadar oksigen yang terikat pada hemoglobin saturasi oksigen (SpO2), suhu tubuh, frekuensi jantung dan fekuensi respirasi dalam kondisi normal serta perbandingan hasilnya antara anestesi perinjeksi dan anestesi perinhalasi. Data diolah menggunakan uji-t tidak berpasangan pada p1 dan p2 serta metode korelasi untuk perbandingan terhadap keadaan fisiologis. Hasil yang didapat menunjukan adanya penurunan nilai (SpO2) yang drastis pada anestesi perinjeksi pada menit ke 90 diikuti penurunan suhu tubuh. Nilai SpO2 yang relatif stabil tercatat pada anestesi perinhalasi dari awal hingga akhir operasi namun suhu tubuh mencapai titik kritis yang lebih membahayakan yang diikuti pula dengan penurunan nilai parameter fisiologis lainnya. Nilai SpO2 pada perlakuan anestesi perinhalasi yang lebih stabil ini dsebabkan karena adadnya suplai oksigen yang konstan selama operasi.
dc.publisherFakultas Kedokteran Hewan - Universitas Gadjah Mada
dc.relation.ispartofseriesVol. 24;No. 2
dc.subjectanestesien
dc.subjectsaturasi oksigenen
dc.subjectovariohisterektomien
dc.subjectkucingen
dc.titlePengaruh anestesi terhadap saturasi oksigen (SpO₂) selama operasi ovariohisterektomi kucingen
dc.title.alternativeJurnal SAIN VETERINER Vol. 24 No. 2 th 2006en
dc.typeArticleen


Files in this item

No Thumbnail [100%x80]
No Thumbnail [100%x80]

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record