Analisis Resiko Kesehatan Lingkungan (ARKL) Berbasis Konsentrasi PM2.5 dan Deret Hari Kering (Studi kasus: DKI Jakarta)
Abstract
Deret hari kering (Consecutive Dry Days/CDD) yang panjang memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan kualitas udara di wilayah perkotaan akibat melemahnya mekanisme pencucian alami atmosfer (washout) yang menyebabkan polutan PM2.5 bertahan lebih lama. Hal tersebut dapat menyebabkan paparan PM2.5 lebih lama sehingga memengaruhi kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) berdasarkan konsentrasi PM2.5 maksimum harian selama hari tanpa hujan sebagai indikator keterpaparan. Metode yang digunakan adalah perhitungan CDD dan ARKL berbasis konsentrasi maksimum PM2.5 pada periode hari kering, serta melakukan analisis korelasi kedua parameter pada setiap musim. Hasil analisis menunjukkan konsentrasi PM2.5 meningkat seiring peningkatan durasi hari kering. SPKUA DKI 4 (Lubang Buaya) teridentifikasi sebagai wilayah paling rentan, kejadian CDD ekstrem selama 67 hari yang diikuti lonjakan konsentrasi hampir 300 µg/m³. Hubungan antara CDD dan konsentrasi PM2.5 sangat dipengaruhi oleh pola musiman, korelasi relatif menguat secara signifikan pada musim kemarau (JJA) r = 0,72. Berdasarkan analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) pada populasi usia dewasa, nilai rasio risiko (Risk Quotient/RQ) meningkat seiring dengan panjangnya CDD, khususnya pada musim kemarau dan musim peralihan. Hubungan CDD dan RQ tertinggi (r = 0,72) pada musim kemarau, ambang batas aman risiko (RQ = 1) telah terlampaui pada CDD kurang dari 6 hari. SPKUA DKI 4 Lubang Buaya dan DKI 5 Kebon Jeruk menunjukkan peningkatan RQ paling signifikan seiring bertambahnya CDD. Berdasarkan analisis peluang, CDD lebih dari 15 hari pada musim JJA dan lebih dari 18 hari pada musim SON dapat ditetapkan sebagai ambang kritis untuk mengindikasikan tingginya risiko kesehatan lingkungan akibat pajanan PM2.5, terutama pada kondisi keterbatasan data konsentrasi PM2.5.

