View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Human Ecology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Master Theses
      • MT - Human Ecology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Analisis Kualitas Diet berdasarkan GDQS, I-HEI, dan DQI-I serta Hubungannya dengan Status Gizi pada Remaja di SMPN 2 Ciomas Kabupaten Bogor

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (553.9Kb)
      Fulltext (1.114Mb)
      Lampiran (443.5Kb)
      Date
      2026
      Author
      Sardi, Lorita Amanda
      Kustiyah, Lilik
      Dwiriani, Cesilia Meti
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah gizi karena berada pada masa pertumbuhan pesat dan pembentukan kebiasaan makan jangka panjang. Rendahnya keragaman dan kualitas diet remaja di Indonesia berhubungan langsung dengan pola makan yang tidak sehat dan menjadi akar masalah rendahnya status gizi remaja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas diet remaja menggunakan Global Diet Quality Score (GDQS), modifikasinya untuk Indonesia (GDQS-I), Indonesian Healthy Eating Index (I-HEI), dan Dietary Quality Index for International (DQI-I) serta menguji hubungannya dengan status gizi. GDQS dikembangkan sebagai metrik diet yang ringkas dan sederhana, namun sensitif dan dapat digunakan secara global untuk menilai dua sisi malnutrisi, yaitu kekurangan zat gizi dan risiko penyakit tidak menular (PTM). Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada Agustus–September 2025 dengan melibatkan 61 siswa kelas 8 di SMPN 2 Ciomas, Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan data primer. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik subjek dan keluarga (sosial ekonomi dan demografi), data konsumsi makanan, kebiasaan atau preferensi makan, serta pengukuran antropometri untuk menentukan status gizi berdasarkan IMT/U. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis secara deskriptif dan inferensia. Analisis deskriptif mencakup nilai rata-rata/mean, simpangan baku, sebaran subjek berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi dan demografi keluarga, kebiasaan atau preferensi makan, status gizi, serta perbandingan metode penilaian kualitas diet atau komponen skornya. Analisis inferensia yang dilakukan yaitu uji distribusi data Kolmogorov-Smirnov, uji beda Wilcoxon dan uji korelasi Spearman. Sebaran subjek berdasarkan karakteristik sosial, ekonomi dan demografi keluarga menunjukkan bahwa sekitar separuh (59,0%) subjek pada penelitian ini berjenis kelamin perempuan dan tiga per empatnya (75,4%) berusia 13 tahun sehingga tergolong pada kelompok remaja awal. Berdasarkan aspek ekonomi, tiga per empat (75,4%) subjek memiliki uang saku untuk makan dan minum dengan kategori sedang (Rp 10.000-15.000/hari). Sekitar separuh (59,0%) remaja tinggal bersama orang tua dengan pola pengasuhan keluarga inti yang masih dominan. Dari sisi sosial ekonomi keluarga, pendidikan orang tua didominasi oleh SMA/sederajat (ayah 39,3%; ibu 29,5%), dan pekerjaan ayah terbanyak sebagai buruh atau petani (59,0%), sedangkan ibu tidak bekerja atau ibu rumah tangga (90,2%). Besar keluarga hampir tiga per empat subjek berukuran sedang (4–6 orang; 73,8%) dan rata-rata pendapatan keluarga keseluruhan sebesar Rp 1.436.475/kapita/bulan. Karakteristik ini menunjukkan bahwa sebagian besar subjek berasal dari keluarga berpendapatan menengah dengan tingkat pendidikan orang