| dc.description.abstract | Ultisol di Tasikmalaya memiliki kesuburan rendah dan rentan kehilangan hara, sehingga menghambat budidaya kelapa kopyor. Zeolit merupakan mineral dengan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tinggi, digunakan dalam penelitian ini untuk meningkatkan efisiensi pemupukan melalui mekanisme lepas lambat (slow release). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh NPK-Zeolit terhadap pertumbuhan tanaman kelapa kopyor yang berumur 10 bulan dan ketersediaan N, P, K pada tanah Ultisol. Penelitian dilaksanakan di Kebun Kelapa Kopyor PT Cigula Bumi Mineral, Tasikmalaya, dari Agustus hingga Desember 2024, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan dua faktor: jenis pupuk yaitu NPK-Zeolit dengan perbandingan 6:6:12 dan NPK-Konvensional dengan perbandingan 15:15:15 serta kemiringan lahan (0–8%, 8–15%, 15–25%, dan >25%). Parameter yang diukur meliputi pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah pelepah) serta ketersediaan hara tanah (NH4+, NO3-, P2O5, dan K2O). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman lebih tinggi dan jumlah pelepah lebih banyak pada NPK-Konvensional. Sementara diameter batang lebih besar pada perlakuan NPK-Zeolit. Namun parameter pertumbuhan vegetatif tidak memiliki perbedaan nyata. Pupuk NPK-Zeolit memiliki kemampuan superior dalam meningkatkan ketersediaan hara. Perlakuan NPK-Zeolit menghasilkan kandungan amonium (NH4+) di dalam tanah sebesar 76,72 ppm, atau 38,3% lebih tinggi secara signifikan dibandingkan NPK-Konvensional (55,47 ppm). Serupa dengan itu, kandungan kalium (K2O) pada perlakuan zeolit (88,46 ppm) juga 28,0% lebih tinggi daripada perlakuan konvensional (69,11 ppm). Keunggulan ini disebabkan oleh
mekanisme pelepasan lambat (slow release) pada zeolit yang mampu menekan kehilangan hara. Sementara ketersediaan fosfor masih terbatas, hal ini juga menjadi salah satu faktor pertumbuhan vegetatif yang tidak berpengaruh nyata.
Kata kunci: Efisiensi hara, faktor pembatas, kelapa kopyor, pupuk lepas lambat, ultisol. | |