Warung Kopi Di Aceh Barat Sebagai Ruang Publik
Date
2026Author
Maifianti, Khori Suci
Sarwoprasodjo, Sarwititi
Rilus
Sadono, Dwi
Metadata
Show full item recordAbstract
Ruang publik dipahami sebagai arena diskursus tempat warga berdiskusi secara bebas dan terbuka mengenai isu-isu publik guna membentuk opini rasional dan mendukung tata kelola demokratis, dengan inklusif dan keadilan wacana sebagai prasyarat utamanya. Namun, berbagai kajian kritis menunjukkan bahwa ruang publik dalam praktik tidak pernah netral karena selalu dibentuk oleh relasi kuasa, struktur sosial, dan norma budaya yang memengaruhi akses serta partisipasi. Di Aceh Barat, warung kopi memiliki peran sentral sebagai ruang pertukaran informasi, diskusi isu sosial, politik, pembangunan, dan pembentukan opini publik yang berakar pada budaya jak jeip kuphi. Meski tampak terbuka dan egaliter, praktik komunikasi di warung kopi dibingkai oleh norma adat, nilai religius, relasi patriarki, senioritas, serta modal sosial dan ekonomi, yang kerap membatasi partisipasi setara terutama bagi perempuan dan kelompok terpinggirkan serta menyembunyikan distorsi komunikasi di balik harmoni sosial.
Penelitian ini mengnalisis situasi tutur (speech situation) dalam praktik komunikasi di beragam warung kopi, praktik komunikasi di beragam warung kopi, dan sejauh mana ideal speech situation tercapai, serta bagaimana bentuk-bentuk distorsi tindakan komunikatif muncul dalam interaksi diskursif di warung kopi masyarakat Aceh Barat sehingga menghasilkan bentuk warung kopi yang ideal pada masyarakat Aceh Barat. Metode yang digunakan adalah etnografi dengan paradigma kritis. Pendekatan ini memungkinkan peneliti memahami makna di balik interaksi sosial sambil mengkritisi relasi dominasi dan marginalisasi yang muncul. Data dikumpulkan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi, dengan teknik analisis kualitatif dibantu oleh NVivo 12 Plus untuk melakukan pengkodean tematik berdasarkan istilah dan narasi informan.
Temuan penelitian menunjukkan warung kopi yang ideal menurut masyarakat Aceh Barat bukan sekadar tempat konsumsi, melainkan ruang publik multifungsi yang berakar pada kehidupan sehari-hari warga. Idealitasnya ditentukan oleh keseimbangan antara kenyamanan fisik yang mendukung percakapan panjang, fungsi sosial sebagai ruang pertukaran informasi, pembentukan opini, mediasi konflik, serta perumusan keputusan informal, dan etika komunikasi yang menjunjung adab serta nilai keislaman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa warung kopi mampu mengintegrasikan religiositas, inklusivitas gender, dan peran pelayanan publik dalam satu ruang yang dipercaya masyarakat, sehingga berfungsi sebagai simpul komunikasi antara warga dan negara. Dengan demikian, warung kopi di Aceh Barat merepresentasikan bentuk ruang publik yang kontekstual dan beradab, di mana rasionalitas komunikasi, nilai moral, dan kebutuhan praktis masyarakat berjalan secara seimbang, sekaligus menjadi infrastruktur penting bagi komunikasi pembangunan di wilayah pedesaan
Collections
- DT - Human Ecology [635]
