Show simple item record

dc.contributor.advisorDjuita, Nina Ratna
dc.contributor.advisorSulistijorini
dc.contributor.authorNorantin, Artina Atri
dc.date.accessioned2025-08-15T13:41:41Z
dc.date.available2025-08-15T13:41:41Z
dc.date.issued2025
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/169521
dc.description.abstractKepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) merupakan tanaman penghasil buah yang tersebar di wilayah Asia Tenggara, termasuk Pulau Jawa. Di Pulau Jawa, kepel memiliki nilai historis karena dahulu menjadi buah favorit para puteri keraton, digunakan sebagai parfum alami, dan dijadikan simbol kekuatan oleh kerajaan. Atas dasar itu, penanaman kepel dulunya dibatasi hanya di lingkungan keraton atas perintah raja. Ciri khas buah kepel adalah aromanya yang harum serta kemampuannya memberikan efek tubuh yang wangi, termasuk pada keringat dan urin setelah dikonsumsi. Selain sebagai tanaman buah, berbagai penelitian terkini menunjukkan potensi farmakologis dari bagian-bagian tumbuhan kepel, terutama daun dan buahnya. Namun, berbeda dari buah-buahan komersial lainnya, kepel kini tergolong langka dan sulit dijumpai. Kondisi ini menjadikan kajian dasar mengenai keanekaragaman kepel khususnya variasi morfologinya, sangat penting sebagai langkah awal mendukung upaya konservasi ditambah dengan kajian ekologi. Sayangnya, hingga kini informasi ilmiah mengenai variasi morfologi kepel masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan menginventarisasi plasma nutfah kepel di Pulau Jawa dan menganalisis hubungan keserupaan fenetik berdasarkan variasi morfologinya, memetakan sebaran geografisnya, mengkaji faktor-faktor abiotik yang memengaruhi keberadaan dan variasi morfologi kepel, serta membangun model kesesuaian habitat kepel. Inventarisasi terhadap variasi morfologi kepel diharapkan dapat menjadi sumber informasi penting mengenai plasma nutfah sebelum populasinya semakin menyusut. Selain itu, data mengenai variasi morfologi dan hubungan kekerabatan fenetik antarindividu di Pulau Jawa dapat menjadi landasan untuk penelitian lanjutan, program konservasi, maupun pemuliaan tanaman. Analisis terhadap faktor abiotik, distribusi spasial, dan model kesesuaian habitat juga memberikan kontribusi penting dalam mengidentifikasi habitat yang optimal dan wilayah potensial bagi pertumbuhan kepel, sehingga pelaksanaan program konservasi yang sedang dan akan dilakukan dapat berlangsung lebih terarah dan efektif. Eksplorasi dilakukan di tiga provinsi di Pulau Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, mencakup 16 kabupaten. Sebanyak 54 individu pohon kepel berhasil dikoleksi dan diamati berdasarkan 51 karakter morfologi yang meliputi organ batang, daun, bunga, buah, dan biji. Data morfologi tersebut dikodekan dalam bentuk skor dan dianalisis menggunakan metode Unweighted Pair Group Method with Arithmetic Mean melalui program Numerical Taxonomy and Multivariate System versi 2.02i. Selain itu, data faktor abiotik dan koordinat geografis setiap titik pengamatan dicatat di lapangan untuk dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan Redundancy Analysis (RDA). Peta distribusi disusun dengan bantuan perangkat lunak QGIS versi 3.43.3, sedangkan analisis kesesuaian habitat dilakukan menggunakan pendekatan spasial berbasis model MaxEnt. Variasi morfologi kepel terlihat pada berbagai bagian tumbuhan, antara lain bentuk tajuk, panjang dan bentuk helaian daun, bentuk pangkal dan ujung daun, panjang tangkai bunga jantan dan betina, serta bentuk lingkaran dalam dan luar petal pada kedua jenis bunga. Selain itu, variasi juga tampak pada bentuk buah dan biji. Analisis fenetik menghasilkan dendrogram yang membagi seluruh aksesi ke dalam tiga kelompok utama dengan tingkat keserupaan fenetik berkisar antara 50–100%. Ketiga kelompok tersebut terutama dibedakan berdasarkan morfologi buah, khususnya bentuk dan ukurannya. Kelompok I memiliki buah berbentuk subglobose dengan ukuran paling kecil, Kelompok II memiliki buah berbentuk obovoid berukuran sedang, sedangkan Kelompok III juga berbentuk obovoid namun dengan ukuran buah yang paling besar. Peta distribusi memberikan visualisasi lokasi-lokasi keberadaan kepel, sehingga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses penemuan populasi di lapangan. Berdasarkan peta tersebut, kepel lebih banyak ditemukan di dataran rendah dibandingkan dengan dataran menengah hingga tinggi. Iklim mikro habitat pohon kepel di Pulau Jawa bervariasi. Hasil analisis PCA menunjukkan bahwa kelembapan udara, ketinggian, suhu, intensitas cahaya, dan kelembapan tanah merupakan faktor abiotik yang paling berpengaruh terhadap keberadaan kepel di Pulau Jawa, ditunjukkan oleh nilai eigen yang tinggi pada variabel-variabel tersebut. Hasil analisis RDA menunjukkan bahwa karakter panjang, diameter, bobot, bentuk buah, dan bentuk pangkal buah dipengaruhi oleh faktor lingkungan suhu udara, intensitas cahaya matahari dan suhu tanah. Sedangkan karakter panjang helaian daun, kerapatan tubercles, dan bentuk kanopi dipengaruhi oleh kelembapan udara. Selain itu, model kesesuaian habitat yang dibangun menggunakan pendekatan MaxEnt menghasilkan nilai Area Under Curve sebesar 0,909, yang menunjukkan akurasi model yang sangat baik. Wilayah yang teridentifikasi sebagai area yang sesuai untuk pertumbuhan kepel meliputi Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Batang, Klaten, Tulungagung, Blitar, Kediri, Jember, dan Banyuwangi.
dc.description.sponsorshipLembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleKeanekaragaman Morfologi dan Ekologi Habitat Kepel (Stelechocarpus burahol (Blume) Hook.f. & Thomson) di Pulau Jawaid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordMaxentid
dc.subject.keywordmorfologiid
dc.subject.keywordJawaid
dc.subject.keywordkepelid
dc.subject.keywordlangkaid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record