Peran Gender Dalam Pemanfaatan Pohpohan (Pilea melastomoides) Di Desa Tamansari, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor
Date
2026Author
Tarwana, Kamilah Nurdini
Sunkar, Arzyana
Hidayati, Syafitri
Metadata
Show full item recordAbstract
Budidaya pohpohan (Pilea melastomoides) dalam sistem agroforestri
berbasis damar merupakan sumber penghidupan utama masyarakat Desa Tamansari
di Zona Tradisional Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan dikelola melalui
skema kemitraan konservasi. Meskipun skema ini bertujuan mendukung
keberlanjutan ekologi sekaligus kesejahteraan masyarakat, belum diketahui
bagaimana pembagian peran gender, pola akses dan kontrol terhadap sumber daya,
serta distribusi manfaat ekonomi dalam sistem tersebut. Ketimpangan gender yang
tidak teridentifikasi berpotensi melemahkan kesejahteraan rumah tangga dan
efektivitas pengelolaan konservasi berbasis masyarakat.
Penelitian ini menganalisis dinamika peran gender dalam budidaya pohpohan,
faktor-faktor yang memengaruhinya, serta manfaat ekonomi yang dihasilkan bagi
rumah tangga petani. Metode yang digunakan yaitu mixed method dengan analisis
kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembagian kerja
masih tersegregasi berdasarkan gender, dengan laki-laki lebih dominan pada
kegiatan produksi dan pemasaran, sementara perempuan terkonsentrasi pada
kegiatan domestik dan pengolahan pascapanen. Meskipun kontribusi perempuan
signifikan, akses dan kontrol mereka terhadap sumber daya strategis serta
pengambilan keputusan relatif terbatas, mencerminkan adanya kendala struktural
dalam tata kelola sumber daya berbasis masyarakat.
Temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa rumah tangga yang
mampu mengintegrasikan peran produktif laki-laki dan perempuan berpotensi
memiliki kondisi ekonomi yang lebih baik dibandingkan rumah tangga dengan
pembagian peran yang timpang. Hal ini menegaskan bahwa kesetaraan gender tidak
hanya berkaitan dengan keadilan sosial, tetapi juga berfungsi sebagai faktor yang
meningkatkan efisiensi produksi dan ketahanan penghidupan berbasis agroforestri.
Peran gender dipengaruhi oleh pendidikan, kondisi rumah tangga, serta sistem religi
dan kemasyarakatan yang berkembang di masyarakat.
Secara konseptual, penelitian ini menegaskan bahwa kemitraan konservasi
tidak bersifat netral gender dan bahwa ketimpangan dalam peran, akses, dan kontrol
dapat membatasi capaian tujuan konservasi dan pembangunan penghidupan.
Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi analisis gender dengan manfaat
ekonomi agroforestri dalam konteks komoditas spesifik di kawasan taman nasional,
serta pembuktian bahwa kolaborasi gender memberikan keuntungan ekonomi nyata
bagi rumah tangga petani. Oleh karena itu, integrasi perspektif gender dalam
perencanaan dan pelaksanaan kemitraan konservasi menjadi penting untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan pengelolaan sumber
daya alam. The cultivation of pohpohan (Pilea melastomoides) within damar-based
agroforestry systems constitutes a primary livelihood source for the residents of
Tamansari Village, located in the Traditional Zone of Gunung Halimun Salak
National Park, and is managed under a conservation partnership scheme. Although
this scheme is intended to support ecological sustainability while improving
community welfare, the division of gender roles, patterns of access to and control
over resources, and the distribution of economic benefits within this system remain
insufficiently understood. Unidentified gender inequalities may potentially
undermine household welfare and the effectiveness of community-based
conservation management.
This study analyzes gender role dynamics in pohpohan cultivation, the factors
influencing these roles, and the economic benefits generated for farming
households. A mixed-methods approach combining qualitative and quantitative
analyses was employed. The findings indicate that the division of labor remains
strongly gender-segregated, with men predominating in production and marketing
activities, while women are concentrated in domestic tasks and post-harvest
processing. Despite their substantial contributions, women’s access to and control
over strategic resources and decision-making processes remain limited, reflecting
the presence of structural constraints within community-based resource governance.
A key finding of this study is that households that integrate the productive
roles of both men and women exhibit better economic conditions than those
characterized by unequal role distributions. This demonstrates that gender equality
is not merely a matter of social justice but also functions as a factor that enhances
production efficiency and livelihood resilience in agroforestry systems. Gender
roles are shaped by educational attainment, household characteristics, and
prevailing social systems and norms.
Conceptually, this study confirms that conservation partnerships are not
gender-neutral and that inequalities in roles, access, and control may restrict the
achievement of conservation objectives and livelihood development. The novelty
of this research lies in the integration of gender analysis with the economic benefits
of agroforestry within the context of a specific commodity in a national park setting,
as well as in demonstrating that gender collaboration yields tangible economic
advantages for farming households. Therefore, the integration of a gender
perspective into the planning and implementation of conservation partnerships is
essential to enhance community welfare and ensure the sustainability of natural
resource management.
Collections
- MT - Forestry [1541]
