Pengelolaan Pencemaran Sampah Laut Akibat Wisata Pantai dan Kontribusi Sungai di Pantai Pasar Bawah, Bengkulu
Date
2026Author
Wahyu, Novan Agel
Wardiatno, Yusli
Krisanti, Majariana
Metadata
Show full item recordAbstract
Pencemaran sampah laut di Pantai Pasar Bawah, Bengkulu, merupakan
permasalahan yang berasal dari kombinasi aktivitas wisata, kontribusi sampah dari
hulu sungai, serta kegiatan antropogenik masyarakat pesisir. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis status pencemaran sampah laut di Pantai Pasar Bawah
menggunakan metode clean coast index (CCI), mengestimasi nilai kesediaan
membayar wisatawan (willingness to pay/WTP) untuk pengelolaan sampah laut,
serta menentukan prioritas strategi pengelolaan melalui analytical hierarchy
process (AHP).
Penelitian ini dilaksanakan di lima stasiun yang mewakili variasi kondisi
pemanfaatan ruang, aktivitas wisata, dan kedekatan dengan muara Sungai Air
Manna. Pengambilan sampah laut dilakukan dengan metode transek garis
menggunakan kategori National Oceanic and Atmospheric Administration
(NOAA). Survey WTP dilakukan terhadap 301 wisatawan menggunakan
Contingent Valuation Method (CVM) dengan pertanyaan terbuka. Penentuan
prioritas strategi menggunakan AHP dengan melibatkan pemangku kepentingan
daerah, akademisi, dan ahli.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pencemaran sampah laut di Pantai Pasar
Bawah didominasi oleh jenis organik (89%), diikuti sampah plastik (9%),
sedangkan kaca, logam, karet, kain dan turunan, serta kategori lain masing-masing
<2%. Dominasi organik menegaskan kuatnya kontribusi sampah dari hulu melalui
aliran Sungai Air Manna, selain aktivitas wisata di kawasan pantai. Nilai CCI
menunjukkan kondisi pantai tergolong kotor hingga sangat kotor, dengan rincian
sebagai berikut: Stasiun 1 skor 60,58 (sangat kotor); Stasiun 2 dengan skor 5,06
(bersih); Stasiun 3 skor 6,32 (moderat); Stasiun 4 skor 43,70 (sangat kotor); Stasiun
5 dengan skor 38,37 (sangat kotor).
Survei WTP terhadap 301 menghasilkan rata-rata Rp 3.234 per kunjungan
untuk mendukung pengelolaan sampah. Sebagian kecil responden menyatakan
protest zero karena menganggap pengelolaan sampah sepenuhnya merupakan
tanggung jawab pemerintah. Nilai WTP ini menunjukkan adanya potensi
pendanaan mandiri berbasis wisatawan, selama mekanisme pengelolaannya
transparan dan akuntabel.
Analisis AHP menunjukkan bahwa Pemerintah Daerah merupakan aktor
paling dominan dalam pengelolaan sampah laut di Pantai Pasar Bawah, dengan
kelembagaan sebagai kriteria prioritas utama. Pada tingkat sub-kriteria, aspek
koordinasi, kesadaran dan partisipasi masyarakat, serta dukungan pendanaan
menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Strategi pengelolaan
berbasis komunitas memiliki bobot prioritas tertinggi sebagai arah pengelolaan,
yang dibangun secara bertahap melalui peningkatan kapasitas Masyarakat. Marine debris pollution at Pasar Bawah Beach, Bengkulu, originates from a
combination of tourism-related activities, river-borne waste transported from
upstream areas, and various coastal anthropogenic sources. This study aims to
analyze the status of marine litter pollution at Pasar Bawah Beach using the method
clean coast index (CCI), estimate tourists’ willingness to pay (WTP) for marine
debris management; and determine management strategy priorities through the
analytical hierarchy process (AHP).
The research was conducted at five stations representing varying spatial uses,
tourism intensity, and proximity to the Air Manna River estuary. Marine debris was
sampled using line transects following National Oceanic and Atmospheric
Administration (NOAA) categories. WTP survey was conducted on 301 tourists
using the contingent valuation method (CVM) with an open-ended question.
Strategy prioritization was determined using AHP, involving local stakeholders,
academics, and experts.
The results of the study show that marine debris pollution on Pasar Bawah
Beach is dominated by organic products (89%), followed by plastic waste (9%),
while glass, metal, rubber, fabric and fabric products, and other categories each
account for <2%. The dominance of organic confirms the strong contribution of
waste from upstream through the Air Manna River, in addition to tourist activities
in the coastal area. The CCI values indicate that the condition of the beach is
classified as dirty to very dirty, with the following details: Station 1 score 60.58
(very dirty); Station 2 with score 5.06 (clean); Station 3 score 6.32 (moderate);
Station 4 score 43.70 (very dirty); Station 5 with score 38.37 (very dirty).
The WTP survey of 301 respondents yielded an average of Rp 3,234 per visit
to support waste management. A small number of respondents expressed zero
willingness to pay because they considered waste management to be entirely the
responsibility of the government. This WTP value indicates the potential for tourist
based self-funding, as long as the management mechanism is transparent and
accountable.
The AHP analysis indicates that the local government is the most dominant
actor in marine debris management at Pasar Bawah Beach, with institutional
capacity as the main priority criterion. At the sub-criteria level, coordination,
community awareness and participation, and funding support are key
considerations. Community-based management emerges as the highest-priority
strategy, which is developed gradually through capacity building of local
communities.
Collections
- MT - Fisheries [3246]
