Karakteristik Biofisik dan Sebaran Habitat Peneluran Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) di Pantai Sanur, Bali
Date
2026Author
Gumbirasari, Resa
Bengen, Dietriech Geoffrey
Natih, Nyoman Metta N.
Naulita, Yuli
Metadata
Show full item recordAbstract
Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) merupakan salah satu dari enam spesies penyu yang dilindungi di Indonesia dan diklasifikasikan sebagai satwa Rentan (Vulnerable) menurut IUCN. Populasi spesies ini mengalami penurunan akibat degradasi habitat peneluran, penangkapan ilegal, dan meningkatnya tekanan aktivitas manusia di wilayah pesisir. Pantai Sanur Bali, berperan sebagai salah satu lokasi penting peneluran alami penyu lekang meskipun berada di kawasan wisata dengan intensitas pembangunan yang tinggi. Karakteristik biofisik pantai, meliputi suhu, kelembapan, pH, substrat, kemiringan dan lebar pantai, serta tutupan vegetasi, berpengaruh terhadap pemilihan lokasi peneluran oleh penyu betina. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi biofisik pantai sebagai habitat peneluran, mengkaji hubungan antara faktor lingkungan dan jumlah sarang, serta memetakan sebaran sarang penyu sebagai dasar pengelolaan habitat yang efektif dan berkelanjutan.
Penelitian ini dilaksanakan pada lima stasiun di Pantai Sanur, Bali, yaitu Pantai Mertasari, Semawang, Sindhu, Matahari Terbit, dan Padang Galak, yang dipilih secara purposive berdasarkan keberadaan sarang penyu dan variasi karakteristik biofisik. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan in situ serta analisis citra satelit Landsat 8 untuk mengkaji perubahan garis pantai dan tutupan vegetasi menggunakan indeks NDWI, metode Net Shoreline Movement dan End Point Rate (DSAS), serta klasifikasi band komposit 564. Parameter biofisik pantai, meliputi jenis substrat, suhu, kelembapan, pH pasir, kemiringan, dan lebar pantai, dikumpulkan secara langsung, sedangkan data pasang surut diperoleh melalui analisis harmonik elevasi muka laut. Seluruh parameter dianalisis menggunakan Correspondence Analysis (CA) dan Principal Component Analysis (PCA) untuk menilai kesesuaian habitat peneluran penyu lekang berdasarkan kombinasi kondisi biofisik antar stasiun.
Pantai Sanur merupakan kawasan pesisir strategis di bagian tenggara Pulau Bali yang memiliki fungsi ganda sebagai destinasi wisata dan habitat peneluran penyu lekang (Lepidochelys olivacea). Meskipun berada pada wilayah dengan tingkat aktivitas antropogenik yang tinggi, kawasan ini masih mendukung aktivitas peneluran, yang menunjukkan adanya interaksi dinamis antara proses alami pesisir dan tekanan pembangunan. Pantai Sanur memiliki karakteristik pantai yang landai dengan substrat pasir berukuran sedang hingga halus, serta dinamika pesisir yang dipengaruhi oleh proses erosi, akresi, pasang surut, dan perubahan tutupan vegetasi.
Sebaran sarang penyu lekang di Pantai Sanur tidak merata dan terutama terkonsentrasi pada segmen Pantai Semawang dan Pantai Sindhu. Pola ini mencerminkan adanya selektivitas penyu dalam memilih lokasi peneluran yang memiliki kombinasi substrat yang sesuai, kondisi mikrohabitat yang relatif stabil, serta tingkat gangguan manusia yang lebih rendah. Pantai Mertasari dan Pantai Padang Galak menunjukkan jumlah sarang yang sangat rendah hingga tidak ditemukan sama sekali, yang berkaitan dengan kondisi morfologi pantai yang kurang mendukung serta tekanan lingkungan yang lebih tinggi.
Karakteristik biofisik sarang menunjukkan bahwa substrat pantai didominasi oleh pasir berukuran sedang dan halus, dengan variasi antarsegmen yang memengaruhi stabilitas sarang. Suhu substrat berkisar antara 26–34 °C, kelembapan antara 10–70%, dan pH pasir antara 6–7, yang secara umum masih berada dalam kisaran toleransi bagi perkembangan embrio. Namun demikian, keberadaan substrat berwarna gelap dan dominasi pasir halus pada beberapa lokasi dapat meningkatkan risiko suhu sarang mendekati batas toleransi, sehingga berpotensi menurunkan keberhasilan penetasan dan memengaruhi rasio kelamin tukik. Kombinasi ukuran butir pasir, tingkat kelembapan, dan keberadaan vegetasi pantai berperan penting dalam membentuk mikrohabitat sarang yang stabil.
Lebar dan kemiringan pantai berpengaruh terhadap ketersediaan zona peneluran yang aman dari abrasi dan genangan. Pantai yang relatif landai dan memiliki lebar yang memadai cenderung lebih mendukung aktivitas peneluran. Analisis perubahan garis pantai pada periode 2019–2023 menunjukkan dominasi proses erosi di sebagian besar transek, yang menyebabkan penyempitan zona pantai aktif dan meningkatkan risiko kerusakan habitat peneluran. Akresi yang terjadi akibat keberadaan struktur buatan di beberapa lokasi memang menambah lebar pantai, tetapi tidak selalu meningkatkan kesesuaian habitat karena menghasilkan substrat yang lebih padat dan kurang stabil.
Dinamika pasang surut, khususnya pada fase pasang purnama, meningkatkan potensi genangan sarang pada pantai dengan elevasi rendah dan kemiringan yang sangat landai. Genangan yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menurunkan ketersediaan oksigen di dalam sarang dan menyebabkan kegagalan inkubasi. Oleh karena itu, interaksi antara pasang surut dan morfologi pantai menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan peneluran.
Perubahan tutupan vegetasi pantai selama periode 2019–2023 menunjukkan peningkatan vegetasi tinggi dan kestabilan vegetasi rendah, yang berkorelasi dengan peningkatan jumlah sarang serta keberhasilan penetasan penyu lekang. Vegetasi pantai berperan sebagai elemen struktural yang menstabilkan sedimen, menjaga mikroklimat sarang, dan melindungi habitat dari gangguan eksternal. Hasil Correspondence Analysis dan Principal Component Analysis menegaskan bahwa jumlah sarang dipengaruhi oleh kombinasi kondisi mikrohabitat, karakter fisik pantai, dan dinamika vegetasi, dengan vegetasi berperan sebagai faktor pendukung jangka panjang terhadap kestabilan habitat.
Secara keseluruhan, Pantai Semawang dan Pantai Sindhu diidentifikasi sebagai zona inti peneluran penyu lekang di Pantai Sanur, sedangkan segmen pantai lainnya memerlukan pengelolaan adaptif melalui perlindungan habitat, pengendalian aktivitas manusia, dan restorasi vegetasi. Pendekatan pengelolaan yang berbasis pada kondisi biofisik dan dinamika pesisir ini penting untuk memastikan keberlanjutan habitat peneluran penyu lekang di tengah intensifikasi pemanfaatan kawasan pesisir.
Collections
- MT - Fisheries [3213]
