Show simple item record

dc.contributor.advisorKamal, Mohammad Mukhlis
dc.contributor.advisorKurniawan, Fery
dc.contributor.advisorKurnia, Rahmat
dc.contributor.authorSyahdan, Roshin
dc.date.accessioned2026-02-05T23:29:44Z
dc.date.available2026-02-05T23:29:44Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172616
dc.description.abstractEkosistem perairan Langkai–Lanjukang merupakan habitat penting bagi berbagai spesies hiu sebagai predator puncak sekaligus wilayah dengan intensitas perikanan demersal yang tinggi. Interaksi antara aktivitas penangkapan ikan dan keberadaan hiu meningkatkan risiko bycatch yang berpotensi mengancam kelestarian populasi hiu dan keseimbangan ekosistem laut. Tesis ini bertujuan menganalisis tumpang tindih spasial antara habitat hiu dan aktivitas perikanan demersal untuk mengestimasi potensi bycatch, serta merumuskan strategi pengelolaan berbasis data di perairan Pulau Langkai dan Pulau Lanjukang. Penelitian ini menggunakan pendekatan pemodelan distribusi spesies untuk memetakan kesesuaian habitat tiga spesies hiu, yaitu hiu tinumbu atau hiu lanjaman (Carcharhinus falciformis), hiu batu atau hiu karang sirip putih (Triaenodon obesus), dan hiu kassi atau hiu karang sirip hitam (Carcharhinus melanopterus). Peta kesesuaian habitat dioverlay dengan peta aktivitas perikanan demersal untuk menghasilkan peta probabilitas bycatch. Pemodelan dilakukan menggunakan data kemunculan hiu dari kamera bawah laut, survei, dan wawancara nelayan dengan variabel lingkungan berupa suhu permukaan laut, salinitas, dan batimetri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat paling sesuai bagi hiu batu dan hiu kassi berada pada area terumbu karang dangkal, sedangkan hiu tinumbu lebih dominan pada wilayah lereng luar dengan kedalaman yang lebih besar. Tumpang tindih terbesar antara habitat hiu dan aktivitas perikanan demersal terjadi di area terumbu karang, sehingga hiu batu memiliki risiko bycatch tertinggi. Hiu tinumbu menunjukkan tingkat tumpang tindih sedang, sementara hiu kassi memiliki risiko bycatch terendah karena kecenderungannya berada di perairan pesisir yang sangat dangkal. Evaluasi skenario pengelolaan menunjukkan bahwa kombinasi strategi penghindaran habitat dan pengurangan upaya penangkapan sebesar 50% mampu menurunkan potensi bycatch secara signifikan pada ketiga spesies hiu. Pengurangan upaya penangkapan dilakukan melalui pembatasan jumlah alat, frekuensi trip, atau kombinasi keduanya. Pendekatan pengelolaan berbasis spasial dan kesesuaian habitat terbukti efektif dalam mendukung pengurangan bycatch hiu serta menjaga keberlanjutan perikanan demersal, khususnya di wilayah dengan keterbatasan data
dc.description.sponsorshipAsosiasi Demersal Indonesia (ADI)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleStrategi Pengelolaan Bycatch Hiu Pada Perikanan Demersal Perairan Langkai Lanjukang, Provinsi Sulawesi Selatanid
dc.title.alternativeManagement Strategy for Shark Bycatch in Demersal Fisheries of Langkai–Lanjukang Waters, South Sulawesi Province
dc.typeTesis
dc.subject.keywordperikanan demersalid
dc.subject.keywordhiuid
dc.subject.keywordbycatchid
dc.subject.keywordUsaha Penangkapanid
dc.subject.keywordModel Distribusi Spesiesid
dc.subject.keywordProbabilitas Bycatchid
dc.subject.keywordStrategi Pengelolaan Hiuid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record