Show simple item record

dc.contributor.advisorNandika, Dodi
dc.contributor.advisorPriadi, Trisna
dc.contributor.advisorKusumah, Sukma Surya
dc.contributor.authorSya'diah, Siti Masriva
dc.date.accessioned2026-04-12T23:40:11Z
dc.date.available2026-04-12T23:40:11Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172922
dc.description.abstractFenomena pemanasan global mendorong penerapan arsitektur hijau pada bangunan gedung antara lain melalui penggunaan bahan bangunan ramah lingkungan. Dalam kaitan ini bambu merupakan salah satu pilihan mengingat berbagai keunggulan yang dimilikinya sebagai bahan bangunan. Namun, penggunaan bambu sebagai atap bangunan gedung sering terkendala oleh morfologi (bulat berongga, dimensi terbatas) dan stabilitas dimensinya yang rendah. Studi ini mencoba mengatasi keterbatasan tersebut melalui teknik laminasi bilah bambu terpipihkan (lamina) menggunakan perlakuan panas dan aplikasi perekat berkinerja tinggi yaitu resorsinol formaldehida (RF). Penelitian ini juga berfokus pada optimasi rasio resorsinol (R) terhadap formaldehida (F) serta optimasi durasi pengempaan pada proses laminasi. Bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea) dipilih sebagai bahan baku utama berdasarkan hasil analisis viskoelastisitasnya yang menunjukkan kapasitas regangan tinggi, sehingga mampu meminimalkan kerusakan serat selama proses pemipihan menggunakan kempa panas pada suhu 140 °C selama 15 menit. Rasio molar R:F yang diaplikasikan adalah 1:1 hingga 1:4 dengan durasi kempa dingin 150, 180, dan 210 menit. Karakterisasi perekat RF mencakup kadar padatan dan sifat termal nya menggunakan Differential Scanning Calorimetry dan Thermogravimetric Analysis. Sementara itu karakteristik bilah bambu terpipihkan dianalisis menggunakan Micro-CT scanner dan pengukuran indeks kristalinitas. Kualitas akhir sirap bambu laminasi dievaluasi berdasarkan sifat fisis, yang mencakup kadar air, delaminasi, dan stabilitas dimensi, serta sifat mekanis yang meliputi Modulus of Elasticity , Modulus of Rupture, dan keteguhan rekat. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa peningkatan kadar formaldehida dalam perekat berbanding terbalik dengan kadar padatan. Rasio RF 1:3 dan 1:4 menunjukkan sifat termal yang inferior. Sementara itu modifikasi panas terbukti efektif menghasilkan bilah bambu terpipihkan dengan permukaan rata dan intensitas retak minimal serta meningkatkan indeks kristalinitasnya. Hal ini memvalidasi peningkatan stabilitas dimensi (penurunan daya serap air mencapai 29,03%) dan kekuatan mekanis sirap bambu laminasi (peningkatan nilai MOE mencapai 51,38 %, sedangkan MOR mencapai 76,1 %). Selain itu, aplikasi perekat RF mampu menghasilkan sirap bambu laminasi yang tahan terhadap delaminasi (intensitas delaminasi = 0%), mengindikasikan ketahanan rekat yang sangat baik. Studi ini menyimpulkan bahwa pemipihan lamina bambu dengan kempa panas, aplikasi perekat RF pada rasio 1:2, dan durasi pengempaan 210 menit merupakan perlakuan optimal untuk menghasilkan sirap bambu laminasi dengan kualitas yang memenuhi SNI 01-5008.2-1999 dan SNI 01-5008.7-1999 atau setara dengan formula 1:1 namun dengan biaya yang lebih efisien.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePeningkatan Kualitas Sirap Bambu Laminasi melalui Pemipihan Bilah Termodifikasi Panas dan Aplikasi Perekat Resorsinol Formaldehidaid
dc.title.alternativeEnhancing the Quality of Laminated Bamboo Shingle through Heat-Modified Slats Flattening and Resorcinol Formaldehyde Adhesive
dc.typeTesis
dc.subject.keywordsirap bambuid
dc.subject.keywordmodifikasi panasid
dc.subject.keywordbambu pipihid
dc.subject.keywordperekat resorsinolid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record