Pengaruh Perubahan Kualitas Diet terhadap Status Tekanan darah dan Hipertensi pada Subjek Dewasa di Kota Bogor
Date
2026Author
Naqiyyah, Salsabil
Tanziha, Ikeu
Briawan, Dodik
Riyadina, Woro
Metadata
Show full item recordAbstract
Prevalensi hipertensi secara global terus meningkat, termasuk di Indonesia. Salah satu pola makan yang dianjurkan untuk mengontrol hipertensi adalah Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet. Kepatuhan terhadap DASH diet dapat dinilai menggunakan DASH Accordance Score. DASH Accordance Score digunakan untuk melihat kualitas dan perubahan pola makan seseorang dari waktu ke waktu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesesuaian pola makan sesuai anjuran DASH diet berhubungan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah pada individu non-hipertensi dan tekanan darah yang lebih terkontrol pada penderita hipertensi. Namun, penelitian terkait di Indonesia masih sangat terbatas, terutama dalam kurun waktu yang lama seperti studi Kohort. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perubahan kualitas diet terhadap risiko dan kontrol hipertensi dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti sosial demografi, status gizi, gaya hidup, dan komorbid yang mungkin berkontribusi terhadap hubungan keduanya.
Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari Studi Kohort Faktor Risiko Penyakit Tidak Menular (FRPTM) di Kota Bogor. Data yang dianalisis pada penelitian ini berasal dari pengambilan data tahap 1 (baseline 2011) dan 2 (baseline 2012) Studi Kohort FRPTM dari rentang tahun 2011 hingga 2018 dengan interval pengambilan data per dua tahun. Penelitian Studi Kohort FRPTM bertempat di lima kelurahan (Kelurahan Kebon Kelapa, Babakan Pasar, Babakan, Ciwaringin, dan Panarangan), di Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat, Indonesia serta sudah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan, Badan Litbangkes Nomor: LB.02.01/2/KE.076/2018 pada tahun 2018.
Subjek penelitian ini adalah yang mengukur tekanan darah pada follow-up tahun ke-6 (2017 untuk subjek baseline tahun 2011 dan 2018 untuk subjek baseline tahun 2012) yang pada saat baseline memiliki tekanan darah normal (normotensi). Subjek ditentukan dengan metode purposive sampling. Kriteria inklusi subjek yaitu berusia di atas 18 tahun (= 18 tahun) dan normotensi pada saat baseline. Kriteria eksklusi subjek yaitu memiliki penyakit komorbid pada saat baseline, memiliki cacat fisik bawaan, sedang dalam kondisi khusus seperti hamil dan menyusui, dan terdapat missing data (data tidak lengkap) akibat loss follow-up atau keluar sewaktu pengambilan data Studi Kohort FRPTM berlangsung. Total subjek penelitian ini berjumlah 1724 orang yang terdiri dari 1200 orang (69,6%) normotensi dan 524 orang (30,4%) penderita hipertensi. Penderita hipertensi terdiri dari 91 orang (5,3%) penderita hipertensi terkontrol dan 433 orang (25%) penderita hipertensi tidak terkontrol. Pengolahan dan analisis data dilakukan menggunakan aplikasi Microsoft Excel, Nutrisurvey, dan IBM Statistical Program Social Science (SPSS) Statistic 25. Uji statistik yang digunakan meliputi analisis univariat, bivariat (pearson chi-square test, fisher’s exact test, dan wilcoxon signed rank test serta multivariat menggunakan multiple logistic regression test (uji regresi logistik berganda).
Penelitian ini menemukan bahwa kualitas diet subjek saat baseline maupun saat follow-up tahun ke-4 tahun mayoritas tergolong buruk. Hal yang sama juga ditemukan pada subjek hipertensi terkontrol dan tidak terkontrol. Perubahan ke arah yang lebih buruk (memburuk) lebih banyak mendominasi perubahan kualitas diet subjek pada kedua kategori subjek berdasarkan status tekanan darah (normotensi dan hipertensi) maupun status hipertensi (hipertensi terkontrol dan tidak terkontrol).
Subjek pada seluruh kategori status tekanan darah dan hipertensi mayoritas berusia 35–44 tahun, perempuan, berpendidikan rendah, bekerja, tidak stress, beraktivitas fisik kurang, dan tidak memiliki komorbid. Subjek normotensi mayoritas tidak gemuk, memiliki lingkar perut normal, dan perokok. Subjek hipertensi mayoritas obese, memiliki obesitas sentral, dan bukan perokok. Perbedaan pola aktivitas fisik dan status merokok ditemukan antara subjek hipertensi terkontrol dan tidak terkontrol. Subjek hipertensi terkontrol lebih banyak yang beraktivitas fisik cukup dan perokok. Sedangkan subjek hipertensi tidak terkontrol lebih banyak yang beraktivitas fisik kurang dan bukan perokok.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa perubahan kualitas diet tidak berhubungan signifikan dengan risiko hipertensi. Interaksi kualitas diet buruk dengan IMT (OR=1,473; 95% CI=1,287–1,687), obesitas sentral (OR=1,675; 95% CI=1,269–2,211), usia 45–54 tahun (OR=1,529; 95% CI=1,132–2,064), dan usia = 55 tahun (OR=2,625; 95% CI=1,789–3,853) meningkatkan risiko hipertensi, sedangkan tidak bekerja menurunkan risiko (OR=0,67). Penelitian ini juga menemukan bahwa perubahan kualitas diet tidak menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dengan kontrol hipertensi. Usia 34–44 tahun (OR=2,223; 95% CI= 1,028–4,807) dan tingkat pendidikan menengah ke atas (OR=1,827; 95% CI=1,110–3,006) meningkatkan risiko hipertensi tidak terkontrol.
Edukasi terkait pola makan yang bergizi seimbang dan berkualitas pada masyarakat khususnya penderita hipertensi menjadi fokus yang penting untuk dilakukan. Edukasi yang dilakukan dapat berupa anjuran untuk membatasi makanan komponen discourage nutrients (natrium, kolesterol, lemak jenuh, dan total lemak) dan disaat yang bersamaan meningkatkan makanan komponen encourage nutrients (protein, kalsium, magnesium, kalium, dan serat). Kelengkapan database zat gizi di Indonesia perlu untuk ditingkatkan untuk menunjang berbagai penelitian terkhusus di bidang gizi dan kesehatan. Selain itu, perlu adanya regulasi untuk pencantuman informasi nilai zat gizi mikro selain natrium pada makanan kemasan agar masyarakat lebih bijak dalam memilih makanan dan konsumsi lebih terukur.
Collections
- MT - Human Ecology [2407]
