View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Multidiciplinary Program
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Dissertations
      • DT - Multidiciplinary Program
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Model Pengembangan Pertanian perkotaan Berkelanjutan Berbasis Risiko dan Agroekologi

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (562.9Kb)
      Fulltext (4.705Mb)
      Lampiran (2.064Mb)
      Date
      2026
      Author
      Rahmayanti, Fetty Dwi
      Gunawan, Andi
      Fauzi, Anas Miftah
      Santosa, Edi
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Pangan adalah pintu masuk strategis untuk mengatasi berbagai tantangan perkotaan yang semakin kompleks akibat urbanisasi dan perubahan kebijakan. Pada tahun 2050, 70 % populasi dunia akan tinggal di daerah perkotaan, dan 80 % makanan secara global diperkirakan akan dikonsumsi di kota-kota. Dalam beberapa tahun terakhir, pertanian perkotaan telah diidentifikasi sebagai solusi untuk memajukan berbagai tujuan pembangunan keberlanjutan, seperti ketahanan pangan, ketahanan iklim dan ekosistem, kesehatan dan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan kesetaraan sosial. Namun, efektivitas pertanian perkotaan, serta tindakan kebijakan yang dibutuhkan untuk memanfaatkan potensinya, belum dipahami dengan baik bagi masyarakat kota. DKI Jakarta merupakan pusat kota pemerintahan dan ibukota negara Indonesia yang memiliki dinamika perkembangan ekonomi, industri dan kegiatan lainnya termasuk sektor pertanian. Pertanian perkotaan telah dilakukan di Jakarta, namun pertanian perkotaan memiliki risiko lingkungan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pertanian yang di desa, karena udara kota, air, tanah dan limbah yang ada memiliki polutan dan bahan berbahaya yang lebih tinggi dibandingkan di desa. Apabila pengembangan pertanian perkotaan tidak memperhatikan keberlanjutannya, khususnya bagi pengembangan tanaman pangan dikhawatirkan akan menimbulkan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat kota di Jakarta. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pendekatan, yakni pendekatan risiko dan agroekologi didalam pengembangan pertanian perkotaan di Jakarta khususnya di Jakarta Timur. Tujuan penelitian ini adalah (1) mengidentifikasi dan menganalisis pertanian perkotaan di Jakarta Timur, dengan cara melakukan inventarisasi karakteristik pertanian perkotaan diwilayah tersebut dalam kurun waktu lima tahun terakhir; (2) menganalisis potensi dan risiko pengembangan pertanian perkotaan di Jakarta, melalui penilaian risiko dari kegiatan pertanian perkotaan di Jakarta menggunakan ERA (Environment Risk Assessment); (3) menentuan faktor yang berpengaruh terhadap risiko, yang dilakukan dengan penyusunan diagram keputusan dari hasil FGD (Forum Group Discussion) dan berdasarkan hasil analisis AHP (Analytical Hierarchy Process), RAP-Farm dan DPSIR; (4) merekomendasikan model pengembangan pertanian perkotaan berbasis agroekologi. Karakteristik pertanian perkotaan di Jakarta Timur terdapat tiga tipologi pertanian perkotaan, yaitu : (1) Tipologi A, aktivitas sub sektor non-pertanian tinggi (ditemukan pada kecamatan Cipayung dan Cakung), (2) Tipologi B aktivitas sub sektor pertanian tinggi (kecamatan Ciracas, Makasar, Pulogadung dan Pasar Rebo), dan (3) Tipologi C aktivitas sub sektor pertanian dan non-pertanian rendah (kecamatan Kramat jati, Matraman, Duren sawit dan Jatinegara). Faktor biotik dan abiotik menyebabkan risiko lingkungan pada pertanian perkotaan di Jakarta