Show simple item record

dc.contributor.advisorHidayati, Rini
dc.contributor.advisorPramudia, Aris
dc.contributor.authorApriyanti, Dwi
dc.date.accessioned2025-06-26T07:09:45Z
dc.date.available2025-06-26T07:09:45Z
dc.date.issued2010
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/163161
dc.description.abstractKekeringan adalah kondisi kekurangan pasokan air untuk memenuhi kebutuhan. Dalam bidang pertanian, kekeringan merupakan bencana terparah dibandingkan bencana lainnya. Peningkatan gejala dan intensitas kekeringan dalam kurun waktu terakhir berkaitan erat dengan perubahan atau pergeseran tata guna lahan (land use) yang mengakibatkan penurunan daya serap tanah disertai dengan meningkatnya penggunaan air tanah untuk berbagai kegiatan. Informasi ketersediaan air tanah dan informasi spasial tentang kekeringan atau kebasahan pada suatu wilayah yang dibuat berdasarkan karakteristik iklim serta sifat fisis tanah akan bermanfaat bagi rencana kegiatan pertanian guna memperkecil kerugian yang timbul akibat dampak kekeringan (BMG, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis derajat kekeringan pada beberapa stasiun hujan di Kabupaten Klaten, kemudian menginterpretasikan derajat indeks kekeringan tersebut secara spasial dalam bentuk peta dan pada tahap akhir dilakukan analisis hubungan antara curah hujan dengan nilai indeks Palmer pada beberapa jeda waktu. Kabupaten Klaten yang dipilih sebagai lokasi penelitian merupakan salah satu dari lima besar kabupaten penyangga beras di propinsi Jawa Tengah dengan produksi padi sawah per hektar sebesar 59,8 kw/ha dan padi gogo sebesar 27,2 kw/ha (BPS, 2006). Dampak kekeringan yang pernah dialami kabupaten Klaten pada tahun 2003 mengakibatkan 1.437 ha luas areal pertanian mengalami kekeringan, dimana 340 ha areal dinyatakan puso. Curah hujan rata-rata tahunan kabupaten Klaten tercatat sebesar 1621 mm per tahun. Berdasarkan sistem klasifikasi Oldeman kabupaten Klaten termasuk daerah dengan tipe iklim D3 dengan kejadian 3 bulan basah dan 6 bulan kering, dimana pada daerah dengan tipe iklim tersebut hanya mungkin dilakukan satu kali penanaman padi atau palawija dalam setahun, tergantung pada adanya persediaan air irigasi. Data curah hujan dianalisis menggunakan analisis kekonsistenan untuk melihat perubahan pola curah hujan bulanan dan musiman. Seluruh stasiun penakar hujan dikelompokkan berdasarkan tingkat kesamaan pola curah hujan dengan menggunakan analisis klaster. Perhitungan nilai indeks kekeringan dalam penelitian ini menggunakan metode Palmer. Parameter yang digunakan dalam metode ini adalah curah hujan, kapasitas air tersedia dan suhu untuk menentukan evapotranspirasi potensial. ...
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Sebaran Indeks Palmer di Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengahid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordDroughtid
dc.subject.keywordPalmer indexid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record