Pengaruh Aerasi dan Agitasi pada Proses Produksi Enzim Inulinase Kasar dari Aspergillus niger
Abstract
Enzim inulinase mcrupakan salah satu enzim yang dapat digunakan untuk
hidrolisis dalam proses produksi sirup fruktosa. Enzim ini memotong satuan
fruktosa dari inulin pada posisi terminal P-2, 1 polifruktosa. Hidrolisis enzimatis
pada inulin ini dapat terjadi oleh aksi tunggal exoinulinase (EC 3.2.2.80; P-Dfructan-
fructohydrolase) atau aksi bersama antara exoinulinase dengan
endoinulinasc (EC 3.2.1.7; 2,1 P-D-fructo-fructohydrolase) (Byun dan Nahm,
1978; Vandamme dan Derycke, 1983; Kim et al., 1997; Park et al., 1999).
Hidrolisis enzimatis terscbut membcrikan banyak kountungan seperti pemotongan
ikatan inulin yang spesifik, wama produk yang lebih baik, dan kccilnya
kcmungkinan tcrbcntuknya difruktosa anhidrid (Sulistyo, 1992). Meskipun
dcmikian, hidrolisis cnzimatis masih sedikit digunakan dalam industri sirup
fruktosa, mcngingat enzim inulinase masih harus di impor.
Aspergillus niger merupakan salah satu mikroorganisme pcnghasil cnzim
inulinase. Untuk produksi enzim inulinase ini, Aspergilbs niger dikultivasi pada
suhu 37°C selama 84 jam dalam fermentor Biostat-M 2 liter dengan volume kerja
1200 ml medium. Komposisi medium ini adalah substrat in:ilin 5% (w/v),
(NH4)2SO4 1.0% (w/v), larutan garam 5% (v/v), MgSO4 2.25 M 0.5 % (v/v), trace
element 0.1 % (v/v), dan suspensi kapang Aspergillus niger dalam 100 ml media
propagasi. Kandungan pada larutan garam adalah NaNO3, KCI, K2SO4, sedangkan
trace element mengandung ZnSO4, asam borat, Fe2(SO4)2, CoCfi, CuSO4,
ammonium molibdate, dan EDTA (disodium salt) dengan konsentrasi terlarutnya
masing-masing.
Dalan1 setiap proses kultivasi aerobik, aerasi dan agitasi merupakan faktor
yang sangat penting. Fungsi utamanya adalah untuk mensuplai kebutuhan oksigen
bagi aktifitas metabolik mikroorganisme, selain juga untuk mengaduk
mikroorganisme agar dapat tersuspensi secar.1 homogen dan merata (Gumbira
Sa'id, 1987). Perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah dengan
rnemvariasikan aerasi dan agitasi pada proses kultivasi. Faktor perlakuan untuk
agitasi adalah 400 rpm dan 600 rpm, sedangkan faktor perlakuan aerasi adalah 0.5
vvm, 1.0 vvm dan 1.5 vvm. Kedua faktor perlakuan tersebut kemudian
dikombinasikan, sehingga didapat 6 jenis perlakuan. Pada tiap perlakuan,
pengamtilan sampel dilakukan tiap 12 jam sekali untuk mengukur nilai pH, kadar
biomassa, serta nilai aktifitas enzimnya.
Pada analisis nilai aktifitas enzim, dapat diketahui bahwa kombinasi
perlakuan agitasi 600 rpm dan aerasi 1.0 vvm merupakan perlakuan yang relatif
lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Nilai aktifitas enzimnya pada jam ke-
84 adalah 6,85 U-enzim/ml. Hasil perhitungan rendemen produk terhadap kadar
biomassa (Y pix) dan laju pertumbuhan spesifik (μ), sebagai parameter utama
pcnelitian, juga membuktikan hal yang sama. Nilai Y p/x dan μ untuk perlakuan
terse but masing-masing adalah sebesar 1.0156 U-enzim mr1 /g biomassa dan
0,0114 jam·1
Sementara itu, pada hasil rancangan percobaan pada sclang
kcpercayaan 99% dan dilanjutkan dengan uji Duncan, menunjukkan bahwa
pcrlakuan aerasi sangat berpcngaruh terhadap jalannya proses ferrnentasi.
