Show simple item record

dc.contributor.advisorSarwoprasodjo, Sarwititi
dc.contributor.advisorMuljono, Pudji
dc.contributor.advisorSaleh, Amiruddin
dc.contributor.authorYumeldasari
dc.date.accessioned2026-01-16T12:11:39Z
dc.date.available2026-01-16T12:11:39Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172123
dc.description.abstractMedia memiliki peran penting dalam mewujudkan pembangunan manusia, termasuk memastikan terpenuhinya hak dan perlindungan anak dalam pemberitaan. Meskipun Indonesia telah memiliki kerangka regulasi yang kuat seperti Pedoman Pemberitaan Ramah Anak (PPRA) dan ketentuan internasional yang dikeluarkan United Nations International Children’s Fund (UNICEF), praktik pemberitaan masih menunjukkan pelanggaran yang berulang, terutama dalam pengungkapan identitas anak dan penggunaan narasi yang tidak empatik. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pedoman normatif dan realitas praktik jurnalistik di lapangan. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis tingkat kepatuhan media nasional dan media lokal pada PPRA, menganalisis perbedaan tingkat kepatuhan antara media nasional dan media lokal, menganalisis faktor personal, perilaku, dan lingkungan yang memengaruhi praktik pemberitaan media dalam isu anak berdasarkan perspektif jurnalis, editor, dan pemimpin redaksi, serta mengintegrasikan tingkat kepatuhan media nasional dan media lokal dengan determinasi personal, perilaku, serta lingkungan dalam merumuskan Model Konseptual Jurnalisme Ramah Anak Integratif. Penelitian menggunakan desain mixed methods explanatory sequential, diawali dengan analisis isi kuantitatif terhadap 282 berita yang dipublikasikan pada Januari - Desember 2024 oleh satu media nasional (Sindonews.com) dan satu media lokal (Poskota.co.id). Kepatuhan diukur menggunakan 117 indikator yang diklasifikasikan ke dalam lima dimensi utama: perlindungan identitas anak, pemberitaan positif dan empatik, sensitivitas psikologis, identitas visual dan audio, serta perlindungan hukum dan keamanan anak. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan jurnalis, editor, pemimpin redaksi, serta perwakilan Dewan Pers untuk menggali determinan personal, perilaku, dan lingkungan yang memengaruhi kepatuhan media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan media berada pada kategori sedang hingga tinggi, dengan skor rata-rata keseluruhan 2,24 dengan rentang skor 1 - 3 dengan tiga kategori kepatuhan; skor 1,00 - 1,66 dikategorikan sebagai kepatuhan rendah, skor 1,67 - 2,33 sebagai kepatuhan sedang, dan skor 2,34 - 3,00 sebagai kepatuhan tinggi. Media nasional memperoleh skor lebih tinggi dibandingkan media lokal, namun perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Kepatuhan tertinggi terdapat pada dimensi perlindungan identitas anak serta identitas visual dan audio, yang menunjukkan konsistensi media dalam menjaga kerahasiaan identitas anak. Sebaliknya, kepatuhan terendah ditemukan pada dimensi sensitivitas psikologis dan pemberitaan positif dan empatik, yang mengindikasikan masih lemahnya perhatian media terhadap dampak psikososial pemberitaan dan kualitas narasi yang mendukung pemulihan anak. Temuan kualitatif memperlihatkan bahwa kepatuhan media merupakan hasil interaksi antara determinan personal, perilaku, dan lingkungan sebagaimana dijelaskan dalam Teori Sosial Kognitif. Pada level personal, kepatuhan dipengaruhi oleh empati, nilai moral, dan efikasi diri jurnalis. Pada level perilaku, budaya redaksi, mentoring, dan rutinitas kerja menentukan bagaimana pedoman diterapkan. Pada level lingkungan, tekanan algoritma digital, budaya clickbait, dan tuntutan kecepatan publikasi seringkali melemahkan praktik etis. Ketiga determinan tersebut berinteraksi dan menghasilkan variasi kepatuhan antarmedia. Penelitian ini menghasilkan Model Konseptual Jurnalisme Ramah Anak Integratif, yang menjelaskan bahwa kepatuhan terhadap pedoman pemberitaan tidak hanya bergantung pada aturan normatif, tetapi juga pada kemampuan jurnalis sebagai agen moral, dukungan struktural redaksi, dan kondisi lingkungan industri media. Model ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan, pelatihan jurnalis, serta penguatan sistem pengawasan media dalam rangka meningkatkan kualitas pemberitaan isu anak di Indonesia.
