View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Human Ecology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Human Ecology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Komunikasi Remaja dengan Orang Tua, Teman Sebaya dan Akses Internet yang Memengaruhi Perilaku Perundungan di Kota Bogor

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (748.7Kb)
      Fulltext (1.570Mb)
      Lampiran (749.3Kb)
      Date
      2026
      Author
      Aminah, Ratih Siti
      Muljono, Pudji
      Lubis, Djuara P.
      Hastuti, Dwi
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Perilaku perundungan pada remaja di Indonesia sangat mengkhawatirkan Kasus perundungan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun. Hasil survei Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) menyebutkan, pada tahun 2020, terdapat 11.057 pelajar di Indonesia yang menjadi korban perundungan. Tahun 2021 meningkat menjadi 11.0278, kemudian naik lagi menjadi 14.517 pada tahun 2022, dan terus bertambah hingga mencapai 21.241 korban pada tahun 2023. Selain itu, KPPA pada tahun 2021 menemukan, 14 dari setiap 100 siswa laki-laki dan 11 dari setiap 100 siswa perempuan berusia 13 hingga 17 tahun terlibat dalam beberapa jenis perilaku perundungan. Bahkan, pada tahun 2018, Indonesia berada di urutan kelima dari tujuhpuluh delapan negara dengan jumlah siswa terbanyak yang terlibat dalam perundungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis komunikasi remaja dengan ayah dan ibu, komunikasi remaja dengan teman sebaya, serta akses internet remaja dan pengaruhnya terhadap perilaku perundungan. Penelitian bertujuan melengkapi dengan pendekatan kualitatif yang menggambarkan pengalaman dan persepsi remaja terhadap komunikasi dalam keluarga dan lingkungan sosialnya serta tingkat perilaku perundungannya. Penelitian ini menggunakan metode campuran “mix method” dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang diisi oleh 400 siswa kelas XI dari dua Sekolah Menengah Atas (SMA), dan dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Bogor. Pemilihan sekolah dilakukan secara acak, dengan asumsi, di setiap sekolah dapat terjadi perundungan. Pengolahan data dilakukan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM) dengan software LISREL, sedangkan pengumpulan data kualitatif dilakukan melalui wawancara dengan pertanyaan terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja berkomunikasi dengan ayah, ibu, teman sebaya, dan memanfaatkan internet sebagai sumber informasi, dan media aktualisasi diri. Komunikasi remaja laki-laki dan perempuan dengan ayah mayoritas tentang nilai ulangan di sekolah dan perihal keuangan. Durasi pembicaraan remaja dengan ayah antara tigapuluh menit sampai satu jam, biaasanya pada pagi hari sebelum ayah berangkat bekerja, dan pada saat melakukan suatu kegiatan secara bersama. Komunikasi remaja dengan ibu lebih bersifat emosional dan kedekatan, dengan topik pembicaraan mencakup nilai ulangan, teman di sekolah, tentang perundungan, cita-cita dan pelajaran di sekolah. Remaja berkomunikasi dengan ibu setiap hari dengan durasi minimal tigapuluhmenit, dan maksimal lebih dari satu jam. Remaja memiliki ikatan yang kuat dengan teman sebaya. Topik pembicaraan remaja dengan teman sebaya mencakup informasi yang sedang viral di internet dan media sosial, perundungan, dan cita-cita. Sebagian kecil remaja juga membicarakan seks pada teman sebaya. Remaja berkomunikasi dengan teman sebaya di sekolah, dimulai pada saat pagi hari sebelum pelajaran dimulai, pada saat jeda pergantian mata pelajaran, pada saat istirahat, sebelum pulang, dan sesekali berlanjut setelah sampai di rumah. Durasi pembicaraan remaja dengan teman sebaya minimal tigapuluh menit, dan maksimal lebih dari satu jam. Remaja mengakses internet setiap hari, mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur di malam hari. Topik yang diakses remaja meliputi informasi yang sedang viral seperti perundungan, informasi tentang hobi dan pengembangan diri, media sosial, game online dan hiburan. Mayoritas remaja mengakses internet menggunakan ponsel dengan durasi empat sampai lima jam, dengan frekuensi mengakses sebanyak delapan kali dalam sehari. Remaja mengakses internet secara sendiri, sesekali bersama teman sebaya dan orangtua. Bentuk perundungan verbal yang dilakukan remaja di sekolah adalah memanggil dengan julukan yang tidak disukai. Perundungan fisik yang dilakukan terbanyak pada laki-laki adalah mengancam dan menendang teman. Pada perundungan sosial, bentuk yang terbanyak dilakukan adalah menghasut teman untuk memusuhi teman lain. Pada topik tentang seks, remaja cenderung tidak membicarakan dengan teman sebaya. Temuan utama penelitian ini meliputi: (1) Komunikasi remaja laki-laki dan perempuan dengan ibu, lebih terbuka, hangat, bersifat emosional, dan terbukti menekan kecenderungan perundungan, sedangkan komunikasi remaja dengan ayah lebih bersifat fungsional dan berpengaruh terhadap perilaku remaja laki-laki; (2) Komunikasi remaja dengan teman sebaya menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin, yaitu remaja perempuan lebih ekspresif secara emosional dan laki-laki cenderung membatasi topik komunikasi. Dalam beberapa kasus, kelompok teman sebaya laki-laki justru menjadi pemicu perundungan karena tekanan konformitas sosial; (3) Akses internet yang tidak dikontrol, terutama pada konten kekerasan dan interaksi tanpa pengawasan, turut meningkatkan risiko perundungan. Hasil uji pengaruh menggunakan SEM menunjukkan, komunikasi remaja dengan orang tua berpengaruh signifikan dan negatif terhadap perilaku perundungan remaja. Hasil ini berarti, semakin baik komunikasi remaja dengan orang tua akan meminimalisir perilaku perundungan pada remaja. Komunikasi remaja dengan teman sebaya berpengaruh positif, artinya semakin baik komunikasi remaja dengan orang tua akan akan meningkatkan komunikasi remaja dengan teman sebaya. Demikian pula komunikasi remaja dengan orang tua berpengaruh signifikan dan positif terhadap akses internet remaja. Remaja, ketika mengakses informasi melalui internet, sangat mungkin mendapatkan paparan informasi dengan konten yang mengandung kekerasan, pornografi, ataupun konten negatif lain. Remaja yang memiliki hubungan hangat dalam keluarga, cenderung akan memilah informasi yang diperoleh. Komunikasi remaja dengan teman sebaya berpengaruh positif terharap akses internet remaja. Selanjutnya, akses internet remaja berpengaruh positif terhadap perilaku perundungan remaja. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi lebih dalam peran kualitas komunikasi dalam keluarga berdasarkan latar belakang sosio-kultural yang berbeda, serta mengevaluasi efektivitas kebijakan pencegahan perundungan di sekolah melalui intervensi komunikasi berbasis keluarga dan komunitas.
       
