Show simple item record

dc.contributor.advisorHastuti, Yuni Puji
dc.contributor.advisorNirmala, Kukuh
dc.contributor.advisorSupriyono, Eddy
dc.contributor.authorPrakarsa, Rizki Gencar
dc.date.accessioned2026-04-02T06:12:36Z
dc.date.available2026-04-02T06:12:36Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172891
dc.description.abstractTantangan dalam budidaya udang vaname salah satunya adalah musim hujan. Musim hujan memberikan dampak negatif terhadap kualitas air di tambak, di mana fluktuasi parameter lingkungan menyebabkan ketidakstabilan komunitas fitoplankton. Ketidakstabilan tersebut dapat menurunkan respons imun udang dan kinerja produksinya. Fitoplankton memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem tambak. Perubahan dominansi fitoplankton yang terjadi secara ekstrem dan terus-menerus setiap minggunya dapat meningkatkan risiko penyakit, karena keseimbangan antara lingkungan, patogen, dan inang menjadi tidak stabil. Akibatnya, performa produksi udang pun cenderung menurun. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak musim hujan terhadap fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada tambak intensif. Penelitian dilaksanakan di tambak udang Malingping selama satu siklus produksi yang dilakukan secara non eksperimental dengan pendekatan observasi lapangan. Lokasi pengamatan terdiri atas enam petak tambak. Pengambilan sampel air dilakukan sebanyak empat titik dan digabung secara komposit pada setiap petak tambak. Sampel fitoplankton diambil menggunakan plankton net berukuran 15 µm dengan metode pasif sebanyak 30 liter. Sampel disimpan pada botol HDPE, dan diawetkan dengan menggunakan H2SO4 ataupun lugol. Pengambilan darah udang dilakukan sebanyak 20 ekor per petak tambak menggunakan syringe 1 mL yang diencerkan dengan antikoagulan 1:2, lalu dimasukkan ke dalam microtube. Semua sampel tersebut dimasukkan ke dalam coolbag. Data yang diperoleh di antaranya yaitu curah hujan, kemudian kualitas air (fisika, kimia, dan biologi), lalu metrik stabilitas fitoplankton (turnover, mean rank abundance (MRA), synchrony, dan stability), kemudian struktur komunitas fitoplankton (kelimpahan, keragaman, keseragaman, dan dominansi), lalu respons imun udang (total haemocyte count (THC), aktivitas fagositik (AF), respiratory burst (RB), dan phenoloxidase (PO)), kemudian kinerja produksi (average daily growth (ADG), average body weight (ABW), kematian udang, survival rate (SR), dan feed conversion ratio (FCR)). Analisis yang digunakan yaitu regresi panel dengan menggunakan common effect model (CEM), lalu dilakukan eksplorasi menggunakan principal component analysis (PCA) dan analisis klaster k-means. Hasil regresi yang tidak memenuhi uji asumsi, dilakukan transformasi logaritmik, akar kuadrat (SQRT), ataupun box-cox, lalu jika tetap tidak memenuhi uji asumsi maka dilakukan robust standard errors. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim hujan dengan status curah hujan yang tinggi (300-500 mm bulan-1), memiliki dampak yang besar terhadap kestabilan kualitas air, fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi, hal tersebut terjadi selama penelitian dari day of culture (DOC) 0 sampai 70. Parameter seperti suhu, salinitas, kecerahan, total ammonia nitrogen (TAN), nitrit, total organic matter (TOM) berada di luar batas optimal budidaya udang. Selama sembilan kali pengambilan sampel, kelimpahan fitoplankton didominasi oleh kelas yang berbeda-beda, di mana Cyanophyceae menjadi kelas yang sering mendominasi tiap sampling, walaupun keberadaannya juga sempat tergantikan oleh jenis yang lain. Nilai Turnover dan MRA fitoplankton memiliki nilai yang tinggi, hal tersebut menunjukkan rendahnya stabilitas fitoplankton. Synchrony memiliki nilai rata-rata sebesar 0,37, yang artinya beberapa spesies merespons perubahan lingkungan yang berbeda-beda. Hasil stability sebesar satu juga tidak baik pada petak tambak. Hasil pengukuran respons imun, termasuk THC, AF, RB, dan PO, menunjukkan tren penurunan seiring mendekati DOC 70. Selain itu, nilai ADG yang diperoleh sempat rendah, disertai dengan tingginya angka kematian udang di waktu akhir budidaya. Nilai FCR berada di atas 1,4 di semua kolam, sedangkan SR kurang dari 46%. Hasil ini diduga karena dampak dari paparan toksin yang berasal dari fitoplankton kelas Cyanophyceae (Aphanizomenon sp., Anabaena sp., dan Trichodesmium sp.), walaupun hal tersebut perlu dikaji lebih lanjut berdasarkan hasil penelitian ilmiah melalui uji toksisitas toksin BGA terhadap respons imun udang dan kinerja produksinya pada skala laboratorium. Hasil regresi panel (Y = kelimpahan fitoplankton ; X = kualitas air) dengan transformasi logaritmik menunjukkan bahwa alkalinitas total, TVC, TBV, dan nitrat berpengaruh signifikan positif (a = 0,05), sedangkan DO berpengaruh signifikan negatif terhadap kelimpahan fitoplankton (a = 0,05), dengan R-squared sebesar 58% dan p-value sebesar 1,53 x 10-7, selanjutnya regresi panel (Y = THC; X = fitoplankton) dengan SQRT dan robust standard errors menunjukkan bahwa kelimpahan dan keragaman berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared sebesar 55% dan p-value sebesar 7 x 10-9, serta regresi panel (Y = ADG ; X = respons imun udang) dengan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan bahwa THC berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan Rsquared sebesar 76% dan p-value sebesar < 2,22 x 10-16. Sementara itu, hasil regresi panel (Y = Jumlah kematian udang; X = respons imun udang) menggunakan transformasi box-cox dan robust standard errors menunjukkan bahwa THC dan RB berpengaruh signifikan negatif (a = 0,05), dengan R-squared sebesar 82% dan p-value sebesar < 2,22 x 10-16. Semua model dalam analisis regresi panel menggunakan CEM, karena hasil uji Chow dan Lagrange Multiplier tidak signifikan. Hasil PCA menunjukkan bahwa variabel yang menjadi komponen utama selama musim hujan di antaranya yaitu suhu, pH siang, salinitas, TAN, kecerahan, keragaman, dominansi, MRA, THC, AF, size, dan ABW, hal tersebut berdasarkan nilai eigenvector yang dominan pada masing-masing variabel terhadap sumbu utama yang terbentuk. Hasil biplot PCA menunjukkan bahwa kematian udang yang tinggi dimulai saat DOC 42, hal tersebut juga didukung dengan hasil analisis klaster k-means yang terbagi atas dua klaster berdasarkan uji dengan metode silhouette, di mana klaster satu terdiri dari DOC 10 hingga 33, sedangkan klaster dua terdiri atas DOC 42 hingga 70. Penelitian ini menunjukkan bahwa musim hujan memiliki dampak yang negatif terhadap kondisi fitoplankton, respons imun, dan kinerja produksi udang vaname pada tambak intensif.
dc.description.sponsorship-
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleDampak Musim Hujan terhadap Fitoplankton, Respons Imun, dan Kinerja Produksi Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) pada Tambak Intensif.id
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordcurah hujanid
dc.subject.keywordfitoplanktonid
dc.subject.keywordkinerja produksiid
dc.subject.keywordkualitas airid
dc.subject.keywordrespons imunid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record