View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Fisheries
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Fisheries
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Kinerja pertumbuhan abalon (Haliotis squamata) dengan penambahan magnesium (Mg2+) dan kalsium (K+ ) yang dipelihara pada sistem resiskulasi

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (1.338Mb)
      Fulltext (2.502Mb)
      Lampiran (1001.Kb)
      Date
      2026
      Author
      Tasruddin
      Nirmala, Kukuh
      Supriyono, Eddy
      Suprayudi, Muhammad Agus
      Hastuti, Yuni Puji
      Giri, I Nyoman Adiasmara
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Abalon (Haliotis squamata) merupakan komoditas perikanan laut Indonesia bernilai ekonomis tinggi yang telah berkembang secara komersial di pasar nasional maupun global. Eksploitasi berlebih untuk memenuhi permintaan pasar berdampak pada penurunan populasi di alam, sehingga mendorong optimalisasi produksi melalui sistem resirkulasi akuakultur yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Namun, implementasi sistem ini masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan benih yang bergantung pada stok alam. Di sisi lain, produksi global terus menunjukkan tren peningkatan, yang pada periode tertentu mencapai 227.536 metrik ton, seiring dengan kemajuan teknologi. Di Indonesia, meskipun teknik pembesaran telah diterapkan, efisiensi produksi masih menjadi tantangan utama, khususnya akibat laju pertumbuhan yang rendah dan tingginya tingkat mortalitas. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan menganalisis level konsentrasi ion magnesium (Mg²?) dan kalium (K?) terhadap kinerja pertumbuhan abalon (Haliotis squamata) yang dipelihara dalam sistem resirkulasi akuakultur. Penelitian ini terdiri atas empat tahap, dengan tujuan umum adalah untuk mengevaluasi suplementasi magnesium dan kalium pada sistem RAS terhadap kualitas air, respons fisiologi dan kinerja pertumbuhan abalon (Haliotis squamata). Tujuan pertama menganalisis konsentrasi magnesium (Mg2+) dan kalium (K+) pada jaringan abalon alam (Haliotis squamata), air laut, dan Sargassum sp. pada musim hujan dan musim kemarau. Sampel abalon dikumpulkan dari habitat alami, sebanyak 40 ekor, yang terdiri atas 20 ekor pada musim hujan dan 20 ekor pada musim kemarau. Adapun panjang tubuh abalon berkisar antara 30,81±4,62 mm hingga 50,31±5,61 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi Mg²? pada jaringan daging dan cangkang abalon serta Sargassum sp. tinggi pada musim hujan dibandingkan musim kemarau, pada semua ukuran. Sebaliknya, pada air laut, konsentrasi Mg²? cenderung lebih tinggi pada musim kemarau, sedangkan konsentrasi K? lebih tinggi pada musim hujan. Tahap kedua mengevaluasi efek penambahan ion Mg2+ dengan konsentrasi berbeda ke media sistem resirkulasi akuakultur (RAS). Adapun sumber Mg yang digunakan berupa Mg (MgSO4). Penelitian ini menggunakan empat perlakuan dan emapat ulangan, yang terdiri atas konsentrasi (kontrol; 0,125; 0,250 dan 0,375 g L1). dengan pemberian pakan berupa Gracilaria sp. Abalon dengan bobot awal 4,70 ± 0,10 g dan panjang cangkang 31,28 ± 0,06 mm dipelihara dalam wadah kontainer plastik dengan dimensi tinggi 28 cm dan diameter 48 cm dengan volume air 25 liter Abalon ditebar dengan kepadatan 15 ekor per wadah selama 120 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan Mg²? pada konsentrasi 0,250 dan 0,375 g L?¹ terbukti efektif dalam meningkatkan performa pertumbuhan, anti oksidan dan kestabilan fisiologis abalone (p < 0,05). Tahap ketiga bertujuan untuk mengkaji penambahan kalium dalam sistem RAS terhadap kualitas air, kondisi fisiologis dan kinerja pertumbuhan abalon (Halotis squamata). Terdapat empat perlakuan konsentrasi kalium (kontrol, 0,047; 0,095; dan 0,142 g L?¹) dan empat ulangan. Abalon dengan bobot awal 4,741 ± 0,10 g dan panjang cangkang 31,360±0,09 mm dipelihara dalam kontainer plastik berukuran (tinggi 28 cm dan diameter 48 cm). Volume air 25 liter, kepadatan 15 ekor per kontainer dipelihara selama 120 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kalium 0,142 mg L?¹ memberikan pertumbuhan terbaik secara signifikan (p < 0,05) dibandingkan kontrol. Kelangsungan hidup, efisiensi pakan, dan aktivitas enzim antioksidan (SOD) tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan (p > 0,05). Komposisi protein dan proporsi jaringan tertinggi ditemukan pada perlakuan 0,142 mg L?¹. Penurunan kadar kalium dalam air menunjukkan adanya serapan oleh abalon dan Gracilaria sp. Selama pemeliharaan, kualitas air tetap berada dalam kisaran optimal. Hasil ini menunjukkan bahwa penambahan kalium dalam media resirkulasi dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan status fisiologis abalon, dengan konsentrasi optimal pada 0,142 g L?¹. Tahap keempat mengevaluasi penerapan kombinasi konsentrasi Mg²? (0,250 g L-1) dan K? (0,095 g L-1), yang ditetapkan berdasarkan hasil penelitian tahap 2 dan 3, terhadap kinerja pertumbuhan abalon dalam sistem resirkulasi akuakultur (RAS). Terdapat empat perlakuan dan empat ulangan, yaitu: kontrol (tanpa pemberian magnesium dan kalium), kombinasi Mg2+sebesar 0,250 g L?¹dan kombinasi K+ sebesar 0,095 g L?¹), Mg²? 0,375 g L?¹ tahap 2, dan K? 0,142 g L?¹ tahap 3. Abalon dengan bobot awal 0,480±0,07 g dan panjang cangkang 12,801±0,68 mm dipelihara dalam kontainer plastik berukuran tinggi 28 cm dan diameter 48 cm, dengan volume air 25 liter, pada kepadatan 15 ekor per kontainer selama 90 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan Mg²? 0,375 g L?¹ dan K? 0,142 g L?¹ serta perlakuan kombinasi Mg2+ sebesar 0,250 dan K+ sebesar 0,095 g L-1 secara signifikan meningkatkan status antioksidan, rasio RNA/DNA, dan laju pertumbuhan spesifik (SGR) dibandingkan dengan kontrol (Duncan, P<0,05). Namun, efisiensi pakan dan tingkat kelangsungan hidup tidak menunjukkan perbedaan nyata antarperlakuan (Duncan, P>0,05). Parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, dan NH3-N tetap berada dalam kisaran optimal selama penelitian. Terbukti perlakuan kombinasi Mg2+ sebesar 0, 250 g L-1 dan K+ sebesar 0,095 g L-1 serta Mg2+ 0,375 g L?¹ tahap 2 dan K? 0,142 g L?¹ tahap 3, efektif dalam meningkatkan sistem antioksidan, peningkatan kualitas air, pertumbuhan, rasio RNA/DNA, serta retensi mineral pada abalon dalam sistem resirkulasi akuakultur. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan kondisi lingkungan antara musim hujan dan kemarau, yang memengaruhi dinamika hidrologi seperti salinitas dan suhu, terbukti berdampak pada fluktuasi konsentrasi magnesium (Mg²?) dan kalium (K?) pada jaringan daging dan cangkang abalon, air laut, serta Sargassum sp. Selanjutnya, hasil pada tahapan berikutnya menunjukkan bahwa penambahan konsentrasi magnesium dan kalium, dalam media resirkulasi dapat meningkatkan performa pertumbuhan dan status fisiologis abalon pada konsentrasi optimal, serta berpotensi mendukung keberlanjutan akuakultur sistem resirkulasi secara efektif dan efisien.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172520
      Collections
      • DT - Fisheries [776]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository