| dc.description.abstract | Performa atlet muda sering kali dipahami hanya dari sisi fisik dan teknis, padahal banyak atlet yang sudah berlatih keras tetapi belum mampu tampil optimal secara konsisten di arena pertandingan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya menelaah faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi performa atlet disekolah atlet berbasis asrama. Mengingat permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi karakteristik atlet muda, karakteristik keluarga, dukungan orang tua, relasi pelatih-atlet, harga diri, motivasi berprestasi dan performa atlet muda; (2) menganalisis hubungan antar karakteristik atlet muda dan karakteristik keluarga, dukungan orang tua, relasi pelatih-atlet, harga diri, motivasi berprestasi dan performa atlet muda; dan (3) menganalisis pengaruh dukungan orang tua, relasi pelatih-atlet, harga diri, motivasi berprestasi terhadap performa atlet muda.
Penelitian ini dilakukan di Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain explanatory. Sebanyak 208 atlet muda berpartisipasi secara voluntary, dengan kriteria masih bersekolah di jenjang SMA, aktif berlatih di pusat pelatihan, memiliki pengalaman kompetisi minimal tingkat daerah, dan memiliki orang tua lengkap. Seluruh variabel dukungan orang tua, relasi pelatih–atlet, harga diri, motivasi berprestasi, serta performa olahraga atlet diukur melalui kuesioner. Performa atlet didefinisikan sebagai penilaian atlet terhadap kemampuan dirinya dalam menjaga fokus, energi, kesiapan mental, kesadaran situasional, serta kemampuan mengelola gangguan saat latihan maupun bertanding. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, korelasi, dan pemodelan persamaan struktural. Penelitian ini telah memperoleh keterangan lolos kaji etik Penelitian dengan nomor 1687/IT3.KEPMSM-IPB/SK/2025.
Karakteristik responden menunjukkan bahwa atlet muda, didominasi oleh laki-laki, dan berasal dari cabang olahraga permainan serta beladiri. Sebagian besar berasal dari keluarga dengan kondisi sosial ekonomi menengah. Ayah umumnya bekerja sedangkan ibu sebagian besar adalah ibu rumah tangga dan mayoritas berpendidikan di tinggat SMA. Dilihat dari pendapatan keluarga memiliki persentase terbesar pendapatan total keluarga per kapita per bulan lebih dari Rp 5.000.000,-.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dukungan orang tua cenderung rendah pada aspek kontrol dan keterlibatan sehari-hari, namun dukungan otonomi cenderung tinggi. Artinya, orang tua memberikan kepercayaan kepada anak untuk mengambil keputusan tanpa tekanan berlebihan. Sementara itu, relasi pelatih–atlet berada pada kategori sedang hingga tinggi, menggambarkan interaksi yang cukup dekat dan saling mendukung. Atlet juga menunjukkan harga diri dan motivasi berprestasi yang baik, terutama pada aspek tanggung jawab pribadi. Performa atlet muda dalam penelitian ini diukur secara subjektif dan tergolong tinggi, ditandai dengan fokus, energi, dan optimisme yang cukup stabil, namun kemampuan relaksasi fisik masih tergolong rendah dan menjadi tantangan.
Analisis korelasi memperlihatkan bahwa atlet laki laki dan yang ibunya berperan sebagai ibu rumahtangga berhubungan positif dengan performa olahraga. Sementara itu performa atlet muda berhubungan positif dengan dukungan orangtua, relasi pelatih dengan atlet, harga diri dan motivasi berprestasi.
Temuan utama dari analisis struktural menunjukkan bahwa motivasi berprestasi dan harga diri merupakan faktor yang mempengaruhi performa atlet, namun pengaruh motivasi berperstasi berpengaruh lebih dominan. Artinya atlet yang memiliki dorongan kuat untuk berprestasi cenderung tampil lebih siap secara mental dan lebih fokus. Dengan kata lain, pelatih berperan besar dalam membentuk kepercayaan diri dan ketahanan mental atlet. Dukungan orangtua mempengaruhi tidak langsung pada performa atlit namun pengaruhnya bersifat positif melalui relasi pelatif-atlit, harga diri, dan motivasi berprestasi.
Berdasarkan temuan ini, implikasi kebijakan penelitian menekankan perlunya pembinaan atlet muda yang lebih holistik, dengan mengintegrasikan penguatan aspek psikologis dan relasional antara pelatih dan atlet ke dalam sistem pembinaan atlet berbasis asrama, peningkatan kapasitas pelatih tidak hanya pada kompetensi teknis tetapi juga kompetensi komunikasi dan pembinaan berbasis otonomi, serta penguatan mekanisme keterlibatan orang tua sebagai sumber dukungan emosional, sehingga kebijakan pembinaan atlet tidak hanya berorientasi pada performa jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan prestasi dan kesejahteraan psikologis atlet muda dalam jangka panjang. | |