Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Hubungan Stratifikasi Sosial dengan Diferensiasi Struktur Agraria (Kasus Komunitas Padi Sawah Kampung Pabuaran, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat)
Abstract
Struktur masyarakat agraris memberikan pengaruh pada pola hubungan sosial di kalangan anggota masyarakat agraris. Pola hubungan sosial ini akan bertumpu pada posisi para petani dalam hal penguasaan sumberdaya agraria (lahan), baik melalui mekanisme penguasaan tetap (pemilikan) atau penguasaan sementara. Diferensiasi struktur agraria yang ada akan merujuk pada keberadaan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang posisi penguasaan lahannya tidak sama.
Penelitian ini mengambil kasus komunitas padi sawah di Kampung Pabuaran, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor,
Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) melihat sejauhmana stratifikasi sosial mempengaruhi diferensiasi struktur agraria pada lokasi penelitian, dan 2) melihat sejauhmana pengaruh diferensiasi struktur agraria terhadap pola hubungan sosio-agraria yang akan terbentuk pada lokasi penelitian.
Penelitian ini menggunakan metode analisis kuantitatif dan kualitatif.
Responden diambil secara sengaja atau purposive dengan asumsi pemilihan lokasi merupakan salah satu wilayah yang menurut penulis dapat menjawab pertanyaan skripsi dan belum ada studi serupa yang dilakukan di lokasi tersebut. Alasan pemilihan lokasi juga diperkuat dengan pertimbangan bahwa lokasi merupakan desa yang masih menjadikan tanah sebagai basis untuk menggolongkan petani ke dalam suatu pelapisan sosial di tengah semakin banyaknya penduduk yang beralih mata pencaharian (bekerja) dari sektor pertanian ke sektor non-pertanian. Selain itu, tingginya migrasi (mobilitas) yang terjadi di desa membawa pada dampak
melunturnya hubungan sosio-agraria antar petani dan semakin banyaknya pula pranata-pranata sosio-agraria yang mulai ditinggalkan oleh petani di lokasi penelitian. Selanjutnya penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan keadaan masyarakat perdesaan, khususnya petani. Responden yang diambil dalam penelitian ini merupakan para petani pemilik lahan yang menyediakan lahannya untuk persawahan atau penggarap/tunakisma.
Desa Ciaruteun Ilir merupakan salah desa berbasiskan sistem pertanian agraris. Namun, tidak semua lapisan masyarakat bekerja di bidang pertanian. Sebagian lainnya memilih untuk bekerja di luar bidang pertanian seperti jasa dan transportasi. Masuknya kapitalisme membawa dampak perubahan yang sangat besar bagi kehidupan agraris di desa. Tingkat migrasi di lokasi penelitian termasuk ke dalam kategori tinggi. Data KCDA 2011 mencatat bahwa tingkat migrasi di lokasi penelitian relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan desa lain di tingkat kecamatan. Data Profil Desa Tahun 2010 mencatat bahwa jumlah petani dan buruh tani lebih kecil dibandingkan dengan jumlah pedagang. Jumlah petani dan buruh tani sekitar 320 jiwa sedangkan jumlah penduduk yang bekerja selain petani dan buruh tani sejumlah 1129 jiwa atau dengan kata lain hampir mempunyai perbandingan 1:3 antara keduanya. Khususnya di Kampung Pabuaran terdapat 377 KK dengan sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan non-pertanian. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena semakin berkurangnya lahan yang dimiliki oleh penduduk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan persawahan yang ada di dalam wilayah Kampung Pabuaran seluas 30 hektar dan pemukiman seluas tujuh hektar. Sejumlah 30% lahan persawahan yang ada di lokasi penelitian dikuasai oleh orang luar kampung dan sebesar 28,3% dari lahan tersebut di kampung hanya di kuasai oleh tiga orang tuan tanah dengan masing-masing penguasaan dan pemilikan 8,3%, 6,6% dan 13,3% dari keseluruhan tanah persawahan yang ada di lokasi penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa diferensiasi struktur agraria pada komunitas padi sawah Kampung Pabuaran dibangun oleh enam lapisan yang beragam, antara lain: lapisan petani pemilik, petani pemilik penggarap, petani pemilik+penggarap+buruh tani, petani penggarap, petani penggarap+buruh tani, dan lapisan buruh tani. Petani dengan luas lahan 0-0,24 hektar memiliki jumlah persentase terbesar yakni 51,62%. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah petani