      Bullying behavior among adolescents in Indonesia is a growing concern. The number of bullying cases has increased every year. A survey conducted by the Ministry of Women’s Empowerment and Child Protection reported that in 2020 there were 11,057 students in Indonesia who became victims of bullying. In 2021 the number increased to 11,278, then rose again to 14,517 in 2022, and continued to grow to 21,241 victims in 2023. Furthermore, in 2021 the ministry found that 14 out of every 100 male students and 11 out of every 100 female students aged 13 to 17 were involved in some form of bullying behavior. In 2018, Indonesia ranked fifth out of seventy-eight countries with the highest number of students involved in bullying. This study aims to analyze adolescents’ communication with fathers and mothers, communication with peers, and adolescents’ internet access, and their influence on bullying behavior. The study also complements the analysis with a qualitative approach to describe adolescents’ experiences and perceptions regarding communication within the family and their social environment as well as their level of bullying behavior. This study employed a mixed-methods approach combining quantitative and qualitative methods. Data was collected through questionnaires completed by 400 eleventh-grade students from two Senior High Schools (SMA) and two Vocational High Schools (SMK) in Bogor City. Schools were selected randomly based on the assumption that bullying can occur in any school. Quantitative data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) with LISREL software, while qualitative data was collected through interviews with open-ended questions. The results show that adolescents communicate with fathers, mothers, and peers, and use the internet as a source of information and a medium for self-actualization. Communication between male and female adolescents and their fathers mostly concerns school test scores and financial matters. The duration of conversations with fathers’ ranges from thirty minutes to one hour, usually in the morning before fathers leave for work or while engaging in activities together. Communication with mothers tends to be more emotional and intimate, covering topics such as school grades, friends at school, bullying, future aspirations, and school lessons. Adolescents communicate with their mothers daily, with a duration of at least thirty minutes and often more than one hour. Adolescents also have strong bonds with their peers. Topics discussed with peers include information that is currently viral on the internet and social media, bullying, and future aspirations. A small number of adolescents also discuss sexual topics with their peers. Adolescents communicate with peers at school starting in the morning before classes begin, during breaks between lessons, at recess, before going home, and occasionally continuing after arriving home. The duration of conversations with peer’s ranges from at least thirty minutes to more than one hour. Adolescents access the internet from the moment they wake up until before going to sleep at night. The topics they access include viral information such as bullying, hobbies and self-development, social media, online games, and entertainment. Most adolescents access the internet using mobile phones for four to five hours per day, with an average frequency of eight times a day. Adolescents usually access the internet alone, and occasionally together with peers or parents. The most common form of verbal bullying carried out by adolescents at school is calling others by nicknames they dislike. Physical bullying, mostly among male adolescents, includes threatening and kicking peers. In social bullying, the most common behavior is persuading others to dislike or exclude another student. Regarding sexual topics, adolescents tend not to discuss them with their peers. The main findings of this study include: (1) communication between adolescents and mothers tends to be more open, warm, and emotional, and it significantly reduces the tendency toward bullying, while communication with fathers is more functional and influences male adolescents’ behavior; (2) communication with peers differs by gender, where female adolescents tend to be more emotionally expressive, while male adolescents tend to limit communication topics. In some cases, male peer groups become triggers for bullying due to social conformity pressure; (3) uncontrolled internet access, especially exposure to violent content and unsupervised interactions, increases the risk of bullying behavior. The SEM analysis shows that communication between adolescents and parents has a significant negative effect on adolescents’ bullying behavior. This means that better communication between adolescents and parents reduces the likelihood of bullying behavior. Communication with parents also has a positive effect on communication with peers, indicating that adolescents with good parental communication tend to be more selective when interacting with peers. Information obtained from peers is filtered according to the values taught by parents. Likewise, communication with parents has a significant positive effect on adolescents’ internet access. When adolescents access information on the internet, they may be exposed to violent, pornographic, or other negative content. Adolescents who have warm family relationships tend to be more selective in filtering such information. Communication with peers also has a positive effect on adolescents’ internet access. Furthermore, adolescents’ internet access has a positive effect on bullying behavior. Future research is recommended to further explore the role of communication quality within families from different socio-cultural backgrounds and to evaluate the effectiveness of school bullying prevention policies through communication-based interventions involving families and communities.
       
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172830
      Collections
      • DT - Human Ecology [635]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository