Prediksi Perubahan Habitat Komodo di Pulau Flores pada Masa Depan
Date
2026Author
Yudistira, Angga Irfandi
Prasetyo, Lilik Budi
Kusrini, Mirza Dikari
Condro, Aryo Adhi
Metadata
Show full item recordAbstract
Komodo (Varanus komodoensis) sebagai spesies kadal terbesar di dunia menghadapi tantangan konservasi di habitat alaminya di Pulau Flores akibat dinamika perubahan lingkungan. Peningkatan aktivitas manusia dan alih fungsi lahan berpotensi menyebabkan fragmentasi habitat yang mengancam arus genetik dan kelangsungan hidup populasi jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk memproyeksikan perubahan penggunaan dan tutupan lahan Pulau Flores hingga tahun 2050 berdasarkan dua pendekatan manajemen, yakni skenario business as usual dan skenario optimistis, serta mengevaluasi implikasi ekologis dari perubahan tersebut terhadap kualitas habitat komodo.
Metode penelitian menggunakan pendekatan spasial berbasis cloud-computing melalui Google Earth Engine untuk mengolah citra satelit Landsat 5 dan Landsat 8. Klasifikasi penggunaan lahan dilakukan secara berkala pada tahun 2000, 2010, 2015, dan 2020. Proyeksi masa depan disimulasikan menggunakan model Patch-generating Land Use Simulation yang mampu mengintegrasikan berbagai faktor pendorong perubahan lahan. Kualitas habitat dan fragmentasi lanskap kemudian dianalisis menggunakan sejumlah indeks lanskap, di antaranya land cover, effective mesh size, number of patches, dan like adjacencies.
Hasil analisis menunjukkan bahwa model klasifikasi memiliki performa yang baik dengan tingkat akurasi yang meningkat seiring waktu, mencapai lebih dari 90% pada tahun terakhir pengamatan. Proyeksi tahun 2050 memperlihatkan perbedaan mendasar antara kedua skenario. Skenario business as usual cenderung mengarah pada degradasi kualitas lingkungan yang ditandai dengan persebaran permukiman yang tidak terkendali (urban sprawl) dan fragmentasi habitat yang tinggi meskipun terjadi perluasan pada kelas tutupan hutan musim. Sebaliknya, skenario optimistis menunjukkan pola pemanfaatan ruang yang lebih berkelanjutan dengan permukiman yang lebih terklaster dan pemulihan ekosistem penting seperti hutan mangrove, sehingga menciptakan struktur lanskap yang lebih tangguh (resilience).
Simpulan penelitian menegaskan bahwa integritas konektivitas habitat merupakan faktor yang lebih krusial bagi konservasi komodo dibandingkan sekadar penambahan total luasan habitat yang terfragmentasi. Skenario optimistis terbukti lebih efektif dalam menjaga kohesi lanskap yang diperlukan untuk pergerakan jelajah dan aliran gen komodo. Oleh karena itu, strategi konservasi masa depan di Pulau Flores tidak cukup hanya dengan memperluas area lindung, tetapi harus memprioritaskan perlindungan koridor konektivitas fungsional di seluruh bentang lanskap untuk meminimalkan dampak isolasi populasi dan konflik dengan manusia. Komodo dragons (Varanus komodoensis), the world's largest lizard species, face conservation challenges in their natural habitat on Flores Island due to environmental changes. Increased human activity and land use change have the potential to cause habitat fragmentation, threatening genetic flow and the long-term survival of the population. This study aims to project changes in land use and land cover on Flores Island until 2050 based on two management approaches, namely the business-as-usual scenario and the optimistic scenario, and to evaluate the ecological implications of these changes on the quality of the Komodo dragons habitat.
The research method uses a cloud-computing-based spatial approach through Google Earth Engine to process Landsat 5 and Landsat 8 satellite images. Land use classification was carried out periodically in 2000, 2010, 2015, and 2020. Future projections were simulated using the Patch-generating Land Use Simulation model, which is capable of integrating various factors driving land change. Habitat quality and landscape fragmentation were then analyzed using a number of landscape indices, including land cover, effective mesh size, number of patches, and like adjacencies.
The results of the analysis show that the classification model performs well with an accuracy rate that increases over time, reaching more than 90% in the last year of observation. The 2050 projections show fundamental differences between the two scenarios. The business-as-usual scenario tends to lead to environmental degradation characterized by uncontrolled urban sprawl and high habitat fragmentation, despite an expansion in the seasonal forest cover class. In contrast, the optimistic scenario shows a more sustainable pattern of land use, with more clustered built-up area and the restoration of important ecosystems, such as mangrove forests, thereby creating a more resilient landscape structure.
The study concludes that the integrity of habitat connectivity is a more crucial factor for Komodo dragon conservation than simply increasing the total area of fragmented habitat. The optimistic scenario was more effective in maintaining the landscape cohesion necessary for Komodo dragon movement and gene flow. Therefore, future conservation strategies on Flores Island should not only focus on expanding protected areas but must prioritize the protection of functional connectivity corridors across the landscape to minimize the impacts of population isolation and human conflict.
Collections
- MT - Forestry [1541]
