Pemetaan Area Terdampak Tsunami Di Pesisir Kabupaten Pandeglang Menggunakan Sistem Informasi Geografis
Date
2026Author
Muchsin, Fikri Muhammad
Siregar, Vincentius P.
Susilo, Setyo Budi
Metadata
Show full item recordAbstract
Kabupaten Pandeglang merupakan salah satu wilayah yang berpotensi besar
terhadap ancaman bencana tsunami. Hal ini terjadi disebabkan wilayah Kabupaten
Pandeglang yang berhadapan langsung dengan pertemuan dua lempeng aktif,
Eurasia dan Indo-Australia. Penelitian ini bertujuan memetakan dan menganalisis
tingkat bahaya tsunami di daerah pesisir Kabupaten Pandeglang menggunakan
Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan menggunakan tiga skenario ketinggian
tsunami, yaitu 1 m, 5 m, dan 10 m. Pemetaan area terdampak tsunami menggunakan
metode Berryman dilakukan dengan memanfaatkan beberapa parameter seperti
kemiringan lereng, garis pantai, penggunaan lahan (koefisien kekasaran
permukaan), dan ketinggian tsunami di garis pantai. Dalam penelitian ini, tingkat
bahaya tsunami diklasifikasikan menjadi tiga kelas berdasarkan wilayah yang
tergenang, yaitu tinggi (>3 m), sedang (1-3 m), dan rendah (<1 m). Hasil analisis
spasial menunjukkan bahwa 6 kecamatan di Kabupaten Pandeglang diprediksi akan
tergenang dengan tiga skenario genangan yang berbeda. Skenario ini mencakup
kedalaman genangan 1 m, 5 m, dan 10 m, yang menghasilkan area yang berpotensi
terkena dampak masing-masing seluas 142,3 ha, 854,1 ha, dan 3.486,3 ha.
Kecamatan Panimbang diidentifikasi memiliki potensi genangan terbesar. Pandeglang Regency is one of the areas with high potential for tsunami
disasters. This is because Pandeglang Regency is located directly at the
meeting point of two active plates, the Eurasian and Indo-Australian plates.
This study aims to map and analyse the level of tsunami hazard in the coastal
areas of Pandeglang Regency using a Geographic Information System (GIS)
using three tsunami height scenarios, namely 1 m, 5 m, and 10 m. The
mapping of tsunami-affected areas using the Berryman method was carried
out by utilising several parameters such as slope gradient, coastline, land use
(surface roughness coefficient), and tsunami height along the coastline. In
this study, the tsunami hazard level was classified into three classes based on
the flooded area, namely high (>3 m), medium (1-3 m), and low (<1 m). The
spatial analysis results showed that six sub-districts in Pandeglang Regency
were predicted to be flooded with three different inundation scenarios. These
scenarios include inundation depths of 1 m, 5 m, and 10 m, resulting in areas
potentially affected of 142,3 ha, 854,1 ha, and 3.486,3 ha, respectively.
Panimbang District was identified as having the greatest potential for
inundation.
