Imbangan Hijauan dan Konsentrat pada Sapi Perah terhadap Degradasi Pakan secara In Sacco dengan Pembanding In Vitro Gas Test
Abstract
Metode in sacco sering digunakan untuk menilai degradasi pakan, tetapi
hasilnya dapat dipengaruhi oleh laju alir (Kp) yang berbeda akibat komposisi pakan
yang diberikan. Selain itu, perhitungan Effective Degradability (ED) in sacco masih
menggunakan asumsi Kp yang belum terverifikasi pada kondisi tropis. Penelitian
ini bertujuan mengevaluasi pengaruh imbangan hijauan dan konsentrat pada sapi
perah terhadap degradabilitas pakan dengan metode in sacco serta
membandingkannya dengan metode in vitro gas test sebagai standar yang lebih
stabil. Penelitian menggunakan tiga perlakuan imbangan pakan (P1 = 60% hijauan
+ 40% konsentrat, P2 = 50% hijauan + 50% konsentrat, P3 = 40% hijauan + 60%
konsentrat) pada sapi perah Friesian Holstein (FH) berfistula. Hasil menunjukkan
bahwa total konsumsi BK tidak berbeda nyata antarperlakuan (P>0,05), tetapi
perlakuan memengaruhi konsumsi hijauan, konsumsi konsentrat, dan secara
signifikan (P<0,05) memengaruhi laju alir. Jagung memiliki degradasi tertinggi,
rumput gajah terendah, dan ransum berada di antara keduanya. Nilai ED in sacco
tertinggi pada P1 dan menurun seiring meningkatnya konsentrat dalam ransum
karena laju alir yang lebih cepat membatasi waktu fermentasi di rumen. Metode in
vitro gas test menghasilkan pola kinetika yang lebih stabil antarpelakuan tanpa
pengaruh laju alir sehingga dapat dijadikan pembanding. Korelasi antara kedua
metode menunjukkan P2 memberikan hasil yang paling konsisten (arah hubungan
positif), sehingga P2 dapat dijadikan sebagai ransum basal ternak pada penelitian
yang menggunakan metode in sacco. The in sacco method is often used to assess feed degradation, but the results can
be influenced by different flow rates (Kp) due to the composition of the feed given. In
addition, in sacco Effective Degradability (ED) calculations still use Kp assumptions
that have not been verified under tropical conditions. This study aims to evaluate the
effect of forage and concentrate balance in dairy cows on feed degradability using the
in sacco method and compare it with the in vitro gas test method as a more stable
standard. The study used three feed balance treatments (P1 = 60% forage + 40%
concentrate, P2 = 50% forage + 50% concentrate, P3 = 40% forage + 60% concentrate)
on Friesian Holstein (FH) dairy cows with fistulas. The results showed that total dry
matter intake did not differ significantly between treatments (P>0.05), but the treatment
affected forage intake, concentrate intake, and significantly (P<0.05) affected flow rate.
Corn had the highest degradation, elephant grass had the lowest, and the ration was
between the two. The highest in sacco ED value was in P1 and decreased as the
concentrate in the ration increased because the faster flow rate limited the fermentation
time in the rumen. The in vitro gas test method produced a more stable kinetic pattern
between treatments without the influence of flow rate, so it can be used as a comparison.
The correlation between the two methods showed that P2 provided the most consistent
results (positive relationship), so P2 can be used as the basal ration for livestock in
studies using the in sacco method.
Collections
- MT - Animal Science [1304]
