Toleransi Burung Terhadap Kehadiran Manusia di Beberapa Area Perumahan Kecamatan Dramaga, Bogor
Date
2026Author
Rohman, Seno Nur
Mardiastuti, Ani
Mulyani, Yeni Aryati
Metadata
Show full item recordAbstract
Urbanisasi yang masif telah mengubah lanskap alami menjadi kawasan yang
didominasi manusia. Pergeseran lansekap dan paparan aktivitas manusia tersebut
berdampak terhadap perilaku dan keberadaan satwa liar, termasuk burung. Burung
harus beradaptasi untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari gangguan
manusia. Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah melarikan diri ketika didekati
manusia. Jarak di mana burung memutuskan untuk melarikan diri dapat dijadikan
sebagai tolak ukur toleransi burung terhadap kehadiran manusia.
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk menganalisis tingkat toleransi
burung yang ditemukan pada gradien habitat perkotaan. Tujuan utama tersebut
perlu didukung dengan data lain sehingga disusun tujuan tambahan yaitu
mendeskripsikan kondisi vegetasi dan mengevaluasi keanekaragaman spesies
burung yang umum ditemukan di lokasi penelitian. Lokasi penelitian dalam
penelitian ini yaitu Perumahan Dosen IPB, Perumahan Pakuan Regency, dan
Perumahan Dramaga Cantik di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor.
Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-November 2024. Data kondisi
vegetasi dikumpulkan menggunakan penghitungan nilai Normalized Difference
Vegetation Index (NDVI) dan Leaf Area Index (LAI), sedangkan data
keanekaragaman jenis burung dikumpulkan dengan metode Point Count.
Pengambilan data toleransi burung diukur menggunakan empat metrik perilaku,
yaitu Start Distance (SD), Detection Distance (DD), Alert Distance (AD), dan
Flight Initiation Distance (FID). Tiga spesies target yang diamati adalah burung
gereja erasia (Passer montanus), cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), dan
layang-layang batu (Hirundo javanica). Analisis data dilakukan secara deskriptif
dan inferensial menggunakan Kruskal-Wallis test dan post hoc Dunn’s test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perumahan Dosen IPB memiliki
kerapatan vegetasi dan tutupan kanopi tertinggi, serta jumlah spesies burung
terbanyak. Perumahan Pakuan Regency memiliki nilai indeks keanekaragaman
tertinggi, mencerminkan distribusi individu yang lebih merata. Perumahan
Dramaga Cantik menunjukkan nilai terendah untuk kerapatan vegetasi, tutupan
kanopi, jumlah dan keanekaragaman jenis burung. Burung-gereja erasia dan
layang-layang batu menunjukkan perbedaan signifikan dalam respons toleransi
antar lokasi, dengan FID yang lebih pendek di area dengan vegetasi rendah,
mencerminkan peningkatan toleransi akibat habituasi. Sebaliknya, cucak kutilang
menunjukkan respons yang relatif stabil antar lokasi.
Area dengan vegetasi rapat menyediakan habitat yang lebih mendukung bagi
lebih banyak spesies burung, sementara area terbuka mendorong adaptasi perilaku
yang lebih toleran bagi spesies tertentu. Penelitian ini menegaskan bahwa struktur
vegetasi berperan penting dalam membentuk perilaku toleransi burung terhadap
manusia. Rapid urbanization has reshaped natural landscapes into human-dominated areas,
profoundly affecting wildlife, including birds. To persist in such environments, birds
adapt through flight behavior when approached by humans. The distance at which they
flee serves as an indicator of tolerance toward human presence.
This study specifically aims to analyze the tolerance levels of birds observed
along an urban habitat gradient. To support this primary objective, additional goals
were established, namely to describe the vegetation conditions and to evaluate the
diversity of bird species commonly found within the study sites. Data collection was
conducted in three residential areas, namely IPB University Residence, Pakuan
Residence, and Dramaga Cantik Residence, all located in Dramaga District, Bogor
Regency.
Data collection was conducted between May and November 2024. Vegetation
conditions were assessed using Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) and
Leaf Area Index (LAI), while bird species diversity was recorded through the Point
Count method. Bird tolerance was measured using four behavioral metrics: Start
Distance (SD), Detection Distance (DD), Alert Distance (AD), and Flight Initiation
Distance (FID). Three focal species were observed, namely the Eurasian tree sparrow
(Passer montanus), the Sooty-headed bulbul (Pycnonotus aurigaster), and the Pacific
swallow (Hirundo javanica). Data analyses were performed using descriptive statistics
and inferential tests, specifically the Kruskal–Wallis test followed by Dunn’s post hoc
test.
The results showed that IPB University Residence had the highest vegetation
density and canopy cover, as well as the greatest number of bird species. Pakuan
Residence had the highest diversity index, indicating a more even distribution of
individuals. Dramaga Cantik Residence showed the lowest values in vegetation density,
canopy cover, species richness, and diversity. The Eurasian tree sparrow and Pacific
swallow showed significant differences in tolerance respones across locations, with
shorter FID in areas with low vegetation, indicating increased tolerance due to
habituation. In contrast, the Yellow-vented bulbul showed relatively stable respones
across all locations.
Areas with dense vegetation provide habitats that are more supportive for a
greater number of bird species, whereas open areas promote more tolerant behavioral
adaptations in certain species. This study emphasizes that vegetation structure plays a
crucial role in shaping bird tolerance behavior toward human presence.
Collections
- MT - Forestry [1511]
