Pengaruh Keterlibatan Konsumen terhadap Proses Pengambilan Keputusan Pembelian Beras Kemasan 5 kg sampai 10 kg.
View/ Open
Date
2011Author
NISA, KHAERUN
YULIATI, LILIK NOOR
JOHAN, IRNI RAHMAYANI
Metadata
Show full item recordAbstract
Jumlah anak yang dimiliki oleh keluarga inti dari waktu ke waktu cenderung niengalami penurunan, hal ini memperlihatkan adanya perubahan bentuk keluarga. Saat ini keluarga didominasi oleh keluarga kecil yang hanya terdiri dari anggota inti. Hal ini mendorong keluarga sebagai konsumen untuk membeli beras dalam bentuk kemasan kecil (5 kg sampai 10 kg). Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan kebutuhan akan pangan dengan kebutuhan nonpangan yang senantiasa harus dipenuhi. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterlibatan terhadap proses pengambilan keputusan pembelian. Tujuan khusus penelitian ini, diantaranya: 1) mengidentifikasi keterlibatan konsumen dalam pembelian beras kemasan, 2) mengidentifikasi tahapan proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan, 3) menganalisis hubungan antara faktor internal dengan keterlibatan konsumen, 4) menganalisis hubungan antara persepsi dan keterlibatan dengan proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan, dan 5) menganalisis faktor yang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan.
Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive di Kelurahan Curug Mekar, Kecamatan Bogor Barat karena memiliki pasar retail yang menjual beras dalam bentuk kemasan. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni 2011. Populasi dalam penelitian ini adalah keluarga Kelurahan Curug Mekar. Metode pengambilan contoh yang digunakan adalah teknik non probability sampling berupa purposive sampling. Contoh yang dipilih adalah ibu rumah tangga (istri) yang telah lulus tahap screening terlebih dahulu, yaitu contoh telah atau sedang mengonsumsi beras kemasan dua bulan terakhir. Jumlah contoh yang diambil dalam penelitian ini adalah 110 dengan menggunakan rumus Slovin.
Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari pengisian kuesioner yang terdiri dari karakteristik contoh, karakteristik keluarga, keterlibatan contoh, dan proses pengambilan keputusan pembelian beras kernasan. Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber terkait. Data yang telah diperoleh kemudian diolah melalui beberapa tahapan, yaitu: editing, coding, scoring, entry, cleaning, dan analyzing dengan menggunakan MS. Excel 2007 dan SPSS 16.0. Analisis data dilakukan secara analisis deskriptif dan statistik. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisis secara deskriptif. Data diolah dengan menggunakan uji korelasi Spearman dian Pearson untuk melihat hubungan antar variabel. Uji regresi linier sederhana, berganda, dan uji regresi logistik digunakan untuk menganalisis pengaruh antar varibel serta mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan.
Secara umum usia contoh (57,3%) berada pada kategori dewasa madya (41-60 tahun). Lebih dari setengah contoh (47,3%) telah menempuh pendidkan $1. Pekerjaan PNS merupakan perkejaan terbanyak (47,3%) yang dimiliki oleh contoh dengan pendapatan total keluarga per bulan (34,5%) berkisar antara Rp 2.000.001,00 Rp 3.000.000,00 dan pengeluaran total pangan lebih dari Rp 2.000.000,00 (43,6%). Sebagian contoh (50.9%) mengeluarkan Rp 119.001,00 Rp 208.001,00 untuk mernbeli beras kemasan dalam sebulan dengan sebagian besar contoh (60,0%) membeli beras kemasan dengan harga kurang dari Rp 9.600,00. Keluarga kecil merupakan bentuk keluarga yang dimiliki oleh sebagian besar contoh (63,6%). Persepsi mengenai beras kemasan yang dimiliki oleh contoh sebagian besar (70,0%) berada pada kategori baik. Sebesar 82,7 persen contoh memiliki keterlibatan netral dalam proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan.
Sebagian besar contoh (89.1%) sudah mengenali kebutuhannya akan beras kemasan dan lebih dari setengah contoh (54,4%) kadang-kadang melakukan pencarian informasi mengenai beras kemasan. Evaluasi alternatif terhadap produk berns kemasan selalu dilakukan oleh sebagian besar contoh (61,8%). Pembelian beras kemasan terdiri dari beberapa perilaku pembelian, diantaranya: sebagian besar frekuensi pembelian beras kemasan adalah kurang dari tiga kali dalam sebulan (67,3%), ukuran beras kemasan yang diminati adalah beras kemasan dengan ukuran 5 kg (55,5%). Pasar retail modern adalah Lampat yang diminati oleh sebagian besar contoh (72,7%) untuk membeli beras kemasan. Atribut produk yang dijual merupakan alasan terbesar contoh dalam menentukan tempat pembelian (49,9%). Contoh telah mengonsumsi beras kemasan lebih dari satu tahun (68,1%). Ibu rumah tangga (istri) adalah penentu pembelian beras kemasan (78,1%) pada contoh penelitian ini. Lebih dari setengah contoh membeli beras kemasan tergantung pada situasi (59,0%) dan pembelian beras kemasan dilakukan secara teratur oleh contoh (60.1%).
Persepsi contoh mengenai beras kemasan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan keterlibatan contoh dalam proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan ( r = 0, 551 ; p<0,01). Persepsi contoh mengenai beras kemasan juga behubungan positif signifikan dengan setiap tahapan proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan, yaitu: pengenalan kebutuhan ( r = 0.539 ; p=0,000), pencarian informasi ( r = 0, 336 ; p 0,000), evaluasi alternatif ( r = 0, 257 ; p= 0,007), dan perilaku pembelian ( r = 0.345 ; p=0,000). Semakin baik persepsi mengenai beras kemasan, maka semakin tinggi keterlibatan contoh dan semakin baik contoh dalam proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan. Keterlibatan contoh dalam proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan pengenalan kebutuhan ( r = 0.432 ; p=0,000) dan perilaku pembelian beras kemasan ( r = 0.348 ; p=0,000). Setiap dalam proses pengambilan keputusan pembelian beras kemasan memiliki hubungan dengan tahapan lainnya.
Hasil uji regresi menunjukkan bahwa keterlibatan berpengaruh nyata terhadap pengenalan kebutuhan (p=0,000), evaluasi alternatif (p=0,058), dan perilaku pembelian (p=0,000). Faktor yang berpengaruh terhadap pengenalan kebutuhan adalah persepsi (p= 0,000) dan keterlibatan (p 0,037). Pencarian informasi dipengaruhi oleh persepsi (p= 0,008). Evaluasi alternatif dipengaruhi oleh pencarian informasi (p 0,000). Tahap terakhir proses pengambilan keputusan pembelian yaitu perilaku pembelian yang dipengaruhi oleh keterlibatan (p=0,050) dan pengenalan kebutuhan (p=0,031).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan dan pengaruh antara keterlibatan dengan perilaku konsumen, oleh karena itu konsumen disarankan untuk terlibat dalam berbagai perilaku konsumen salah satunya proses pemiselian suatu produk. Keterlibatan merupakan suatu bentuk perilaku konsumen yang mengiringi konsumen dalam melakukan perilaku konsumen lainnya. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya untuk memasukkan variabel keterlibatan dalam penelitian konsumen.
