Strategi Pengembangan Usaha Industri Kecil Pengolahan Kopi Arabika di Kecamatan Gegerbitung Kabupaten Sukabumi
Abstract
RINGKASAN
BAYU EKA NIDURAMA. Strategi Pengembangan Industri Kecil Pengolahan Kopi Arabika di Kecamatan Gegerbitung Kabupaten Sukabumi. Dibimbing oleh TJAHJA MUHANDRI dan SUDRADJAT.
Kopi arabika merupakan komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi dengan permintaan global yang terus meningkat. Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, memiliki potensi besar dalam pengembangan kopi arabika karena didukung kondisi agroklimat yang sesuai. Perkembangan Industri Kecil Menengah (IKM) pengolahan kopi arabika di wilayah ini masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan teknologi pengolahan, modal usaha, kualitas sumber daya manusia (SDM), serta akses pasar. Rendahnya tingkat pendidikan pelaku usaha dan minimnya keterlibatan generasi muda turut menghambat penerapan inovasi dan pengelolaan usaha secara profesional. Padahal, industri kecil pengolahan kopi berperan penting dalam menciptakan nilai tambah dan memperkuat rantai nilai pertanian lokal.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik petani kopi arabika serta faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan industri kecil pengolahan kopi arabika di Kecamatan Gegerbitung; (2) menganalisis alternatif strategi pengembangan industri kecil pengolahan kopi arabika; dan (3) menentukan strategi prioritas yang paling efektif untuk diterapkan.
Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan lokasi di Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi. Data dikumpulkan melalui data primer berupa observasi lapangan, wawancara mendalam, dan kuesioner kepada 100 responden petani dan pelaku IKM kopi, serta 9 responden pakar dari instansi terkait. Data sekunder diperoleh dari dinas pertanian, publikasi pemerintah, dan literatur ilmiah. Analisis dilakukan melalui tiga tahap formulasi strategi, yaitu tahap input menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE), tahap pencocokan menggunakan Matriks Internal-Eksternal (IE) dan analisis SWOT, serta tahap keputusan menggunakan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petani kopi arabika berusia di atas 45 tahun (70,3%), berjenis kelamin laki-laki (98%), dan berpendidikan SD hingga SMA. Mayoritas telah menjalankan usaha kopi selama 2–5 tahun dengan luas lahan relatif kecil, yaitu kurang dari 1 hektar. Varietas kopi yang dominan ditanam adalah Lini S795, Typica, dan Ateng. Produktivitas rata-rata berkisar antara 200-500 kg/ha per tahun, masih berada di bawah potensi optimal varietas unggul. Sebagian besar petani telah menerapkan petik merah, namun praktik pascapanen masih bersifat sporadis dan belum menerapkan standar mutu secara konsisten. Tantangan utama yang dihadapi meliputi keterbatasan modal, teknologi, fluktuasi harga, dan perubahan iklim.
Persepsi dan harapan petani menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan industri kopi arabika, khususnya melalui peningkatan keterampilan teknis budidaya dan pascapanen, perluasan akses pasar, penguatan kelembagaan kelompok tani, serta peran aktif pemerintah dalam memfasilitasi kemitraan usaha. Inovasi pengolahan dan peningkatan kualitas produk dipandang penting untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi arabika lokal.
Hasil analisis lingkungan internal dan eksternal menunjukkan nilai IFE sebesar 2,78 dan EFE sebesar 2,72, yang menempatkan industri kecil pengolahan kopi arabika pada Kuadran V (hold and maintain) dalam Matriks IE. Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuatan internal relatif baik dan mampu merespons peluang eksternal yang ada. Analisis SWOT menghasilkan beberapa alternatif strategi, antara lain digitalisasi pemasaran kopi, pengembangan ekowisata kopi berbasis lokal, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan terintegrasi, inovasi produk dan kemasan ramah lingkungan, penguatan branding melalui Indikasi Geografis, peningkatan efisiensi teknologi pengolahan, penguatan akses permodalan dan legalitas produk, serta diversifikasi produk.
Berdasarkan hasil analisis QSPM, strategi prioritas dengan nilai Total Attractiveness Score (TAS) tertinggi sebesar 7,15 adalah peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan terintegrasi. Strategi ini dipandang sebagai fondasi utama dalam mendukung keberhasilan strategi pengembangan lainnya, karena peningkatan kompetensi SDM menjadi kunci dalam penerapan inovasi, penguatan pemasaran, dan pengembangan industri kopi arabika yang berkelanjutan di Kecamatan Gegerbitung.
Kata kunci: industri kecil, kopi arabika, strategi pengembangan
Collections
- MT - Professional Master [911]
