Show simple item record

dc.contributor.advisorWahyudi, Imam
dc.contributor.advisorAugustina, Sarah
dc.contributor.authorSyalsabil, Hapidh Alaudin
dc.date.accessioned2026-03-09T01:07:43Z
dc.date.available2026-03-09T01:07:43Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172821
dc.description.abstractDalam menghadapi tantangan perubahan iklim, diperlukan terobosan material yang inovatif dan berkelanjutan. Material penyimpan dan penyerap karbon berbasis kayu, seperti wood aerogel (WA), menawarkan solusi yang sangat potensial karena struktur alami kayu yang berpori serta ketersediaannya yang melimpah dan terbarukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik aerogel yang dibuat menggunakan kayu balsa (Ochroma bicolor) dan kayu pulai (Alstonia scholaris) dengan fokus mempelajari pengaruh perbedaan konsentrasi larutan pelarut dinding sel. Pembuatan WA dilakukan melalui proses delignifikasi dua tahap–pertama dengan Na2SO3 dan NaOH pada suhu 100 ºC selama 10 jam dan yang kedua dengan larutan H2O2+akuades pada suhu 100 ºC selama 3 jam–dilanjutkan dengan dissolution cell wall menggunakan larutan DMAc/LiCl berkonsentrasi 6, 8 dan 10% pada suhu ruang selama 24 jam; lalu diregenerasi dengan cara direndam dalam aseton selama 20 menit pada suhu ruang sebanyak 4 kali, kemudian dibekukan dalam freezer bersuhu –20 °C selama 24 jam, lalu dikering-bekukan dalam freeze drier bersuhu –50 °C selama 48 jam dan diakhiri dengan proses conditioning selama 24 jam. Karakteristik WA yang dikaji terdiri dari perubahan struktur anatomi dan pemulihan bentuk, kerapatan, kehilangan berat, perubahan komponen kimia dan indeks kristalinitas serta kemampuannya menyerap CO2. Dibandingkan dengan kayu kontrol, hasil penelitian memperlihatkan WA yang dihasilkan memiliki kerapatan yang lebih rendah, dimana kerapatan WA balsa berkurang 36,3%, sedangkan WA pulai berkurang 44,4%. Kehilangan berat menunjukkan peningkatan: WA balsa meningkat dari 41,6 menjadi 67,6% dan WA pulai meningkat dari 26,6 menjadi 42,9%. Tingkat pemulihan bentuk sesuai dengan nilai kerapatan dan kehilangan beratnya. Pemulihan bentuk WA balsa bervariasi dari 0,02 hingga 0,37, sementara pada WA pulai bervariasi dari 0,50 hingga 0,92. Analisis morfologi, terutama struktur anatomi, menegaskan bahwa WA yang dihasilkan lebih porous dengan indeks kristalinitas yang lebih rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa WA yang dihasilkan mampu menyerap CO2, terutama pada suhu 50°C. Perlakuan DMAC/LiCl 6% menghasilkan WA terbaik untuk kayu balsa dengan jumlah penyerapan 1,085 mmol/g, sementara untuk pulai adalah perlakuan 10% dengan penyerapan karbon sebesar 0,919 mmol/g.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKarakteristik Aerogel dari Kayu Balsa (Ochroma bicolor) dan Kayu Pulai (Alstonia scholaris) sebagai Material Penyerap Karbon.id
dc.title.alternativeCharacteristics of Wood Aerogel from Balsa (Ochroma bicolor) and Pulai (Alstonia scholaris) as Carbon Capture Material.
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAerogel Kayuid
dc.subject.keywordbalsaid
dc.subject.keyworddelignifikasiid
dc.subject.keywordDMAc/LiCLid
dc.subject.keywordPulaiid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record