tua menengah dan pola hidup sederhana, yang dapat memengaruhi pola konsumsi dan kualitas diet remaja. Hasil penilaian dengan metode GDQS maupun GDQS-I menunjukkan bahwa kualitas diet mayoritas subjek masih tergolong rendah dan berisiko tinggi baik risiko malnutrisi maupun risiko terpapar penyakit tidak menular (PTM) di kemudian hari yaitu masing-masing 67,2% dan 96,7%. Sebagian besar subjek memiliki kualitas diet yang berada pada kategori perlu perbaikan (83,6%), sementara hanya 1,6% yang memiliki skor I-HEI kategori “baik” dengan rata-rata skor I-HEI keseluruhan adalah 63,85. Total 61 remaja yang menjadi subjek pada penelitian ini, semuanya (100%) memiliki kualitas diet dengan kategori buruk (=60%) dengan rata-rata skor hanya sebesar 45,5 pada DQI-I. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa kualitas diet remaja pada penelitian ini masih rendah dan perlu perbaikan baik dari segi kuantitas maupun kualitas makanan yang dikonsumsi. Ketiga metode penilaian kualitas diet yang digunakan pada penelitian ini yaitu GDQS, I-HEI, dan DQI-I memiliki dasar penilaian yang berbeda sesuai tujuan pengembangannya. Skor rata-rata kualitas diet yang dihasilkan oleh empat metode yaitu GDQS, GDQS-I, I-HEI, dan DQI-I menunjukkan variasi yang cukup besar. Perbedaan ini terjadi karena masing-masing metode memiliki komponen penilaian, sistem skoring, serta batasan kategori kualitas diet yang berbeda sehingga skor numerik antar-metode tidak dapat dibandingkan secara langsung. GDQS dan GDQS-I dapat menjadi alternatif metrik penilaian kualitas diet yang sederhana, mampu menangkap kualitas diet dari perspektif kecukupan zat gizi maupun risiko PTM, serta telah disesuaikan dengan pola konsumsi masyarakat Indonesia, namun tetap diperlukan penelitian lanjutan untuk menguji validitas dan konsistensi GDQS-I terhadap indikator gizi lainnya. Status gizi dari total 61 subjek, sebagian besar subjek memiliki status gizi baik, yaitu sebanyak 50 orang (82,0%), dengan rentang Z-score antara –2,0 hingga =1,0. Namun demikian, masih terdapat 18,0% subjek dengan status gizi tidak normal, terdiri atas gizi kurang (8,2%), gizi buruk (1,6%), gizi lebih (4,9%), dan obesitas (3,3%). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar subjek memiliki status gizi yang baik, masalah gizi ganda (double burden of malnutrition) masih menjadi isu yang perlu diperhatikan. Hasil uji korelasi antara kualitas diet dan status gizi menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas diet dan status gizi, baik berdasarkan skor GDQS (p = 0,683), GDQS-I (p= 0,185), I-HEI (p = 0,646), dan DQI-I (p = 0,399). Penting bagi remaja untuk meningkatkan kualitas diet dan pola makan remaja dengan memperbanyak konsumsi sayuran 2-3 porsi/hari, buah 3-4 porsi/hari, umbi-umbian berwarna 30-37 g/hari, sumber protein hewani dan nabati 2-4 porsi/hari, serta membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Selain itu, perlu dukungan berbagai pihak dalam peningkatan edukasi gizi bagi remaja, pemberian subsidi atau insentif harga agar pangan bergizi lebih terjangkau bagi keluarga berpenghasilan rendah, serta pelaksanaan intervensi gizi yang lebih terarah seperti program sarapan sehat berbasis sekolah, pelatihan literasi gizi bagi orang tua, pemanfaatan media digital untuk promosi pola makan sehat, dan pengaturan yang lebih ketat terhadap iklan makanan tinggi gula, garam, dan lemak yang menargetkan remaja.