dc.description.abstractThe media plays a crucial role in realizing human development, including ensuring the fulfillment of children's rights and protection in news reporting. Although Indonesia has a strong regulatory framework such as the Child-Friendly Reporting Guidelines (PPRA) and international provisions issued by the United Nations International Children's Fund (UNICEF), reporting practices still show repeated violations, particularly in the disclosure of children's identities and the use of unempathetic narratives. This condition creates a gap between normative guidelines and the reality of journalistic practice in the field. This study aims to analyze the level of compliance of national and local media with PPRA, analyze the differences in compliance levels between national and local media, analyze personal, behavioral, and environmental factors that influence media reporting practices on children's issues based on the perspectives of journalists, editors, and editors-in-chief, and integrate the level of compliance of national and local media with personal, behavioral, and environmental determinants in formulating an Integrative Child Friendly Journalism Conceptual Model. This study employed a mixed methods explanatory sequential design, beginning with a quantitative content analysis of 282 news articles published between January and December 2024 by one national media outlet (Sindonews.com) and one local media outlet (Poskota.co.id). Media compliance was assessed using 117 indicators classified into five main dimensions: protection of children’s identity, positive and empathetic reporting, psychological sensitivity, visual and audio identity, and legal protection and child safety. The qualitative phase was conducted through in depth interviews with journalists, editors, editors in chief, and representatives of the Press Council to explore the personal, behavioral, and environmental determinants influencing media compliance. The findings indicate that the overall level of media compliance falls within the moderate-to-high category, with a mean score of 2.24 on a scale ranging from 1 to 3. Three compliance categories were established: scores of 1.00 - 1.66 were classified as low compliance, scores of 1.67 - 2.33 as moderate compliance, and scores of 2.34 - 3.00 as high compliance. National media outlets achieved higher compliance scores than local media; however, the difference was not statistically significant. The highest levels of compliance were observed in the dimensions of children’s identity protection and visual and audio identity, indicating consistent media practices in safeguarding children’s confidentiality. In contrast, the lowest compliance scores were found in the dimensions of psychological sensitivity and positive and empathetic reporting, suggesting persistent shortcomings in media attention to the psychosocial impacts of news coverage and the quality of narratives that support children’s recovery. Qualitative findings further reveal that media compliance results from the interaction of personal, behavioral, and environmental determinants, as conceptualized in Social Cognitive Theory. At the personal level, compliance is influenced by journalists’ empathy, moral values, and self efficacy. At the behavioral level, newsroom culture, mentoring practices, and work routines shape how journalistic guidelines are implemented. At the environmental level, pressures from digital algorithms, clickbait oriented culture, and demands for rapid publication often undermine ethical journalistic practices. These three determinants interact dynamically, producing variations in compliance across media organizations. This study proposes an Integrative Child Friendly Journalism Conceptual Model, which demonstrates that compliance with journalistic guidelines does not depend solely on normative regulations, but also on journalists’ capacities as moral agents, structural support within newsrooms, and the broader conditions of the media industry environment. This model offers a significant contribution to policy development, journalist training, and the strengthening of media accountability systems, with the ultimate aim of improving the quality of reporting on child-related issues in Indonesia.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePemberitaan Isu Anak dalam Perspektif Jurnalistik Pembangunan: Analisis Kepatuhan terhadap Pedoman Pemberitaan Ramah Anakid
dc.title.alternativeReporting Of Child Issues In The Perspective Of Development Journalism: Analysis Of Compliance With Child Friendly Reporting Guidelines
dc.typeDisertasi
dc.subject.keywordetika jurnalistikid
dc.subject.keywordhak anakid
dc.subject.keywordkepatuhan mediaid
dc.subject.keywordpemberitaan ramah anakid
dc.subject.keywordteori sosial kognitifid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record