Kemiskinan dan Resiliensi Keluarga Nelayan Kecil di Pesisir Muara Gembong Kabupaten Bekasi
Abstract
Nelayan kecil merupakan komunitas paling rentan dalam sistem sosial
ekologis pesisir yang menghadapi berbagai tekanan struktural dan lingkungan.
Kemiskinan nelayan dapat bersifat multidimensional, dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti perubahan musim penangkapan, kerusakan sumber daya laut yang
meliputi rusaknya ekosistem terumbu karang, abrasi, dan pencemaran lingkungan.
Kapasitas armada dan alat produksi yang terbatas, akses modal yang terbatas, serta
relasi patron-klien yang mengekang akses terhadap pasar dan modal memperburuk
kerentanan. Selain itu, persaingan alat tangkap, kebijakan yang tidak berpihak pada
kepentingan nelayan kecil, serta keterbatasan aset ekonomi-politik juga turut
memengaruhi. Oleh karena itu, buffer capacity berbasis lima aset seperti modal
manusia, finansial, fisik, sosial, dan alam sangat penting sebagai strategi untuk
meningkatkan resiliensi keluarga nelayan kecil. Selain itu, nelayan juga perlu
membangun kapasitas untuk belajar (capacity for learning) dan kemampuan
mengorganisasi diri (self-organization) dalam merespons tekanan perubahan sosial
dan ekologis, terutama dalam menghadapi perubahan musim pada periode paceklik.
Tujuan penelitian adalah menganalisis kondisi kemiskinan keluarga nelayan kecil
berdasarkan tingkat pendapatan, pemenuhan kebutuhan dasarnya, serta faktor
penyebabnya. Penelitian ini juga menganalisis resiliensi keluarga nelayan kecil
dalam menghadapi perubahan musim, terutama pada periode paceklik. Sebab,
periode paceklik sangat menentukan stabilitas pendapatan keluarga nelayan.
Metodologi yang digunakan adalah paradigma konstruktivis dengan metode
kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah fenomenologi, yang
bertujuan untuk memahami secara mendalam pengalaman subjektif partisipan
terhadap fenomena yang dikaji. Unit analisis adalah keluarga nelayan kecil pemilik.
Data yang digunakan terdiri atas data primer dan data sekunder. Jumlah populasi
nelayan diambil dari buku Monografi Data Desa Presisi (DDP) Desa Pantai Bahagia
dan Desa Pantai Mekar Muara Gembong (Sjaf et al. 2022) yang mencatat 181
keluarga nelayan di Desa Pantai Bahagia dan 49 keluarga nelayan di Desa Pantai
Mekar. DDP mengklasifikasikan nelayan berdasarkan statusnya, yaitu nelayan
kecil pemilik dan nelayan buruh. Sebanyak 31 keluarga nelayan kecil pemilik
dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan Rp579.221/kapita/bulan (BPS
2022) dipilih sebagai sampel. Data primer kuantitatif dikumpulkan melalui sensus
terhadap sampel terpilih, sedangkan data kualitatif diperoleh melalui wawancara
mendalam dengan enam informan kunci. Data sekunder diperoleh dari DDP, studi
literatur, dan instansi terkait. Ada empat kategori nelayan kecil di pesisir Muara
Gembong, yaitu nelayan bubu, nelayan jaring kepiting/rajungan, nelayan jaring
insang, dan nelayan jaring.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan pada keluarga nelayan kecil
bersifat musiman. Pendapatan nelayan berada di atas garis kemiskinan saat musim
tangkap. Sebaliknya, saat musim paceklik, seluruh pendapatan keluarga nelayan
menurun drastis dan berada di bawah garis kemiskinan. Meski mayoritas keluarga
nelayan kecil mampu memenuhi kebutuhan dasarnya, dalam unsur pangan
ii
sebanyak 64,52% makan tiga kali sehari, sepertiganya (35,48%) masih tergolong
rawan pangan karena hanya makan dua kali sehari. Sebanyak 64,52% menjadi
peserta BPJS, namun 35,48% tidak menjadi peserta. Selain itu, 61,29% memiliki
sarana sanitasi (WC), sementara 38,71% masih tanpa sarana sanitasi. Dalam kondisi
fisik rumah, 67,75% sudah berlantai tegel atau keramik, tetapi sepertiga lainnya
masih menggunakan material tanah, semen, papan kualitas rendah, atau bambu.
Sebanyak 61,29% kepala keluarga nelayan memiliki pekerjaan sampingan,
sementara 38,71% tidak memiliki pekerjaan sampingan. Selain itu, 87% kepala
keluarga berpendidikan maksimal hanya sampai Sekolah Menengah Pertama
(SMP).
Kemiskinan nelayan kecil di Muara Gembong dipicu oleh faktor internal dan
eksternal yang saling memperkuat. Secara internal, keterbatasan armada kecil (2–3
GT), alat tangkap sederhana, dan akses modal finansial yang minim memaksa
nelayan bergantung pada pinjaman berbunga tinggi dari plele atau bank emok,
sehingga menghambat produktivitas dan investasi. Secara eksternal, kerusakan
ekosistem laut, abrasi, hilangnya mangrove, pencemaran, penggunaan alat tangkap
tidak ramah lingkungan, ketiadaan TPI inklusif, dan lemahnya penegakan regulasi
memperburuk hasil tangkapan serta posisi tawar nelayan. Relasi patron–klien
dengan plele menciptakan ketergantungan ekonomi dan sosial yang membatasi
kemandirian, sementara hambatan sistemik ini membuat kemiskinan sulit diputus
karena menutup akses terhadap sumber daya, pasar, dan peluang ekonomi
berkelanjutan.
Resiliensi keluarga nelayan kecil terhadap perubahan musim menunjukkan
belum adaptif sepenuhnya. Rendahnya tingkat pendidikan formal membatasi akses
terhadap informasi dan inovasi. Modal fisik terbatas karena mayoritas hanya
memiliki armada 1-3 GT dan satu jenis alat tangkap (80,65%), sehingga sulit
beradaptasi dengan perubahan musim. Modal finansial lemah, terlihat dari 35,48%
keluarga tanpa pekerjaan sampingan dan 48,39% tanpa tabungan, yang
meningkatkan ketergantungan pada hasil musim tangkap. Modal sosial juga rapuh
karena seluruh nelayan terikat dalam hubungan patron-klien yang mengurangi
otonomi ekonomi. Modal alam semakin tertekan akibat kerusakan ekosistem laut,
sementara modal kelembagaan lokal lemah terlihat dari hanya 9,7% yang
bergabung dalam koperasi. Dari perspektif resiliensi Speranza, self-organization
terbatas, hanya 48,4% yang terlibat dalam advokasi untuk peraturan larangan alat
tangkap destruktif, capacity for learning rendah, hanya 6,45% mengolah hasil
tangkapan, 12,90% yang memperluas wilayah tangkap, sehingga kemampuan
adaptif keluarga nelayan kecil terbatas untuk menghadapi guncangan musim.
Collections
- MT - Human Ecology [2399]
