Analisis Korelasi antara Debit Aliran dan Sedimen Melayang (Suspended Load) DAS Ciliwung di Wilayah Jakarta
Date
2026Author
'Afifah, Nabilah Rizqah
Liyantono
Saptomo, Satyanto Krido
Metadata
Show full item recordAbstract
Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung merupakan salah satu DAS utama di
Pulau Jawa dengan hulu di kaki Gunung Pangrango dan bermuara di wilayah
Jakarta dengan luas tangkapan sekitar 387 km². Segmen hilir DAS ini memiliki
tingkat kerentanan tinggi terhadap sedimentasi akibat tekanan aktivitas perkotaan,
yang berdampak pada penurunan kapasitas tampung sungai, kerusakan
infrastruktur, dan meningkatnya risiko banjir. Kondisi tersebut menegaskan
pentingnya analisis hubungan antara debit aliran dan sedimen melayang sebagai
dasar ilmiah bagi pengelolaan sungai secara berkelanjutan di kawasan perkotaan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara debit aliran dan sedimen
melayang (Total Suspended Solids/TSS) pada segmen hilir Sungai Ciliwung selama
musim hujan, serta mengkaji pengaruh variasi debit terhadap transportasi sedimen.
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 hingga Juni 2025 di tiga
titik pengamatan utama, yaitu Lenteng Agung, Menteng, dan Muara Angke, yang
mewakili bagian hulu administratif, tengah, dan hilir wilayah Jakarta. Pengambilan
data debit dilakukan melalui hubungan antara tinggi muka air dan kecepatan arus
di lapangan menggunakan current meter, sedangkan analisis TSS dilakukan di
laboratorium dengan metode filtrasi dan pengeringan pada suhu 105°C. Data
dianalisis menggunakan regresi linier untuk menentukan hubungan antara debit
aliran dan muatan sedimen melayang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit aliran Sungai Ciliwung berkisar
antara 2,55 – 45,47 m³/s, dengan konsentrasi TSS antara 8,5 – 284,5 mg/L, dan
muatan sedimen melayang sebesar 4,30 – 587,96 ton/hari. Nilai koefisien
determinasi (R²) menunjukkan hubungan yang sangat kuat pada titik CLW 1-3 (R²
= 0,9721) dan CLW 2-1 (R² = 0,9151), dengan pola hubungan linier positif antara
debit dan muatan sedimen. Sebaliknya, pada titik CLW 2-4 (R² = 0,0006) hubungan
sangat lemah, mengindikasikan pengaruh pasang surut laut yang dominan terhadap
dinamika sedimen di muara sungai. Pendekatan Meyer Peter Muller dan DuBoys
menunjukkan bahwa sedimen dasar berkontribusi dalam jumlah relatif kecil
dibandingkan muatan melayang, namun tetap signifikan terhadap total angkutan
sedimen terutama saat debit tinggi. Fenomena ini menggambarkan adanya proses
erosi dasar dan pengendapan lokal yang memengaruhi pola sedimentasi di wilayah
urban. Hasil penelitian ini menjadi dasar penting bagi pengendalian erosi,
perencanaan pengerukan periodik, serta pengelolaan limpasan permukaan di
wilayah Jakarta untuk mendukung pengelolaan DAS yang berkelanjutan.
Collections
- MT - Agriculture Technology [2430]