       
      Adolescents are a vulnerable group to nutritional problems due to rapid growth and the formation of long-term eating habits. Low dietary diversity and poor diet quality among Indonesian adolescents are directly associated with unhealthy eating patterns and represent a fundamental cause of suboptimal nutritional status. This study aimed to assess adolescent diet quality using the Global Diet Quality Score (GDQS), its Indonesian adaptation (GDQS-I), the Indonesian Healthy Eating Index (I-HEI), and the Diet Quality Index–International (DQI-I), and to examine their associations with nutritional status. The GDQS was developed as a concise and simple dietary metric that is sensitive and globally applicable for assessing the dual burden of malnutrition, including nutrient inadequacy and the risk of non-communicable diseases (NCDs). This cross-sectional study was conducted from August to September 2025 and involved 61 eighth-grade students from SMPN 2 Ciomas, Bogor Regency. Primary data were collected, including subject and family characteristics (socioeconomic and demographic factors), dietary intake data, eating habits or preferences, and anthropometric measurements to determine nutritional status based on BMI-for-age (BMI/A). The data collected were processed and analyzed using descriptive and inferential statistical methods. Descriptive analysis included means, standard deviations, and distributions of subjects according to family socioeconomic and demographic characteristics, eating habits or preferences, nutritional status, and comparisons of diet quality assessment methods or their scoring components. Inferential analyses included the Kolmogorov–Smirnov test for data distribution, the Wilcoxon test for differences, and Spearman’s correlation test. The distribution of subjects based on family socioeconomic and demographic characteristics showed that approximately half of the subjects (59.0%) were female, and three-quarters (75.4%) were 13 years old, classifying them as early adolescents. From an economic perspective, three-quarters of the subjects (75.4%) received a moderate daily allowance for food and beverages (IDR 10,000–15,000/day). Approximately half of the adolescents (59.0%) lived with their parents in a predominantly nuclear family structure. Based on family socioeconomic characteristics, parental education was predominantly at the senior high school level or equivalent (fathers 39.3%; mothers 29.5%). Most fathers worked as laborers or farmers (59.0%), while the majority of mothers were unemployed or housewives (90.2%). Nearly three-quarters of families were of medium size (4–6 members; 73.8%), and the average household income was IDR 1,436,475 per capita per month. These characteristics indicate that most subjects came from middle-income families with moderate parental education levels and relatively simple living conditions, which may influence adolescents’ dietary patterns and diet quality. Assessment using both the GDQS and GDQS-I indicated that the majority of subjects had low diet quality and were at high risk of both malnutrition and future NCDs, with proportions of 67.2% and 96.7%, respectively. Most subjects had diet quality classified as “needs improvement” based on the I-HEI (83.6%), while only 1.6% achieved a “good” I-HEI score, with an overall mean I-HEI score of 63.85. Among all 61 adolescents, 100% had poor diet quality (=60%) according to the DQI-I, with a mean score of only 45.5. Overall, these findings indicate that adolescent diet quality in this study remains low and requires improvement in both the quantity and quality of food consumed. The three diet quality assessment methods used in this study; GDQS, I-HEI, and DQI-I are based on different conceptual frameworks according to their development objectives. The mean diet quality scores generated by the four methods (GDQS, GDQS-I, I-HEI, and DQI-I) showed substantial variation. These differences arise because each method employs distinct scoring components, scoring systems, and diet quality category thresholds; therefore, numerical scores across methods cannot be directly compared. GDQS and GDQS-I may serve as alternative, simplified diet quality metrics capable of capturing diet quality from the perspectives of nutrient adequacy and NCD risk, and they have been adapted to Indonesian dietary patterns. Nevertheless, further studies are needed to examine the validity and consistency of GDQS-I against other nutritional indicators. Based on nutritional status, all of the 61 subjects had normal nutritional status, with 50 adolescents (82.0%) falling within a BMI-for-age Z-score range of –2.0 to =1.0. However, 18.0% of subjects still exhibited abnormal nutritional status, including undernutrition (8.2%), severe undernutrition (1.6%), overweight (4.9%), and obesity (3.3%). This finding indicates that although most adolescents had normal nutritional status, the double burden of malnutrition remains a concern. Correlation analyses showed no significant associations between diet quality and nutritional status based on GDQS (p = 0.683), GDQS-I (p = 0.185), I-HEI (p = 0.646), or DQI-I (p = 0.399). It is essential for adolescents to improve diet quality and eating patterns by increasing the consumption of vegetables (2–3 servings/day), fruits (3–4 servings/day), colored tubers (30–37 g/day), and both animal and plant-based protein sources (2–4 servings/day), while limiting foods high in sugar, salt, and fat. In addition, multisectoral support is needed to enhance nutrition education for adolescents, provide subsidies or price incentives to improve access to nutritious foods for low-income families, and implement more targeted nutrition interventions. These interventions may include school-based healthy breakfast programs, nutrition literacy training for parents, the use of digital media to promote healthy eating behaviors, and stricter regulations on advertising of foods high in sugar, salt, and fat targeting adolescents.
       
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172007
      Collections
      • MT - Human Ecology [2407]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository