Analisis Spasio-temporal Karakteristik dan Waktu Perambatan Kekeringan Meteorologis ke Kekeringan Pertanian di Sulawesi Selatan
Date
2026Author
andini, Nastiti
Santikayasa, I Putu
Setiawan, Amsari Mudzakir
Metadata
Show full item recordAbstract
Kekeringan merupakan fenomena hidrometeorologi yang kompleks dan berdampak signifikan terhadap sektor pertanian serta ketahanan pangan, khususnya di wilayah beriklim tropis seperti Sulawesi Selatan. Perbedaan karakteristik iklim regional, pola hujan musiman, serta dinamika iklim skala besar menyebabkan kekeringan tidak terjadi secara seragam baik secara spasial maupun temporal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasio-temporal kekeringan meteorologis, menganalisis karakteristik kekeringan meteorologis dan pertanian, serta mengkaji waktu perambatan kekeringan dari meteorologis ke pertanian di Sulawesi Selatan. Kekeringan meteorologis direpresentasikan oleh Standardized Precipitation Index (SPI), sedangkan kekeringan pertanian direpresentasikan oleh Standardized Soil Moisture Index (SSMI), sehingga memungkinkan analisis yang konsisten dan terstandarisasi.
Identifikasi pola spasio-temporal kekeringan meteorologis dilakukan menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan Rotated Principal Component Analysis (RPC) terhadap data SPI-3 periode 1981–2020. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah Sulawesi Selatan dapat dikelompokkan menjadi tiga region homogen kekeringan meteorologis, yaitu Region 1 (utara), Region 2 (tengah–selatan), dan Region 3 (barat). Ketiga region tersebut menunjukkan perbedaan sifat kekeringan yang jelas, meskipun sebagian wilayah dipengaruhi oleh tipe hujan monsunal yang sama. Temuan ini mengindikasikan bahwa heterogenitas spasial kekeringan di Sulawesi Selatan tidak hanya dikontrol oleh pola hujan dominan, tetapi juga oleh variasi dinamika iklim regional yang lebih kompleks.
Karakteristik kekeringan dianalisis menggunakan run theory dengan meninjau frekuensi, durasi rata-rata, magnitudo rata-rata, tingkat keparahan maksimal, dan intensitas puncak kekeringan. Hasil menunjukkan bahwa kekeringan pertanian memiliki durasi dan magnitudo yang jauh lebih besar dibandingkan kekeringan meteorologis. Pola ini mencerminkan adanya proses akumulasi dan penundaan respons sistem tanah dan vegetasi terhadap defisit curah hujan. Selain itu, perbedaan karakteristik antar region menunjukkan bahwa kekeringan meteorologis dan pertanian memiliki dinamika yang tidak selalu sejalan, sehingga analisis kekeringan perlu dilakukan secara terintegrasi dan berbasis wilayah.
Analisis waktu perambatan kekeringan menggunakan metode Maximum Pearson Correlation Coefficient (MPCC) menunjukkan bahwa propagasi kekeringan meteorologis ke kekeringan pertanian bervariasi secara spasial, dengan mayoritas wilayah mengalami waktu perambatan 0–2 bulan, namun dapat mencapai hingga 5 bulan di wilayah tengah Sulawesi Selatan. Variasi ini menegaskan bahwa respons kekeringan pertanian terhadap defisit curah hujan tidak bersifat seragam. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya pendekatan regional dalam analisis kekeringan serta memberikan kontribusi ilmiah dalam memahami dinamika waktu perambatan kekeringan di wilayah tropis.

