Penyuluhan Pembuatan Kompos Kulit Singkong (Kasus: Kelompok.Tani Taruna Tani Millenial Desa Purwasari, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor)
Date
2026Author
Ajiwijoyo, Waskitho
Wiraguna, Edi
Nurulhaq, Muhammad Iqbal
Metadata
Show full item recordAbstract
The problem of cassava peel waste in Purwasari Village is often left to pile
up, causing environmental pollution, and has not been optimally utilized. This study
aims to identify issues related to cassava waste, as well as the interest of members
of the Taruna Tani Millenial Farmers’ Group in training on cassava peel
composting. The method used was a qualitative approach supported by quantitative
data through interviews, questionnaires, and composting demonstrations. A
moderate percentage falling within the 68%–69% range indicates that some
farmers are still weighing their interest in terms of adding compost to their fields,
the tools and materials required, and the composting process. The highest
percentage, at 86%, indicates that farmers found the extension activity engaging
because the material presented addressed the real-world challenges they face. The
processing of cassava peel waste into compost has the potential for widespread
adoption, with the recommendation that extension activities be conducted on an
ongoing basis to strengthen the self-reliance of farmer groups. Permasalahan limbah kulit singkong di Desa Purwasari sering dibiarkan menumpuk sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan dan belum dimanfaatkan secara optimal. Penelitian bertujuan mengidentifikasi masalah limbah singkong, serta minat anggota Kelompok Tani Taruna Tani Millenial terhadap penyuluhan pembuatan kompos kulit singkong. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif didukung data kuantitatif melalui wawancara, kuesioner, serta demonstrasi pembuatan kompos. Persentase sedang yang mendapatkan rentang nilai 68%-69% menunjukan bahwa beberapa petani masih mempertimbangkan dari segi ketertarikan dalam penambahan kompos di lahan, alat dan bahan serta rangkaian pembuatan kompos. Persentase tertinggi sebesar 86% menunjukkan bahwa petani menilai kegiatan penyuluhan tersebut menarik karena materi yang disampaikan sesuai dengan permasalahan nyata yang mereka hadapi. Pengolahan limbah kulit singkong menjadi kompos berpotensi diterapkan secara luas, dengan saran agar penyuluhan dilaksanakan secara berkesinambungan untuk memperkuat kemandirian kelompok tani.

