| dc.description.abstract | Masa remaja merupakan masa penting karena merupakan masa pertumbuhan cepat kedua, sehingga pemenuhan asupan energi dan zat gizi menjadi hal yang krusial. Sarapan berkontribusi sebesar 15–30% terhadap pemenuhan kebutuhan energi total, namun sebanyak 26,1% remaja di Indonesia melewatkan sarapan setiap harinya. Sarapan secara teratur dinilai dapat memperbaiki pola makan sehingga kebutuhan energi dan zat gizi tercukupi dengan baik, yang secara tidak langsung memberikan efek positif terhadap status gizi dan berpengaruh terhadap performa atau fungsi kognitif.
Di Indonesia masih belum banyak penelitian yang berfokus pada keterkaitan antara kebiasaan sarapan dengan performa kognitif, status gizi, dan prestasi akademik. Selain itu, penelitian terdahulu terkait kebiasaan sarapan dan performa kognitif lebih banyak dilakukan pada subjek anak sekolah dasar dibandingkan pada subjek remaja. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi, performa kognitif, dan prestasi akademik pada kelompok usia remaja. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study dan dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Cibungbulang, Kabupaten Bogor, dengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi subjek meliputi siswa kelas VII yang bersedia menjadi subjek penelitian dan mengikuti keseluruhan tahapan penelitian yang dibuktikan dengan penandatanganan lembar persetujuan (informed consent dan informed assent). Kriteria eksklusi subjek ialah tidak hadir pada saat pengumpulan data dan/atau mengundurkan diri karena alasan akademik atau lainnya. Penentuan subjek terpilih dilakukan berdasarkan izin dan arahan pihak sekolah, sehingga total subjek yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 55 siswa.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi karakteristik subjek, karakteristik sosial ekonomi keluarga, serta kebiasaan sarapan yang diperoleh melalui pengisian kuesioner self-administered yang diawali dengan penjelasan tata cara pengisian oleh peneliti. Data antropometri berupa berat badan dan tinggi badan dikumpulkan melalui pengukuran langsung, sedangkan data asupan diperoleh menggunakan food recall 2×24 jam. Data performa kognitif dikumpulkan menggunakan kuesioner Letter Cancellation Test (LCT) untuk atensi, Digit Letter Substitution Test (DLST) untuk kecepatan pemrosesan informasi, dan data prestasi akademik diperoleh dari nilai Ujian Tengah Semester (UTS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Spearman Rank, Mann-Whitney U Test, dan Independent t-test. Hasil uji statistik dinyatakan bermakna apabila p-value < 0,05 dan tidak bermakna apabila p-value > 0,05. Frekuensi sarapan sebagian besar subjek sudah terkategori baik dengan menu sarapan yang paling banyak dikonsumsi berupa makanan pokok saja. Rata-rata asupan energi, protein, lemak, dan karbohidrat pada waktu sarapan pada subjek yang memiliki kebiasaan sarapan baik signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak baik (p=0,000), namun tidak ditemukan perbedaan yang signifikan dalam total asupan harian energi dan zat gizi makro. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi sarapan dengan performa kognitif (atensi dan kecepatan pemrosesan informasi) serta prestasi akademik tidak menunjukkan hasil yang signifikan (p>0,05). Selain itu, hasil uji korelasi antara kontribusi energi dari sarapan dengan performa kognitif dan prestasi akademik juga menunjukkan hasil serupa (p>0,05). Sebagian besar subjek memiliki status gizi baik berdasarkan z-score IMT/U. Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi pada subjek (p<0,05). Sebaran subjek juga menunjukkan bahwa responden dengan frekuensi sarapan sering (=5 kali/minggu) memiliki proporsi status gizi baik yang lebih tinggi. Tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara status gizi dengan performa kognitif dan prestasi akademik (p>0,05). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara atensi dengan prestasi akademik (p=0,042), sedangkan kecepatan pemrosesan informasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan prestasi akademik. Sarapan secara tidak langsung memberikan dampak positif terhadap performa kognitif dan prestasi akademik. Oleh karena itu, disarankan adanya intervensi edukasi gizi kepada remaja, khususnya mengenai pentingnya sarapan bergizi dalam mendukung fungsi kognitif dan pencapaian akademik. Edukasi ini sebaiknya diintegrasikan ke dalam pembelajaran di sekolah serta diperkuat melalui program-program pemerintah agar dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan capaian kognitif dan akademik di kalangan remaja.
kunci: kebiasaan sarapan, performa kognitif, prestasi akademik, remaja, status gizi | |