Kualitas udara sebelum, saat, dan setelah Pandemi COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta
Abstract
Pandemi COVID-19 memberikan perubahan signifikan terhadap pola
aktivitas masyarakat di Provinsi DKI Jakarta yang berpotensi memengaruhi
kualitas udara perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh
faktor meteorologi (curah hujan dan kelembapan udara) serta volume kendaraan
terhadap kualitas udara yang direpresentasikan oleh Indeks Standar Pencemar
Udara (ISPU) di Provinsi DKI Jakarta selama periode 2019–2021. Data sekunder
bulanan diperoleh dari instansi terkait dan dianalisis menggunakan pendekatan
deskriptif kuantitatif, uji korelasi Pearson, serta regresi linier berganda. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai ISPU memiliki hubungan negatif sedang
dengan curah hujan (r ˜ -0,485) dan hubungan negatif kuat dengan kelembapan
udara (r ˜ -0,665), sedangkan hubungan antara ISPU dan volume kendaraan
tergolong lemah (r ˜ 0,135). Model regresi linier berganda menunjukkan bahwa
kelembapan udara berpengaruh signifikan secara statistik terhadap ISPU dengan
koefisien sekitar -1,84 (p < 0,05), sementara curah hujan dan volume kendaraan
tidak berpengaruh signifikan secara parsial. Model mampu menjelaskan sekitar
44,7% variasi ISPU (R² ˜ 0,447). Secara temporal, nilai ISPU cenderung lebih
rendah pada periode dengan curah hujan dan kelembapan tinggi serta meningkat
pada musim kemarau. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor meteorologi,
khususnya kelembapan udara, berperan dominan dalam mengontrol fluktuasi
kualitas udara Jakarta selama masa pandemi, meskipun sumber pencemar utama
tetap berasal dari aktivitas antropogenik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pengendalian pencemaran udara yang
mengintegrasikan aspek meteorologi dan pengendalian emisi secara berkelanjutan. The COVID-19 pandemic caused significant changes in community
activity patterns in DKI Jakarta Province, which potentially affected urban air
quality. This study aims to analyze the influence of meteorological factors
(rainfall and humidity) and traffic volume on air quality represented by the Air
Pollution Standard Index (ISPU) in DKI Jakarta Province during the 2019–2021
period. Monthly secondary data were obtained from relevant agencies and
analyzed using a quantitative descriptive approach, Pearson correlation test, and
multiple linear regression. The results show that ISPU has a moderate negative
correlation with rainfall (r ˜ -0.485) and a strong negative correlation with
humidity (r ˜ -0.665), while the relationship between ISPU and traffic volume is
weak (r ˜ 0.135). The multiple linear regression model indicates that humidity has
a statistically significant effect on ISPU with a coefficient of approximately -1.84
(p < 0.05), whereas rainfall and traffic volume do not have significant partial
effects. The model explains about 44.7% of the variation in ISPU (R² ˜ 0.447).
Temporally, ISPU values tend to be lower during periods of high rainfall and
humidity and increase during the dry season. These findings indicate that
meteorological factors, particularly humidity, play a dominant role in controlling
air quality fluctuations in Jakarta during the pandemic period, although the main
sources of pollutants remain anthropogenic activities. The results of this study are
expected to provide a scientific basis for formulating air pollution control policies
that integrate meteorological aspects and sustainable emission control.
