Show simple item record

dc.contributor.advisorYulianda, Fredinan
dc.contributor.advisorKurniawan, Fery
dc.contributor.advisorTaryono
dc.contributor.advisorZairion
dc.contributor.authorMagfiroh, Artika Nanda
dc.date.accessioned2026-02-04T13:08:57Z
dc.date.available2026-02-04T13:08:57Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172554
dc.description.abstractKawasan Konservasi Laut (KKL) merupakan instrumen strategis dalam perlindungan keanekaragaman hayati laut sekaligus penopang keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Indonesia telah mencatat kemajuan signifikan dalam perluasan luasan KKL dan pembentukan kerangka hukum serta kelembagaan konservasi laut. Capaian struktural tersebut belum secara konsisten diikuti oleh efektivitas fungsional pengelolaan, yang tercermin dari kondisi ekologi kawasan, tingkat kepatuhan pemanfaatan, dan manfaat sosial-ekonomi yang masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara target konservasi berbasis luasan dan kualitas tata kelola KKL di tingkat tapak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pengelolaan KKL, mengidentifikasi kesenjangan kelembagaan dan tata kelola, serta merumuskan model framework penguatan tata kelola KKL yang kontekstual dengan kondisi Indonesia. Penelitian dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan analisis kelembagaan, evaluasi efektivitas pengelolaan, serta analisis governability, dengan studi kasus di Taman Wisata Perairan Gili Matra dan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks antara efektivitas struktural dan efektivitas fungsional pengelolaan KKL di Indonesia. Fragmentasi kelembagaan dan tumpang tindih kewenangan antara sektor kelautan dan kehutanan melemahkan koordinasi lintas sektor dan menciptakan ketidaksinkronan kebijakan pengelolaan. Keterbatasan pendanaan, sumber daya manusia, serta kapasitas teknis pengelola kawasan semakin memperlebar kesenjangan antara tujuan kebijakan dan praktik pengelolaan di lapangan. Analisis governability mengungkap bahwa ketidakseimbangan antara kompleksitas sistem sosial-ekologis yang dikelola (system-to-be-governed) dan kapasitas sistem pengelola (governing system) menjadi kendala utama dalam mencapai tata kelola KKL yang efektif. Analisis pada tingkat atribut tata kelola memperlihatkan bahwa sistem tata kelola KKL digerakkan oleh sejumlah atribut kunci yang berperan sebagai penggerak sistemik, terutama arah kebijakan, efisiensi, pembelajaran, serta atribut-atribut ketangguhan. Atribut-atribut tersebut memiliki pengaruh lintas tujuan dan lintas elemen, sehingga menentukan dinamika keseluruhan sistem tata kelola. Sebaliknya, atribut seperti kapasitas, akuntabilitas, dan atribut keadilan menunjukkan peran yang lebih bersifat fondasional dan penguat, bukan sebagai pemicu utama perubahan. Temuan ini membantu menjelaskan mengapa peningkatan kapasitas atau pengetatan mekanisme akuntabilitas tidak selalu berdampak langsung pada efektivitas pengelolaan apabila tidak didukung oleh arahkebijakan yang jelas, proses pembelajaran yang aktif, dan struktur tata kelola yang legitimate serta terhubung. Secara konseptual, pembahasan ini menegaskan bahwa prioritas penguatan tata kelola KKL tidak dapat dirumuskan dalam daftar tindakan teknokratis yang bersifat parsial. Sebaliknya, prioritas tersebut harus dipahami sebagai orientasi strategis yang menargetkan penggerak sistemik dan mekanisme penguat dalam sistem tata kelola. Peneguhan arah kebijakan, penguatan pembelajaran dan adaptasi, pembangunan legitimasi sosial, serta peningkatan keterhubungan lintas level dan lintas sektor merupakan strategi yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Hasil temuan dapat berkontribusi pada pengembangan pemahaman tata kelola KKL dengan menunjukkan bahwa efektivitas pengelolaan bukan sekadar persoalan “apa” yang diperkuat, tetapi “bagaimana” berbagai komponen tata kelola saling berinteraksi. Pembahasan ini sekaligus menjadi jembatan antara temuan empiris pada bab-bab sebelumnya dan perumusan simpulan serta implikasi kebijakan, dengan menegaskan bahwa penguatan tata kelola KKL di Indonesia memerlukan pendekatan sistemik, adaptif, dan berorientasi pada legitimasi jangka panjang. Kata kunci: kawasan konservasi laut, tata kelola, governability, efektivitas pengelolaan
dc.description.sponsorshipBeasiswa Unggulan Hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) BIMA Conservation Strategy Fund
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleModel Tata Kelola Kawasan Konservasi Laut di Indonesiaid
dc.title.alternativeMarine Protected Area Governance Model in Indonesia
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordTata Kelola Konservasi Lautid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record