Timur. Risiko tertinggi terdapat pada debu udara dan banyaknya serangga. Dalam menentukan status dan tingkat keberlanjutan pertanian perkotaan, dilakukan pengolahan data dengan menggunakan metode RAP-Farm. Hasil analisis RAP-Farm untuk dimensi sosial memiliki indeks 78,25 status berkelanjutannya yang ditempati oleh kecamatan ke-4, yaitu kecamatan Ciracas dimana pengetahuan masyarakat terhadap lingkungan hidup sudah baik, serta eksistensi pelayanan pemerintah terhadap kecamatan ini juga sudah baik. Untuk dimensi ekonomi, kecamatan ke-1 yang memiliki status dan tingkat berkelanjutan yang tertinggi nilainya yaitu kecamatan Cakung yang memiliki indeks 72,80. Secara ekonomi, stabilitas pasokan dan pengeluaran untuk memproduksi hasil pertanian (benih, pupuk, pestisida, dan lainnya) dari aktivitas pertanian perkotaan di kecamatan ini sudah baik pengelolaannya. Selanjutnya dimensi ekologi memiliki status berkelanjutan yang paling baik dengan indeks 87,71 terdapat pada kecamatan ke-2, yaitu kecamatan Cipayung. Kecamatan ini memiliki kualitas hasil tanam yang baik dan dalam penggunaan pestisida organik, juga sudah dilakukan. Hasil analisis DPSIR menunjukan bahwa faktor pendorong (drivers) pertanian perkotaan hadir di Jakarta, tepatnya di Jakarta timur berdasarkan hasil analisis dibedakan menjadi dua faktor pendorong, yaitu anthropogenic drivers dan natural drivers. Tekanan (pressure) terhadap pertanian perkotaan yang dapat dirasakan pada kondisi saat ini yaitu keterbatasan lahan. Hal ini sering kali menjadi alasan, yang menyulitkan mengembangkan pertanian perkotaan. Disamping itu kebijakan tata ruang kota di Jakarta yang rentan tumpang tindih dan rentan beralih fungsi, menjadi alasan sulitnya mengembangkan pertanian perkotaan. Kondisi terkini (state) bahwa aktivitas pertanian perkotaan di Jakarta Timur sudah dilakukan, namun belum seluruh wilayah yang berada pada suatu kecamatan menjalankan aktivitas pertanian perkotaan, keuntungan ekonomi yang diharapkan masih sangat jauh dan lingkungan alam sangat perlu diperhatikan. Dampak (impact) yang dirasakan yaitu terdapat ancaman kualitas produk pertanian baik dari sub sektor pertanian, perikanan dan peternakan, ancaman kuantitas yang dihasilkan, peningkatan risiko akibat pemanasan global, pencemaran (air, tanah, udara), ancaman hilangnya keanekaragaman hayati flora fauna dan penurunan estetika. Disamping itu dampak sosial yang juga rentan dialami masyarakat kota yaitu terjadinya konflik lahan akibat tumpang tindihnya kebijakan, terbatasnya lahan hingga rentan mengalami gangguan kesehatan. Hal yang perlu dilakukan (respons) dalam mengembangkan pertanian perkotaan berkelanjutan di Jakarta, khususnya di Jakarta Timur yakni dengan mempertimbangkan keadaan saat ini melalui pendekatan komprehensif yang holistik dari berbagai aspek pengelolaan. Terbangunnya model pertanian perkotaan berbasis risiko, yaitu mengembangkan pertanian perkotaan di Jakarta Timur mempertimbangkan risiko sebagai pemetaan dalam melihat daya dukung yang ada guna mendukung keberlanjutan pertanian perkotaan di Jakarta Timur. Model pertanian perkotaan berbasis agroekologi, yaitu mengintegrasikan elemen agroekologi dalam prinsip secara sosial, ekonomi dan ekologi ke dalam pertanian perkotaan untuk menciptakan sistem pertanian perkotaan yang berkelanjutan, selaras dengan kondisi kompleksitas diperkotaan.
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172014
      Collections
      • DT - Multidiciplinary Program [799]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository